Posts Tagged Industri Tuban

Kenapa Tuban Tidak Bisa Menarik Investor?

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Tuban, Dr. H. Hadi Tugur, SE, M.Pd, berpendapat, regulasi menjadi penghambat perkembangan investasi di Tuban. Pendapat itu disampaikan saat jurnalberita.com menghubunginya, Kamis (13/1/2011). Menurut Hadi Tugur, Peraturan Daerah (Perda) yang terkait investasi memberatkan pihak investor, karena jangka waktu berinvestasi menurut Undang-undang selama 20 tahun, namun dalam Perda Kabupaten Tuban investor diwajibkan mengadakan pembaharuan ijin setiap 5 tahun.

Baca entri selengkapnya »

, , , , , ,

1 Komentar

Tuban, Bojonegoro dan Lamongan Dijadikan KEK

Monday, 27 September 2010 22:51 Media Online Bhirawa
Pemprov, Bhirawa
Kabupaten Tuban, Bojonegoro dan Lamongan diusulkan Pemprov Jatim menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK). Ketiga kabupaten tersebut bisa diajukan tetapi harus melengkapi beberapa persyaratan kuat.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Jatim H Soekarwo ketika menerima Badan Legislatif DPRD Provinsi Jatim, di ruang Kertanegara, Kantor Gubernur Jawa Timur, Jl. Pahlawan 110, Surabaya (11/9).

Baca entri selengkapnya »

, , ,

Tinggalkan komentar

Goa Wonoarum Terancam

Kamis, 18 Maret 2010 | 11:55 WIB

TUBAN-Direktur Lembaga Konservasi CAGAR, Drs Edy Thoyibi, SH, S.Ag, SE, mensinyalir adanya ancaman yang ditimbulkan aktivitas tambang PT Semen Gresik (Persero), Tbk (PT SG), terhadap goa Wonoarum, Dusun Tlogongasem, Desa Temandang, Kecamatan Merakurak.

Hasil penelitian CAGAR bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal ) Universitas Ronggolawe (Uniro) Tuban yang dirilis Rabu (17/3), menemukan retakan-retakan pada dinding goa yang mengancam rusaknya stalagtit dan stalagmit, termasuk lima pilar penyangga goa itu.

“Satu pilar bahkan sudah patah,” kata Edy Thoyibi.

Menurut Edy Thoyibi, aktivitas eksploitasi bahan tambang dengan menggunakan peledakan yang dilakukan PT SG menjadi sebab rusaknya goa tersebut. Sebab kendati jarak antara Goa Wonoarum dengan lokasi peledakan relatif jauh, namun getarannya

mampu menembus radius 1 Km lebih, sehingga sangat mungkin berpengaruh pada Goa Wonoarum.

Edy Thoyibi berharap PT SG tidak menggunakan bahan peledak untuk eksploitasi tambangnya, agar tidak mengancam kelestarian goa Wononarum. “Goa ini termasuk langka karena termasuk jenis goa fosil. Jadi sudah sepatutnya dilindungi,” kata Edy Thoyibi.

Informasi yang dihimpun Surabaya Post, Goa Wonoarum tersebut diketahui pertama kali oleh Sadak (53), petani warga setempat, pada 1996 lalu. Lokasinya berada di luar area tambang PT SG. Sadak tercatat sebagai pemegang hak milik lahan tersebut.

Menurut Tarsipin (36), warga setempat, saat temuan goa tersebut dilaporkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban telah menetapkannya sebagai tempat yang dilindungi. Bahkan Pemkab Tuban membuka untuk umum goa tersebut.

“Tapi nggak tahu kok kemudian goa itu tidak dibuka lagi,” kata Tarsipin.

Tarsipin mengakui banyak ornamen goa yang rusak. Ia juga menduga peledakan tambang PT SG yang menjadi penyebabnya.

Tarsipin mengaku menyayangkan rusaknya goa Wonoarum tersebut, karena seharusnya goa itu bisa menjadi asset berharga yang berpengaruh pada pendapatan warga sekitar. “Kalau goa itu dilestarikan dan dibangun sebagai tempat wisata, kan warga dapat manfaat ekonomisnya,” tambah Tarsipin.

Sementara itu Kepala Divisi Komunikasi PT SG, Saifudin Zuhri membantah jika rusaknya goa Wonoarum akibat peledakan tambang PT SG. Menurut Saifudin Zuhri, PT SG telah menerapkan sistem peledakan tunda (delay blasting), dan hanya

menimbulkan getaran 3 mm per detik.

“Getaran yang ditimbulkan sangat rendah. Bandingkan, getaran yang ditimbulkan dum truck saja mencapai 7 mm per detik. Jadi saya tidak yakin kalau rusaknya goa itu akibat getaran peledakan tambang PT SG,” jelas Saifudin. bek (Dikutip dari Surabaya Post, 19 Maret 2010).

, ,

Tinggalkan komentar

JOB PPEJ Wajib Bertanggungjawab

TUBAN-Usulan relokasi SDN Rahayu, Kecamatan Soko karena terkena dampak flare pit pengeboran minyak Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ) memantik perhatian serius anggota DPRD Tuban. Komisi C yang membidangi masalah ini mengagendakan inpeksi mendadak (sidak) di Mudi.

”Kita nggak akan hearing, namun kita akan kesana menanyakan kesanggupan JOB P-PEJ terjadap usulan relokasi itu,” kata wakil ketua komisi C DPRD, Muhammad Musa ketika dikonfirmasi kemarin (15/3). Sebab, munculnya usulan ini karena dampak dari produksi itu. ”Petrochina wajib bertanggung jawab,” tegas politisi asal Partai Golkar ini.

Ketua KTNA Tuban ini menambahkan, permasalahan ini harus segera terselesaikan, sehingga tidak muncul gejolak yang ada.

Diberitakan, warga Desa Rahayu menuntut agar SDN setempat direlokasi. Sebab, aktivitas belajar mengajar terganggu dengan flare pit milik JOB P-PEJ yang jaraknya tidak jauh dari pusat flare pit. (zak) (Dikutip dari Radar Bojonegoro, tanggal 16 Maret 2010).

, , , , ,

Tinggalkan komentar

UNTUNG RUGINYA PEMDA TUBAN MEMBERI IJIN INVESTASI DI BIDANG MIGAS

 

Akhir – akhir ini marak diberitakan di koran kalau ijin dari Pemda Tuban untuk pemasangan pipa minyak dari Lapangan Mudi di Soko ke Palang sejauh lebih kurang 38 km belum diberikan, namun pihak JOB Pertamina – Petrochina tidak mengindahkan itu dan mereka tetap melaksanakan proyek itu dengan di kawal aparat kepolisian. Dan rupanya kengototan JOB Pertamina – Petrochina itu di back up penuh oleh BPMIGAS dan Ditjen Migas. Karena jalur pipa yang sedang dipasang akan digunakan juga oleh Mobile Cepu Ltd.(MCL) untuk mengalirkan minyak dari lapangan mereka di Blok cepu ke lepas pantai Tuban untuk di tampung di FSO (Floating Storage and Offloading) yang berada di utara Palang.

Sebenarnya apa kerugian Pemda Tuban memberikan ijin pemasangan pipa tersebut? Kalau dilhat dari berita yang beredar bahwa kengototan Pemda Tuban karena banyak masyarakat Tuban, Plumpang khususnya yang masih keberatan dengan ganti rugi yang akan diberikan oleh pihak JOB Pertamina – Petrochina. Namun kenyataannya sekarang ini masyarakat Plumpang yang diliwati pipa ini sudah menyetujui besaran ganti rugi yang diberikan. Kalau faktanya begitu, terus apa lagi maunya Pemda Tuban.
Baca entri selengkapnya »

3 Komentar

Tuban Bakal Jadi Kawasan Ekonomi Khusus, Basis Pertumbuhan Industri 30 Tahun ke Depan

Kamis, 19 Maret 2009 | 8:45 WIB | Kategori: Ekonomi & Bisnis | ShareThis

SURABAYA | SURYA -Kabupaten Bojonegara, Banten dan Tuban, Jatim, akhirnya disepakati untuk diuji coba sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) dalam RUU KEK yang ditargetkan rampung Oktober 2009.

 

Penegasan itu disampaikan Muhammad Lutfi, selaku Ketua Tim Pelaksana KEK, saat meninjau Kawasan Industri Maspion Unit V, Rabu (18/3). “Yang mengajukan lebih dari 40 kawasan, namun hanya sekitar 17 provinsi yang setelah dievaluasi siap menjadi KEK,” kata Lutfi.

Namun, menurut Lutfi, ke-17 provinsi itu masih belum memenuhi persyaratan 100 persen, sehingga perlu diproses lagi sambil menunggu UU selesai.

RUU tentang KEK disampaikan ke DPR RI pada 29 Agustus 2008. Sejauh ini, DPR telah membentuk Panitia Khusus (Pansus) terkait KEK. Usulan RUU KEK ini dimaksudkan untuk memenuhi ketentuan Pasal 31 UU No 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

“Alasan mengapa Bojonegara-Banten dan Tuban ditetapkan sebagai KEK, karena sesuai cetak biru pembangunan Indonesia. Keduanya adalah basis pertumbuhan industri untuk jangka waktu 30 tahun ke depan,” kata pria yang juga Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini.

Jika 30 tahun lalu pembangunan Indonesia terkonsentrasi pada pangan, maka 30 tahun ke depan terkonsentrasi pada industri kilang dan pertambangan. Kedua kilang pertamina itu memiliki kapasitas produksi paling besar, sekitar 330.000 barel/hari. Sedang kilang Tuban mencapai 200.000 barel/hari.

Lutfi mengatakan, sebetulnya ada satu lagi kilang Pertamina di Balongan Jawa Barat, namun kapasitas produksinya kecil sekitar 125.000 barel/hari. Klaster industri petrokimia Banten berbasis olefin, untuk industri petrokima Tuban berbasis aromatik.

Alasan lain, sektor industri kilang minyak ini nantinya bisa menurunkan 42 sektor turunan dengan serapan lapangan kerja tak kurang dari 930.000 orang. “Meski investasinya cukup besar Rp 4,4 miliar, namun hasil yang didapatkan juga cukup bagus,” imbuhnya.

Dua KEK itu akan dimatangkan minggu depan. “Secara konstruksi perkilangan, keduanya baru mulai beroperasi sekitar 42 bulan lagi atau jangka 4-5 tahun ke depan yakni pada 2014,” kata Lutfi, yang menambahkan untuk pengelolaan selanjutnya akan diserahkan ke pemda bersangkutan. ame

Baca entri selengkapnya »

,

Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.