Di Balik Pertemuan Kyai NU di Langitan (1)

Naik Busnya Berbeda, Tetapi Rumahnya Tetap NU
Reporter : Abdul Qohar

Tuban – Ada banyak pertanyaan dari para warga nahdliyin (warga NU), kenapa pertemuan para Kyai Khos Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Ponpes Langitan, Desa/Kecamatan Widang, Tuban ?

Apalagi dalam pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi dan sejumlah ulama besar NU, termasuk tuan rumah Pengasuh Ponpes Langitan, KH Abdullah Faqih.

Informasi yang dihimpun beritajatim.com di lapangan, Senin (27/4/2009) menyebutkan, kalau pertemuan puluhan kyai khos pada Sabtu (25/4/2009) dan juga dihadiri ratusan warga nahdliyin itu hanya untuk menyatukan warga NU yang tercerai berai saat Pilgub maupun Pileg.

Tidak ada penyatuan aspirasi politik ke salah satu parpol maupun golongan tertentu. Hal itu sejak awal sudah di katakan oleh Mbah Faqih, sebelum pertemuan berlangsung.

Dalam wasiatnya, Mbah Faqih menegaskan, warga NU jangan sampai tercerai berai. Boleh berbeda pandangan politik, tetapi haruslah tetap menjadi satu.

“Boleh saja naik bus berbeda, namun tetaplah rumahnya adalah NU. Jadi bus kembalinya ke rumah asal,” kata Mbah Faqih.

Bus diatas digambarkan oleh Mbah Faqih sebagai kendaraan politik para petinggi NU yang berbeda-beda. Namun, hal itu tidak mempengaruhi eksistensi mereka di NU.

“Yang pasti, orang NU tidak lupa rumahnya,” lanjut Mbah Faqih yang juga Mustasyar PBNU tersebut.

Ditegaskan, kalau pertemuan yang mempunyai tema “Menyikapi Paham Dan Pemikiran Islam Liberal” itu jauh dari nuansa politik.

Hal itu juga dikatakan Wakil Rois Syuriyah PWNU Jatim, KH Abdul Matin. Kyai yang juga pengasuh Ponpes Sunan Bejagung Tuban itu menegaskan, kalau tidak ada satu niatan untuk membawa warga NU kesalah satu parpol yang ada.

“Sejak awal memang tidak ada niatan untuk membawa warga NU ke salah satu parpol. Hal itu juga banyak disampaikan Mbah Faqih,” tegasnya.

Yang benar dari pertemuan tersebut adalah untuk menyatukan kembali para kyai khos NU yang berbeda pandangan politik untuk tetap menjadi satu.

“Satu kata dalam hal ini adalah NU. Atau kembali ke khittah NU,” tegas pria yang juga tokoh NU di Kabupaten Tuban ini.

Seperti diketahui, selama ini dinilai para kyai NU pecah dalam berbagai pemikiran politik. Namun, sejatinya hanya pendangan sementara dan nantinya juga akan kembali ke NU sebagai rumah awalnya.dikutip dari  beritajatim.com by Khozanah 02 Mei 2009

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: