Sketsa Pemilu 2009

Jual Beli Suara dan Perusakan Moral Rakyat
Didik Supriyanto – detikPemilu

Jakarta – Melihat para caleg bagi-bagi uang, caleg lain tak mau ketinggalan. Takut kalah, padahal uang bukan jaminan kemenangan. Pemimpin partai yang memerintahkan caleg dan partainya membeli suara, adalah pemimpin yang paling bejat moralnya.

Selain soal banyaknya penduduk yang mempunyai hak pilih tetapi tidak bisa memilih akibat amburadulnya DPT, soal politik uang yang terjadi dalam pemilu legislatif lalu, sungguh sangat memprihatinkan. Sangat masif dan terjadi di mana-mana.

Politik uang yang saya maksud adalah pemberian uang dari calon anggota legislatif (caleg) dan atau partai peserta pemilu kepada pemilih dengan tujuan untuk merebut suara pemilih. Singkatnya, jual beli suara. Aksi jual beli suara ini berlangsung selama masa kampanye hingga detik-detik terakhir sebelum pemungutan suara.

Seorang mantan kepala desa di Jawa Timur menuturkan perbedaan politik uang atas tiga pemilu masa reformasi yang terjadi di desanya. Katanya, “Pemilu 1999 ada bagi-bagi uang tetapi tidak sebanyak yang dilakukan Golkar pada zaman Orde Baru. Ya sekadar uang ganti ongkos kampanye.”

“Pemilu 2004, uang tak hanya dibagikan kepada mereka yang ikut kampanye, tetapi juga mereka yang dianggap sebagai anggota atau simpatisan partai. Seperti tali pengikat, satu orang dapat uang dari satu partai,” katanya sambil menegaskan bahwa pemberian dilakukan oleh masing-masing partai besar.

“Pemilu 2009 ini pelakunya bertambah, setiap penduduk menerima uang paling tidak tiga kali: pertama, dari caleg yang nilainya berbeda-beda; kedua, dari partainya masing-masing; ketiga, dari satu partai yang membagikan uang kepada penduduk se-desa, tak peduli apakah orang itu anggota, simpatisan atau bukan.”

Saya termasuk orang yang tidak percaya, bahwa uang berhasil menaklukkan pemilih untuk menyalurkan suaranya kepada si pemberi. Pemilu 1999, Golkar disebut-sebut mengeluarkan dana banyak, tetapi ternyata kalah. Demikian juga dengan PDIP pada Pemilu 2004. Data pilkada menunjukkan di Jawa 40% incumbent tidak terpilih, sedang di luar Jawa mencapai 60%. Padahal incumbent dikenal royal uang.

Hasil survei CSIS juga menegaskan hal itu: hanya 15% orang yang menerima uang akan memberikan suaranya kepada pemberi uang. Lainnya, tetap memilih berdasarkan pilihan hatinya. Lagipula, kalau seorang pemilih menerima uang dari dua atau lebih caleg/partai, toh dia tetap hanya bisa menjatuhkan satu pilihan.

Kembali ke cerita mantan kepala desa tadi. Ketika saya tanya, partai mana yang membagikan kepada setiap penduduk, tak peduli bahwa penduduk itu anggota, simpatisan atau bukan, dia tidak menjawab. Tapi, apakah pertai tersebut menang, atau meraih suara terbanyak di desa itu? Mantan kepala desa tadi membenarkannya.

Saya tetap pada pendapat, bahwa kemenangan partai yang membagikan uang kepada setiap penduduk di desa tersebut, bukan semata-mata disebabkan oleh aksi bagi-bagi uang yang dilakukannya. Masih ada faktor lain, seperti pengaruh tokoh partai dan keefektifan kampanye di media massa.

Namun, saya sudah bisa memastikan, aksi partai yang membagikan uang secara masif tersebut jelas-jelas telah merusak moral rakyat. Aksi mereka seakan membenarkan bahwa pemilu identik dengan bagi-bagi uang. Jual beli suara bisa dilakukan oleh siapa saja yang punya banyak dana.

Para caleg atau aktivis partai yang membagi-bagikan uang, tentu saja masuk kategori orang-orang yang tidak punya adab politik. Tentu saja, pemimpin partai yang memutuskan agar caleg dan partainya membagi-bagikan uang kepada rakyat, adalah pemimpin yang paling bejat moralnya.

*) Didik Supriyanto adalah Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) ( diks / asy ) . Dikutip oleh Khozanah 2 Maei 2009 dari detik.com.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: