Caleg Perempuan Kalah Modal

Senin, 04 Mei 2009

KUDUS- Minimnya perolehan suara calon anggota legislatif (caleg) perempuan pada Pemilu 2009 kemarin disebabkan kurangnya modal sosial dan dana. Terbukti, jejaring yang dimiliki melalui basis organisasi massa perempuan belum sepenuhnya bisa memilih caleg sesama kaumnya. Selain itu ada ketidaksiapan politisi perempuan bersaing dengan caleg-caleg lain.

Demikian dikatakan Ketua Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Kudus Malaiha Dewi S Sos, M Si dan Sekretaris Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) kabupaten Kudus di Kudus Jum?at (1/5) kemarin menanggapi hasil Pemilu 2009 yang kurang menguntungkan caleg perempuan.

Lebih jauh Malaiha Dewi yang juga Dosen STAIN Kudus ini menilai kekalahan tersebut akibat caleg perempuan kurang optimal memanfaatkan jejaring organisasi atau massa untuk sosialisasi pencalonannya. Selain minimnya dana yang dimiliki, perempuan masih mengalami kendala waktu dan tenaga.

?Persoalannya , sekarang ini perempuan masih terbentur dengan double burden (peran ganda) sebagai publik figur maupun domestik. Sehingga waktu melakukan sosialisasi pada konstituen kurang optimal dan akhirnya tidak memperoleh dukungan,? tandas Malaiha.

Pada mulanya, tambah wakil ketua PC Fatayat NU Kudus ini, asumsi adanya perempuan di parlemen akan meningkatkan kualitas hidupnya. Namun berdasar penelitian lembaganya, selama 5 tahun kemarin kinerja dewan perempuan belum mampu tingkatkan kebutuhan dan kepentingan perempuan.

?Meski minim di parlemen, kita tidak perlu khawatir, kita masih punya jalan dalam memperjuangkan hak-hak politik. Kita bukan mementingkan jenis kelaiminnya, toh sekarang sudah banyak anggota dewan laki-laki yang sensitif dan mainstrem perempuan, ? kata Malaiha Dewi.

Sementara Faizah mengatakan sejak munculnya keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengubah sistem pemilu dengan suara terbanyak, sudah menjadi tantangan yang paling berat dalam peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen. Kebanyakan para caleg perempuan tidak siap berpolitik maupun bersaing dengan caleg-caleg lain terutama dengan non perempuan.

?Kita menyadari, politisi perempuan memang sedikit yang siap bersaing. Hal ini karena kurang matang pemahaman berpolitiknya. Belum lagi kaderisasi partai yang saat ini masih bias gender, indikasinya perempuan?perempuan yang duduk di posisi strategis partai terbatas. Akibatnya, dalam setiap pergulatan politik termasuk dalam pemilu kemarin, perempuan selalu kalah dalam pertarungan,? kata Faizah. (nuo) – Dikutip oleh Khozanah dari Duta Masyarakat.com 05 Mei 2009.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: