Moral Politik Bangsa Telah Rusak

Selasa, 12 Mei 2009
KH Hasyim Muzadi
JAKARTA-Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, bangsa Indonesia kini mengalami penurunan moral politik yang telah masuk pada tahap sangat mengkhawatirkan. Hal itu bisa dilihat dari pelaksanaan Pemilu Legislatif (Pileg) lalu di mana uang menjadi faktor utama yang menentukan pilihan masyarakat.

?Moral politik bangsa kita telah rusak. Bayangkan, orang memilih bukan karena kesadaran berpolitik, tapi karena besar atau kecilnya uang yang diberikan,? kata KH Hasyim Muzadi dalam acara journalist meeting dan diskusi bertajuk ?NU dan Politik Kebangsaan? di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (11/5) kemarin.

Menurut pengasuh pondok pesantren Al- Hikam Malang ini, para pemimpin bangsa telah memberikan pelajaran politik yang tak baik kepada rakyat. Rakyat, katanya, disuguhi dengan permainan politik yang tak mencerdaskan. ?Ada (caleg/partai) memberikan uang Rp 25 ribu dan pada serangan fajar ada yang ngasih lebih tinggi, maka yang lebih tinggi itulah yang dipilih. Ini kan tidak baik. Pikiran rakyat yang penting dapat uang, sementara pemimpin yang penting dapat suara,? jelasnya.

Ke depan, jelasnya, cara berpolitik seperti itu akan semakin merusak moral politik bangsa. Selain itu, lanjutnya, pemimpin yang dipilih dengan cara seperti itu tak akan memberikan manfaat kepada rakyat. ?Jadi sulit berharap bangsa ini ke depan akan semakin baik,? ungkap mantan Ketua PWNU dan PW GP Ansor Jatim ini.

Dikatakannya, masalah itulah yang kini sedang dihadapi NU. Sebagai organisasi keagamaan, katanya, NU memang harus memperjuangkan moral politik, tapi pihak-pihak yang berkepentingan dengan kekuasaan berada pada posisi berlawanan. ?Karena warga NU itu banyak yang miskin, maka merekalah yang menjadi korbannya,? katanya.

Penjaga Moral

Sementara itu, pengamat politik pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli, mengingatkan elite politik agar mereka kembali memperhatikan nasib rakyat. Ia melihat manuver elite parpol belakangan ini hanya mengarah pada bagi-bagi kekuasaan semata, bukan demi kemajuan rakyat. ?Yang saya lihat, apa yang terjadi saat ini cenderung hanya bagi-bagi kekuasaan,? katanya.

Karena itu, kata Lili, sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar, NU harus menegur para elite politik demi tegaknya moralitas politik. ?NU harus memainkan (fungsi) ?high politic?-nya, yaitu sebagai penjaga moral bangsa. NU harus tampil ke depan untuk mengingatkan mereka (elite politik),? jelas pengamat yang mengaku berasal dari NU Banten ini.

Disadari atau tidak, lanjut Romli, rakyat sebenarnya kecewa melihat perilaku elite yang belakangan lebih sibuk memikirkan koalisi ketimbang mengurus permasalahan yang terjadi pada Pileg lalu. ?Saya rasa rakyat juga jenuh melihat apa yang terjadi belakangan ini. Rakyat tentunya kecewa,? katanya.

Lebih lanjut, Lili mencontohkan manuver sejumlah parpol yang sempat mempermasalahkan kekacauan dalam Pileg. Kasus Pileg itu, katanya, seolah menghilang seiring dengan ramainya isu koalisi. ?Saya kira, dalam minggu-minggu ini, Pak Hasyim harus membuat konferensi pers untuk mengingatkan para elite politik itu. Kalau tidak, rakyat yang sekarang sudah kecewa ini akan semakin muak dengan perilaku elite itu,? katanya.

Di tempat yang sama, Laode Ida mengatakan, fungsi NU sebagai penjaga moral bangsa memang harus dijalankan. ?NU tidak boleh diam. NU haru pula melakukan gerakan untuk menjalankan fungsinya dalam bentuk tekanan-tekanan politik. Sebagai penjaga moral bangsa, NU juga harus melakukan gerakan-gerakan,? katanya.

Hal senada diungkapkan Yudi Latif. Sebagai organisasi kemasyarakatan, NU harus bisa menjadi ?penjaga moral? bangsa. Ia menyarankan NU agar bisa meniru gerakan pemimpin spiritual Mahatma Gandhi di India. ?Di India, ada Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India ke-1) yang merupakan pemimpin politik dan ada (Mahatma) Gandhi sebagai pemimpin civil society. Sampai sekarang, urusan moralitas di India, masih dipimpin Gandhi,? kata Yudi.

Posisi NU yang tidak berpolitik praktis, kata Yudi, sangat tepat untuk memposisikan diri seperti Mahatma Gandhi. Namun, lanjut Yudi, harus menjaga batas antara politik praktis dan politik kebangsaan. Sebab, sekali NU masuk ke wilayah politik praktis, sulit untuk kembali pada posisi semula sebagai penjaga moral. ?Akibatnya pula, fungsi penjaga moral bangsa seperti yang dicita-citakan semula tidak terjadi,? jelas mantan aktivis IPNU ini.

Dikatakan Yudi, untuk menempati posisi penjaga moral itu, harus pula diimbangi dengan gerakan politik, meski bukan politik kekuasaan. ?NU tidak bisa tinggal diam jika melihat penyimpangan dalam wilayah politik praktis. NU harus melakukan tekanan-tekanan tertentu pada kekuasaan yang dianggap mulai menyimpang,? katanya.

Menanggapi hal itu, Laode Ida menambahkan, NU sebaiknya menyerahkan wilayah politik praktis, pada yang memang berwenang, yakni partai politik. Berdirinya PKB, katanya, sebenarnya merupakan strategi yang bagus. Sayangnya, strategi itu akhirnya tidak efektif karena hampir seluruh potensi NU terserap ke wilayah politik praktis. ?Terutama saat Gus Dur (Abdurrahman Wahid) menjadi presiden, semua masuk politik,? katanya.

Dikatakannya, strategi NU itu menjadi semakin tak efektif sebab PKB yang dibentuk NU berkali-kali mengalami konflik internal. ?Akibatnya, kekuatan NU tercerai-berai. NU dianggap sangat rapuh dan tidak bisa dijadikan modal sosial untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa,? jelasnya. (amh) (Dikutip dari Duta Masyarakat Online by Ana Ridwan – 12 Mei 2009)

Iklan

  1. #1 by ambis on Mei 12, 2009 - 11:08 pm

    Kenyatannya para masyarakat yg mengaku sebagai warga NU juga mengharapkan “politik uang” saat Pileg kemarin, makanya para kyai dan ulama harus
    memberi pengertian ke mereka bahwa “money politik” itu tidak bagus, merusak moral dan dosa karena itu tergolong sogok meyogok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: