Nikah Sirri Berdampak Negatif Pada Masa Depan Anak

Hingga kini nikah sirri sudah menjadi fenomena masyarakat namun kebanyakan mereka melakukannya tanpa memikirkan dampak bagi masa depan anak. Nikah sirri akan menimbulkan problema setelah anak lahir. Sebab, anak hasil hubungan ini status nasabnya hanya pada ibu saja tidak bisa mendapatkan nasab pada ayah.

Akibatnya hak-hak anak untuk mendapatkan warisan dari bapak terpotong. Dosen Pascasarjana Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang H Yusuf mengungkapkan hal itu, dalam acara seminar sehari bertema ?Kajian Yuridis sosiologis dan problematika Nikah Sirri? seperti dilansir NU Online, kemarin.

Acara yang digelar Program Pascasarjana Magister (S-2) Ilmu Hukun Unissula Semarang itu, selain H Yusuf hadir pula sebagai pembicara Ketua program Magister Hukum Unissula Prof Dr HM Ali Mansyur SH SPN MHum dan Bupati Jepara H Hendro Martojo. ?Melihat dampak seperti itu, jelas akan merugikan anak. Kasihan bagi anak tidak akan memperoleh hak warisan di kemudian hari,? kata H Yusuf. Begitu pula, tambahnya, ketika ada persoalan keluarga, pengadilan agama atau pemerintah, tidak bisa ikut campur dalam penyelesaian masalah itu. ?

Sebab, nikah sirri ini tidak ada dalam catatan Kantor Urusan Agama (KUA) ataupun kantor catatan sipil. Makanya lebih baik cerna dulu dampaknya sebelum menjalankan nikah sirri,? tambah H Yusuf. Sementara menurut HM Ali Mansyur, selama ini fenomena terjadinya nikah sirri lebih cenderung dilatarbelakangi berbagai masalah. Misalnya sudah terlanjur hamil, kepentingan materi yang bersifat sesaat, kepentingan politik dan ekonomi. ?Menikah yang didasari masalah dan kepentingan seperti itu, biasanya akan menimbulkan masalah baru setelah perkawinan,? jelasnya.

Dalam catatan Duta, salah satu tantangan bagi Kantor Urusan Agama sebagai pencatat pernikahan di tanah air adalah masih adanya masyarakat yang melakukan nikah kontrak dan pernikahan dibawah tangan alias nikah sirri. Sehingga dengan sendirinya tidak mempunyai buku nikah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Nikah sirri dikenal muncul setelah diundangkannya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974.

Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa tiap-tiap perkawinan selain harus dilakukan menurut ketentuan agama juga harus dicatatkan. Menurut Zamhari, pernikahan sirri biasanya terjadi untuk nikah kedua dan seterusnya, karena untuk mendapatkan izin dari isteri pertama sangat sulit.  (dikutip dari Duta Masyarakat online oleh Ana Ridwan pada 9 JUni 2009).

ULASANKU:

Khozanah Hidayati (Ana Ridwan)

Khozanah Hidayati (Ana Ridwan)

Di masyarakat kita, khususnya Kabupaten Tuban nikah siri masih biasa dilakukan dan dianggap biasa, padahal perbuatan tersebut akan merugikan bagi pihak perempuan dan juga keturunannya. Bagi pihak perempuan dia tidak bisa menuntut secara hukum jika pihak laki-laki mengabaikan pemberian nafkah lahir dan nafkah batin serta mengabaikan kewajiban-kwajiban lainnya. Dan bagi anak keturunannya tidak bisa menuntut hak waris serta akan mendapat stigma jelek di masyarakat karena secara hukum negara tidak mempunyai bapak, sehingga di akta kelahiranpun tidak berbapak.

 

Bagaimana agar fenomena nikah siri ini dihindari dan hilang dimasyarakat? Tentunya diperlukan kerjasama berbagai pihak untuk memasarakatkan UU No.1 tahun 1974 dan juga PP no. 9 tahun 1975 dan memberikan gambaran mudhorotnya nikah siri. Akan tetapi karena nikah siri ini biasanya dilakukan oleh pihak laki-laki karena untuk pernikahan ke-2, ke-3 dan ke-4 dan juga karena pihak perempuan ada alasan ekonomi, maka agak sulit memang untuk memberantasnya. Jadi kesadaran dari semua pihak diperlukan . (Ana Ridwan)

  1. #1 by husain on Juni 9, 2009 - 11:42 am

    Nikah siri seperi ustad Puji itu harus diberantas dengan cara dihukum karena selain melanggar menikahi perempuan di bawah umur juga melanggar UU 1 tahun 1974.
    Juga nikah siri yang dilakukan kalangan pesantren yang mengawini wanita untuk istri ke-2, ke-3 dst juga harus diberantas, karena kenyataannya meraka tidak menjadi paangan suami istri tetap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: