NU Babak Belur, Akhir Politik Kiai?

Surabaya (beritajatim.com) – Nahdlatul Ulama babak belur di kandangnya. Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto, sejoli yang berhasil membuat para kiai di Jawa Timur bersatu, ternyata kalah telak melawan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Rabu (8/7/2009).

Sebut saja di tempat pemungutan suara sekitar tiga pondok pesantren besar di Jombang. Di Tebuireng yang diasuh KH Solahuddin Wahid, pasangan SBY-Boediono justru menang telak. Di TPS 8 Tebuireng tempat Gus Solah menyontreng, SBY-Boediono mendapatkan 141 suara, sedang pasangan JK-Wiranto mengantongi 98 suara, dan pasangan Mega-Pro hanya mendapatkan 9 suara.

Pasangan capres-cawapres SBY-Boediono menang mutlak pula di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 9, tempat tinggal Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi terdaftar di Jalan Cengger Ayam, Kota Malang. Sementara itu, di TPS 1 Desa Karang Bong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo yang notabene adalah TPS Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah, suara pasangan SBY-Boediono unggul telak di atas JK.

Sebelumnya banyak yang gembira dengan bersatunya para kiai NU dalam satu barisan mendukung JK. Yenni Wahid, putri KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, menilai keberanian para kiai mendukung JK adalah sebuah eksperimen yang berani. Namun ada pula yang pesimis. Pengamat politik Universitas Airlangga Dr. Kacung Marijan dalam wawancara dengan beritajatim.com beberapa waktu lalu, meragukan efektivitas ‘politik kiai’ ini.

Isra Ramli, strategis dari Strategic Political Intelligence (SPIN), mengatakan, demokrasi memang membuat peran political broker atau perantara politik semakin lama semakin mengecil. “Apalagi pada dasarnya NU memang bukan organisasi politik,” katanya, Rabu (8/7/2009) malam.

Isra melihat, sebenarnya sejak lama peran NU sebagai political broker semakin rapuh. NU selama ini dikenal menjaga dan memagari umatnya. Namun, akhirnya jebol juga pada tahun 2004, saat Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang berpasangan dengan Megawati gagal mengalahkan duet SBY-JK.

Posisi NU semakin tidak diuntungkan karena berubahnya corak kampanye. “Kampanye modern mengandalkan hubungan langsung antara kandidat dengan masyarakat. Jadi peran broker semakin tipis,” katanya.

Pengikut NU sendiri juga semakin otonom. Preferensi kiai tak selalu menjadi preferensi mereka. “NU juga organisasi yang sangat multi stakeholders, banyak kepentingan. NU di Jatim bisa berbeda dengan NU di Kalimantan,” kata Isra.

Kekalahan JK menandai berakhirnya era politik kiai? Isra tak mau terburu-buru menyimpulkan. Ia mengingatkan, konsolidasi politik JK, termasuk dengan para kiai, relatif singkat. JK seperti berkejaran dengan waktu.

“Mungkin pada tingkat elite, komitmen mereka sudah bagus. Tapi pemilih kan pada dasarnya otonom. Untuk mempengaruhi opini yang sudah terbentuk (yang mendukung SBY) tentu tidak bisa begitu saja dilakukan,” kata Isra.

Ada faktor kegagalan pembentukan opini di tingkat basis nahdliyyin. Elite NU bisa saja tidak punya kemampuan menyampaikan pesan untuk memilih JK. “Ini bisa dikarenakan ketiadaan logistik. Logistik belum tersalurkan karena waktu mepet, atau memang waktu yang tak mencukupi,” kata Isra. [wir]. (Dikutip dari Beritajatim.com, 9 juli 2009 by Ana Ridwan)

ULASANKU:

 

  1. #1 by jak89 on Juli 9, 2009 - 3:41 pm

    Memang sekarang ini rakyat khususnya warga NU sudah pintar2 dan pandai…kalau masalah2 keagamaan akan pergi ke Kyai tapi kalau masalah politik dan keumatan lainnya….entar dulu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: