Perekat NU-PKB Datang dari Keduanya

Djibril Muhammad
INILAH.COM, Jakarta – Renggangnya hubungan NU-PKB diakui PBNU. Karena itu harus ada upaya serius untuk memperbaiki ketidakharmonisan keduanya. Namun, perbaikan itu harus atas dasar kemauan kedua pihak, tidak hanya salah satu.

Demikian disampaikankan Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj, di Jakarta, Kamis (23/7). Hal itu dikatakan dia menanggapi kritik Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, yang menilai ketidakharmonisan itu akibat NU terlampau jauh berpolitik praktis.

Kang Said, begitu pria ini disapa mengaku menerima kritik Muhaimin tersebut. Karena NU juga bisa saja bertindak salah. Namun, menurutnya, bukan berarti PKB sepenuhnya benar. Sebab, selama ini PKB seperti ‘enggan’ berkomunikasi dengan NU.

“Akibatnya, seringkali terjadi ‘ketegangan’ antara pengurus NU dengan PKB di bawah (basis),” katanya.

Maka, ia mengusulkan, upaya perbaikan itu tidak bisa dilakukan sepihak. “Harus sama-sama menginginkan perbaikan, kesalahan tidak hanya di satu pihak, bukan salah NU saja,” ujarnya yang merupakan salah satu pendiri PKB pada 1998 silam.

Upaya perbaikan tersebut, lanjut Kang Said, mungkin akan dilakukan saat Muktamar ke-32 NU yang direncanakan digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Januari 2010 mendatang. Hubungan NU dengan PKB akan ditata ulang, namun sebatas hubungan emosional, tidak secara struktural.

PKB tuturnya, memang bukan satu-satunya ‘saluran’ politik warga NU. Namun, hanya PKB-lah partai yang dibentuk serta didirikan secara khusus sebagian besar kiai dan ulama NU. Makanya, ikatan emosional antara keduanya pun lebih kuat dibanding partai berbasis massa pendukung warga NU lainnya.

“Maka, kalau tidak ditata ulang (hubungan NU-PKB), suara nahdliyin bisa-bisa ‘mubazir’ (baca: tersalurkan ke partai yang tidak jelas komitmennya pada NU). Agar juga koordinasi atau ‘oper bolanya’ (komunikasi) antara NU dengan PKB lebih baik dari yang sebelumnya,” jelas Kang Said.

Sebelumnya, saat perayaan Hari Lahir ke-11 PKB, di Jakarta, Kamis (23/7) siang, Muhaimin mengkritik NU karena dinilai terlampau jauh terlibat dalam politik praktis. Akibatnya, hubungan dan komunikasi keduanya belakangan semakin menjauh hingga seringkali terjadi kesalahpahaman.

“PKB tidak pernah menjauh dari NU, tetapi NU yang terlalu ‘bernafsu’ berpolitik praktis. Sehingga, kebablasan,” terang Muhaimin didampingi Sekretaris Jenderal PKB, Lukman Edy, dan beberapa petinggi partai lainnya. [jib] (Dikutip dari INILAH.COM tanggal 24 Juli 2009 oleh Khozanah Hidayati)

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: