Jelang Muktamar NU di Makassar – Umur Khittah NU Itu 25 Tahun, Sehingga Perlu…

Selasa, 14 Juli 2009 17:25:24 WIB
Reporter : Ainur Rohim

Surabaya-Apakah prinsip kembali ke khittah 1926 perlu dirumuskan kembali atau tidak, semuanya tergantung pada muktamirin pada muktamar NU bulan Januari 2010 di Makassar nanti.

Tapi, mengingat banyaknya beda tafsir antar-tokoh dan kiai NU atas penerapan prinsip ini, terutama terkait ranah politik, rumusan kembali prinsip kembali ke khittah 1926 perlu dilakukan. “Apalagi umur khittah 1926 itu telah mencapai 25 tahun. Di sana-sini banyak perkembangan yang mesti direspon dan diantisipasi,” kata Wakil Ketua NU Jatim, H Sholeh Hayat di Surabaya, Selasa (14/7/2009).

Prinsip kembali ke khittah 1926 diputuskan pada muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Pondok Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Situbondo, Jatim. Banyak tokoh NU yang menjadi penggagas di balik keputusan itu. Di antaranya Gus Dur, Said Budairy, dr Fahmi Syaifuddin Zuhri, KH Sahal Mahfudh, KH Achmad Siddiq, KH As’ad Syamsul Arifien, dan banyak kiai lainnya.

Dengan keputusan kembali ke khittah 1926, maka ormas Islam yang didirikan KH Hasyim Asy’ari bersama KH Abdul Wahab Chasbullah di Kota Surabaya itu meneguhkan diri sebagai ormas Islam diniyyah. NU menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik yang ada saat itu, yakni PPP, Golkar (kini Partai Golkar), dan PDI.

Selain itu, dengan keputusan kembali ke khittah 1926, maka NU telah melepaskan diri dari ikatan struktural-politik dengan PPP. Bersama Muslimin Indonesia (MI), PSII, dan Perti pada tahun 1972 NU mendirikan PPP. Ketua Umum PBNU ketika itu, KH Idham Khalid, ditetapkan sebagai Presiden PPP dengan Ketua Umum HMS Mintaredja dari unsur MI.

“Tafsir dan aplikasi konsep kembali ke khittah 1926 tetap jadi isu aktual pada muktamar nanti, selain pemilihan calon ketua umum dan rois am PBNU,” kata Sholeh Hayat.

Tak hanya di era Orde Baru Soeharto aplikasi prinsip kembali khittah 1926 jadi perdebatan, terutama menjelang pemilu. Di era reformasi seperti sekarang, implementasi prinsip kembali ke khittah 1926 juga melahirkan beragam tafsir di kalangan kiai dan tokoh NU.

“Perlu penataan khittah Nadhliyyah yang diputuskan pada muktamar nanti sehingga tak ada dobel tafsir mengenai ini. NU Jatim bakal mengusulkan masalah ini,” tegas Sholeh Hayat. [air] (Dikutip dari : bertajatim.com tanggal 26 Juli 2009 oleh Khozanah Hidayati)

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: