Khitah yang Multitafsir

gus sholahSaturday, 18 July 2009 14:21 Oleh;
KH. Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng

TIDAK lama setelah pemilihan presiden (pilpres) berlangsung, muncul sejumlah tulisan yang mengkritik keterlibatan struktur NU (PB NU, PW NU, dan PC NU) serta sejumlah kiai dari pesantren berpengaruh. Yang dipersoalkan adalah upaya mereka untuk memenangkan pasangan Jusuf Kalla (JK)-Wiranto.

Tulisan itu, antara lain, berasal dari Gus Mus (KH Mustofa Bisri) berjudul Rakyat Sudah Dewasa dan Mas’ud Adnan berjudul Kekalahan Elite Struktural NU di koran Jawa Pos. Salah seorang tokoh NU menanggapi tulisan Mas’ud Adnan itu dengan SMS.

Isi SMS itu: “Elit struktural NU tidak kalah. Perjuangan kemarin bukan menang-kalah, tapi antara benar dan salah. Dalam Musyawarah Kerja NU Jatim pada 2-3 Juni 2009 di Surabaya, Komisi Khittah memutuskan “Penerapan Khittah NU” bidang politik dalam butir 2. Isinya: Dalam mencapai tujuan, jam’iyah Nahdlatul Ulama berkewajiban memberikan petunjuk dan arahan kepada warganya dalam segala bidang kehidupan, baik akidah, syariah, akhlak, dan politik. Bersatunya ulama adalah segalanya dalam NU, apalagi partai yang dilahirkan NU sudah jalan sendiri.”

Khitah Multitafsir

Banyak tulisan atau komentar yang mengkritik bahwa PB NU, PW NU Jatim, dan PC NU di Jatim telah membawa struktur NU ke dalam ranah politik praktis yang berarti melanggar khitah NU dalam bidang politik. Yang berpendapat seperti itu termasuk juga Rais Aam Syuriah PB NU KH. M.A. Sahal Mahfud. PW NU Jatim menyatakan bahwa langkah membawa struktur NU Jatim adalah penerapan dari penafsiran Musker NU Jatim terhadap khitah NU dalam bidang politik.

Dari sana, kita melihat dua penafsiran terhadap khitah NU di bidang politik. Artinya, khitah politik NU itu meman multitafsir. Dua tafsir itu secara legal formal sah. Bahkan, seorang Ketua Umum PP GP Ansor Saifullah Yusuf bisa berbeda tafsir dalam dua kejadian. Saifullah membawa Ansor dalam upaya memenangkan dirinya dalam pilgub Jatim, tetapi dia mengkritik Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi yang membawa struktur NU mendukung JK-Wiranto. Ansor juga mendukung SBY-Boediono. Yang berbeda adalah tingkat atau kadar keterlibatannya.

Muktamar NU 1984 membuat rumusan Khitah NU, yang butir 2 tentang Pengertian Khitah NU, antara lain menyatakan bahwa Khitah NU adalah landasan berpikir, bersikap, dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perseorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Landasan tersebut adalah paham Islam ahlussunnah wal jamaah yang diterapkan menurut kondisi kemasyarakatan di Indonesia, meliputi dasar-dasar amal keagamaan maupun kemasyarakatan. Khitah NU juga digali dari intisari perjalanan sejarah khidmahnya dari masa ke masa.

Dalam butir 8 tentang Nahdlatul Ulama dan Kehidupan Berbangsa, terdapat alinea yang menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan mana pun juga.

Selain itu, dirumuskan Pedoman Berpolitik Warga NU yang antara lain menganjurkan berpolitik dengan memperhatikan moral, etika, dan budaya yang memperhatikan Pancasila. Juga harus dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama. Ditegaskan bahwa perbedaan pandangan di antara aspirasi politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadlu, dan saling menghargai satu sama lain. Dengan begitu, di dalam berpolitik itu tetap terjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan NU.

Momentum Muktamar 2010

Kita pernah mengalami masalah serupa pada Pilpres 2004. Sayang sekali, Muktamar 2004 tidak berhasil merumuskan kembali khitah politik NU supaya tidak multitafsir. Saat itu KH Hasyim Muzadi mengatakan bahwa dirinya kalah, tetapi tidak salah. Kini NU mengalami masalah seperti 2004, bahkan lebih parah.

Maka, tidak ada pilihan lain kecuali membuat ketentuan organisasi tentang khitah politik NU yang tidak multitafsir. Muktamar NU 2010 adalah momentum yang tepat untuk membahas masalah itu sampai tuntas. Jangan sampai yang nanti muncul adalah rumusan yang berbeda, tetapi tetap multitafsir. Rumusan itu harus tegas dan hitam putih, tidak abu-abu.

Daripada melakukan debat terbuka yang tidak produktif, sejak sekarang perlu diadakan serangkaian diskusi yang akan membahas khitah politik NU itu. Karena NU adalah organisasi yang menjadi milik masyarakat, kita perlu mendengar pendapat semua pihak yang punya kepedulian terhadap NU. Misalnya, para pengamat politik, para tokoh parpol yang di dalamnya banyak bergabung warga NU.

Juga tidak ketinggalan untuk diminta pendapatnya adalah tokoh NU seperti ketua umum PB NU, ketua umum PP Muslimat NU, ketua umum PP GP Ansor, tokoh Syuriah PB NU, tokoh PW NU Jatim. Para anak muda NU yang menjadi pengkritik PB NU dan PW NU Jatim juga perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan pikiran. Sesuai dengan Pedoman Berpolitik Warga NU, diskusi harus terbuka dan terus terang, tetapi tetap santun, dengan menggunakan bahasa yang tidak kasar.

Hasil diskusi itu perlu disosialisasikan sebelum muktamar sehingga di dalam muktamar nanti para utusan dari seluruh cabang telah mempunyai masukan yang cukup sehingga bisa membuat keputusan tentang rumusan baru khitah NU bidang politik yang tidak multitafsir. Dengan rumusan yang jelas dan tegas, NU tidak selalu diganggu oleh masalah politik. Tujuannya, NU bisa lebih memberikan perhatian kepada amal usaha di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dll.

Alih-alih terlibat dalam politik kekuasaan, akan jauh lebih bermanfaat dan bermartabat apabila NU terlibat dalam politik kebangsaan atau politik kemasyarakatan. Yang dimaksud ialah politik yang mulia, memberikan sumbangan pemikiran bagi upaya menyejahterakan masyarakat dan mencerdaskan bangsa. Dengan cara itu, NU akan dapat berdiri di atas semua partai, semua calon dalam pilpres dan pilkada. (telah dipublikasi di Jawa Pos, 18/07/09. (Dikutip dari Website Gerakan Pemuda Ansor, tanggal 26 July 2009, Oleh Khozanah Hisayati).

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: