Santri Tetap Cinta Kiai

zaimuddinOleh, M. Za’imuddin W. As’ad, pembantu rektor I Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, Jombang

Setelah ”pesta demokrasi” berlangsung, media massa bertabur komentar bernada gugatan terhadap peran ulama atau kiai di dua ormas Islam, NU dan Muhammadiyah, yang ”ternyata” tidak cukup effektif memengaruhi jamaah atau santrinya memilih capres yang mereka dukung. Sebagai santri, saya tidak ingin terjebak untuk menghakimi, apakah yang mereka lakukan salah atau benar. Sebab, sebagaimana warga negara yang lain, ulama atau kiai memiliki hak politik yang sama untuk menyuarakan aspirasi sesuai pertimbangan mereka yang dijamin undang-undang.

Karena itu, yang justru patut dicari jawabannya adalah mengapa jamaah atau santri tidak lagi sami’na wa atho’na, mendengar dan mematuhi kiai mereka?

Idola Santri

Seorang kiai atau ulama adalah pewaris para nabi (al ulamau warasat al ambiya). Maka, dalam komunitas Islam yang membutuhkan penjaga ajaran Nabi Muhammad SAW, representasi nabi disosokkan dalam figur seorang pemuka agama atau ulama yang di tiap daerah memiliki sebutan atau gelar berbeda-beda: Kiai, Tuan Guru, Ajengan, Bendara, dll.

Untuk mendapatkan gelar itu, tidak ada jenjang pendidikan formal. Masyarakatlah yang akan memberikan gelar honoris causa tersebut atas dasar kepatutan sikap dan penguasaan ilmu diniyah (keislaman) serta -ini yang mempersempit peluang orang biasa mendapatkan gelar tersebut- garis keturunan. Dengan demikian, seorang penyandang gelar kiai biasanya memiliki tiga keunggulan sekaligus; berakhlak mulia, berilmu agama tinggi, dan bernasab “baik”.

Karena beberapa keunggulan tersebut, jadilah dia seorang “patron” yang dicintai sekaligus dihormati para santri, yang oleh Clifford Geertz disebut sebagai komunitas Islam taat itu. Kecintaan mereka begitu kental sehingga bila bersalaman selalu mencium tangan kiai, bahkan untuk masyarakat tertentu di kedua sisi tangan mereka. Rasa hormat yang tinggi ditunjukkan dengan keengganan untuk bicara sebelum mereka bertanya dan tidak berani menghadap bila merasa pakaiannya tidak pantas. Seandainya bertamu pun, seorang santri yang mendapati pintu rumah kiai tertutup tidak akan mengetuknya, melainkan menanti hingga kiai mios (keluar).

Belum lagi adanya keyakinan para santri bahwa dengan kadar “kedekatan” (taqorrub) para kiai yang tinggi kepada Tuhan, doa mereka selalu dikabulkan-Nya. Dengan demikian, ketika santri sedang memendam hajat, mereka akan memohon bantuan doa para kiai agar hajatnya terwujud. Dari profil kiai yang nyaris sempurna dalam menggabungkan domain dunia dan akhirat sekaligus itu, wajarlah bila di mata dan hati santri, sesungguhnya kiai adalah figur yang mereka idolakan dengan penuh cinta.

Cinta Santri

Salah besar bila dari kasus kekalahan Jusuf Kalla (JK) yang didukung para kiai pada pilpres lalu, akhirnya mencuat anggapan bahwa kecintaan santri kepada kiai telah luntur. Santri tetap mencintai mereka apa adanya. Sebuah wujud cinta sejati, bukan cinta buta yang memenuhi apa saja permintaan insan yang dicintainya, meski sesungguhnya hal itu akan berbahaya bagi yang dicintai.

Sederhananya, ketika orang tua kita tercinta harus mengurangi konsumsi gula sesuai saran dokter, akankah kita memberinya teh bergula bila dimintanya? Tentu tidak. Pola pikir itulah yang harus kita pakai untuk memahami perilaku politik santri dalam menyikapi anjuran politik kiai.

Di mata santri, politik praktis telanjur dipersepsikan sebagai sesuatu yang sangat kental dengan “pengumbaran” hawa nafsu dan sangat lekat dengan sifat riya. Suatu gambaran kejiwaan yang harus dihindari sejauh-jauhnya oleh seorang kiai yang senantiasa berbusana tawadu dan ikhlas lillahi ta’ala.

Pemahaman politik seperti itu adalah produk dari pengalaman hidup sehari-hari para santri yang bergaul dengan realitas politik nasional kita yang masih mengedepankan politik uang, penyebaran fitnah dan saling memecat, atau memutus silaturahmi. Ironisnya, hal itu terjadi juga dan bahkan sangat menyata di partai yang terlahir dari komunitas santri.

Para kiai yang “berkepentingan” memang sering menyampaikan bahwa politik adalah salah satu sarana dakwah yang harus dipilih untuk memperluas syiar Islam. Kalau ucapan tersebut disampaikan pada tahun 50-an, para santri siap pasang badan untuk membela partai sang kiai. Sebab, pada masa itu kaum santri memiliki musuh bersama, PKI. Tapi, sekarang ketika di setiap partai memiliki sayap-sayap organisasi keislaman atau setidak-tidaknya memiliki tokoh-tokoh Islam yang mumpuni, tidak ada alasan bagi para santri untuk khawatir bahwa Islam akan dipinggirkan di negeri ini.

Dari situlah kemudian bersemi sikap penduniawian politik. Pilihan partai tidak lagi dipercaya memiliki sangkut paut dengan akhirat atau surga dan neraka. Maka, jika pada tahun 80-an di Sampang, Madura, ada seorang kiai yang berkampanye bahwa untuk masuk surga harus pilih PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dan diikuti beramai-ramai massanya, sekarang pidato seperti itu hanya akan menjadi bahan gunjingan.

Dalam perspektif santri, terlalu besar pengorbanan kiai yang harus dipertaruhkan jika terjun ke ”lembah hitam” politik praktis. Kalau saja mereka sedikit peka, sebenarnya sejak keterlibatan mereka pada pilgub Jawa Timur secara vulgar, yang ternyata tidak memberikan kemenangan signifikan pada gubernur yang mereka dukung, mestinya dapat dijadikan pelajaran berharga bahwa para santri belum ”rela” kiai mereka ikut-ikutan permainan orang kebanyakan.

Jadi, tidak mendukung bukan berarti tidak taat, tapi justru wujud sikap hormat dengan menghindarkan mereka dari gaya hidup -yang menurut santri- kurang pantas bagi kiai.

Kalau boleh saya mengungkapkan suara hati santri, harapan yang terucap adalah: “Kiai, mohon tetaplah menjadi penjaga moral dan amaliah ibadah kami. Jadilah air yang bening dan bersih sehingga dapat segera kami reguk tanpa waswas manakala dahaga menjelang. Sungguh kami telah lama kehilangan dan merindukan air yang menyehatkan itu”. Wallahu’alam bishshawab. (Dikutip dari Website Gerakan Pemuda Ansor, tanggal 26 Juli 2009 oleh Khozanah Hidayati).

Iklan

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: