Kembalikan NU ke Politik Simbolis

arif afandiSunday, 26 July 2009 13:59
Oleh Arif Afandi, Arif Afandi, Wawali Surabaya, A’wan Syuriah PW NU Jatim

Pemilihan presiden (pilpres) yang baru saja berlangsung sungguh merupakan prestasi yang patut dibanggakan. Ini merupakan sebuah bukti bahwa bangsa Indonesia semakin matang dalam berdemokrasi. Walaupun masih ada rasa ketidakpuasan menyangkut kinerja dalam pelaksanaan teknis penyelenggaraannya, hal itu tidaklah terlalu mengganggu substansi dan makna demokratisasi yang sedang berlangsung.

Demokratisasi dalam berbagai pemahaman dimaknai sebagai sebuah proses politik yang menghargai setiap individu untuk mengekspresikannya. Oleh karena itu, sangat masuk akal apabila hiruk pikuk demokrasi seperti pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah menjadi magnet bagi segenap elemen masyarakat.

Dalam pilpres lalu, mereka yang terlibat dalam politik praktis itu bukan hanya partai politik dan para pemangku kepentingan (stake holder). Pemuka masyarakat juga terlibat dalam proses dukung-mendukung. Yang paling menarik diamati ialah keterlibatan tokoh NU struktural yang mendukung secara verbal (terang-terangan) kepada salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Bagi warga nahdliyin, keterlibatan NU dalam kancah politik praktis sebenarnya bukanlah hal yang asing. Dalam sejarahnya, NU pernah menjadi partai besar sehingga politik praktis bukanlah wilayah yang tabu untuk diakrabi. Namun, yang menjadi persoalan kemudian ialah tatkala NU secara institusional telah menyatakan kembali ke khitah, yang intinya tidak terlibat pada politik praktis dan NU tidak akan menjadi partai politik seperti semasa Orde Lama. Keterlibatan NU secara institusional dalam politik praktis hanyalah keterlibatan secara simbolis.

Langkah itu diambil mengingat warga nahdliyin tersebar di berbagai kalangan. Kalaupun ada warga NU yang memang tertarik berkiprah dalam politik praktis, maka keterlibatannya adalah secara individual meskipun secara simbolis NU tetap melekat kepada individu masing-masing. Dengan demikian, muncul ungkapan yang cukup dikenal di kalangan NU bahwa ”NU tidak ke mana-mana, tetapi NU ada di mana-mana”.

***

Semasa Orde Baru, politik simbolis itu pernah ditunjukkan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ketika masih menjabat ketua umum PB NU. Secara institusional, Gus Dur tidak pernah memosisikan diri mendukung Soeharto sebagai presiden. Apalagi secara verbal (terang-terangan) menyatakan mendukung Pak Harto menjadi presiden. Yang dilakukan Gus Dur pada waktu itu ialah menyelenggarakan istighotsah dan mengundang Siti Hardiyanti Rukmana hadir dalam acara istighotsah tersebut.

Langkah politik simbolis yang dilakukan Gus Dur itulah yang seharusnya dilakukan ulama NU di masa sekarang. Hal itu mengingat bahwa NU harus menjadi payung bagi seluruh warga nahdliyin yang boleh jadi telah tersebar di berbagai partai politik serta untuk menghindari konflik internal.

Dalam Pilpres 2009, tokoh struktural NU yang memberikan dukungan secara verbal, bukan simbolis, kepada salah satu calon menimbulkan tanda tanya bagi warga nahdliyin. Yaitu, apakah secara sadar hal itu dilakukan dengan pertimbangan agar jika pasangan capres-cawapres yang didukung memenangi pilpres, maka NU struktural akan mendapatkan keuntungan politik yang besar?

Kecurigaan politik warga nahdliyin itu cukup beralasan mengingat politik praktis selalu memacu syahwat politik bagi para pemuka masyarakat, termasuk para tokoh NU yang secara verbal mendukung salah satu pasang calon dan disiarkan di televisi. Yang kemudian menjadi persoalan ialah akankah fenomena seperti itu kita biarkan?

Bagaimanapun, khitah NU ke awal berdirinya pada 1926 yang menyatakan tidak terlibat ke kancah politik praktis tetap harus dipertahankan. Selain mengembalikan jati diri NU yang merupakan organisasi sosial keagamaan, hal itu juga untuk menyelamatkan warga NU dari kebimbangan politik.

Namun, mengingat NU merupakan organisasi sosial keagamaan yang memiliki pengikut besar, tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para politisi. Barangkali para politisi itu sendiri berasal dari kalangan NU sehingga godaan syahwat politik praktis tentu akan selalu menyertai perjalanan organisasi NU di masa-masa yang akan datang. Hal inilah yang, tampaknya, akan menjadi persoalan serius bagi NU di era demokratisasi ini. Di satu sisi, NU harus konsisten dengan khitah 26, di sisi lain, para politisi sangat dimungkinkan berasal dari kader-kader NU.

***

Politik simbolis yang pernah dilakukan KH Abdurrahman Wahid itulah yang, tampaknya, paling ”pantas” dilakukan para kader NU. Setidaknya, dengan memilih atau mengambil langkah politik simbolis tersebut, beberapa manfaat sebagai berikut akan didapatkan.

Pertama, memberikan kesempatan kepada para kader NU yang kebetulan terlibat dalam kegiatan politik praktis untuk ”memanfaatkan” secara cerdas simbol-simbol NU untuk kepentingan politik praktis. Kedua, menghindarkan NU dari ajang pertempuran politik yang manfaat dan mudaratnya tentu tidak sepadan, yakni lebih banyak mudaratnya.

Ketiga, politik simbolis adalah politik ”kelas tinggi”. Sebab, biasanya, orang yang menggunakan politik simbolis adalah orang yang matang dalam dunia politik. Politik simbolis lebih save, tidak menimbulkan dampak politik yang serius.

Kesadaran untuk lebih menggunakan simbol dalam politik praktis bagi para kader NU, tampaknya, sudah harus menjadi kesadaran***, bahkan sebagai ”kode etik”. Keterlibatan elite NU dalam aksi politik mendukung capres-cawapres seperti pada Pilpres 2009 haruslah segera diakhiri. Sebab, selain bertentangan dengan semangat khitah NU 1926, hal itu juga berakibat kepada ***kepercayaan warga NU terhadap institusi NU dan para kiai. Buktinya, pasangan capres-cawapres yang didukung elite NU ternyata perolehan suaranya paling kecil. (telah dipublikasikan di jawa pos, 25/07/09) (Dikutip dari Website Gerakan Pemuda Anshor, tanggal 27 Juli 2009, Oleh Khozanah Hidayati).

Iklan

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: