Jelang Muktamar Ke-32 NU di Makasar (1) :Duet Kiai Sahal-Kiai Hasyim Berlanjut atau…

Rabu, 29 Juli 2009 11:34:50 WIB
Reporter : Ainur Rohim

Surabaya-Sejak diputuskan pada muktamar ke-27 NU di Pondok Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Situbondo tahun 1984, ormas Islam Tradisional ini meneguhkan diri sebagai ormas yang tak terlibat di ranah politik praktis dan menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik yang ada.

Isu kembali ke khittah 1926 selalu mencuat di saat NU menggelar perhelatan muktamar, tak terkecuali menjelang muktamar ke-32 NU di Makassar pada akhir Januari 2010 nanti. Isu kembali ke khittah 1926 coba terus-menerus dirumuskan kembali supaya mendekati ke titik ideal yang disepakati semua stakeholder di NU, baik kiai, tokoh, maupun jamaah NU. ““Perlu penajaman kembali konsep kembali ke khittah 1926. Apalagi prinsip kembali ke khittah itu telah diputuskan NU pada muktamar 1984 di Situbondo. Jadi, umurnya sudah 25 tahun,” kata Wakil Ketua NU Jatim, H Sholeh Hayat.

Selain isu kembali ke khittah 1926, pemilihan kepemimpinan NU 5 tahun ke depan tak kalah panasnya. KH Hasyim Muzadi telah 2 periode menduduki jabatan pimpinan puncak NU sebagai ketua umum. Pengalaman sejarah di NU menunjukkan bahwa pejabat ketua umum itu sejak dipangku KH Idham Chalid dari Banjarmasin biasanya berlangsung dalam beberapa periode atau berlangsung cukup lama.

KH Idham Chalid menduduki jabatan Ketua Umum PBNU sejak NU sebelum berkiprah di pemilu 1955 hingga menjelang muktamar Situbondo tahun 1984. Selanjutnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama 15 tahun atau 3 periode masa jabatan, sejak 1984-1999 memangku jabatan orang pertama di tandfiziyah NU. KH Hasyim Muzadi selama 10 tahun duduk sebagai ketua umum PBNU.

Apakah KH Hasyim Muzadi bakal duduk kembali sebagai ketua umum PBNU periode 2010-2015? Semuanya bergantung pada muktamirin. Yang pasti, seperti dikatakan mantan Ketua NU Jatim, Dr KH Ali Maschan Moesa, berdasar AD/ART yang diputuskan pada muktamar Solo tahun 2004 lalu, tak disebutkan secara eksplisit masa jabatan ketua umum itu dibatasi maksimal 2 periode. “Kalau berpendoman pada AD/ART hasil muktamar lalu, ya boleh 3 kali periode masa jabatan,” katanya.

Tak hanya KH Hasyim Muzadi yang telah 10 tahun duduk sebagai ketua umum. Rois Am PBNU, KH Sahal Mahfudh dari Pondok Maslakul Huda Pati, Jateng juga telah 10 tahun menduduki jabatan strategis itu. Dia terpilih pertama kali di muktamar Lirboyo Kediri tahun 1999 dan terpilih kembali di muktamar Solo 2004. Tipologi KH Sahal Mahfudh yang tenang, apolitis, lebih dikenal sebagai pekerja sosial-keumatan yang tangguh, dan ahli fiqih merupakan modal penting yang membuka peluang besar baginya bakal terpilih kembali sebagai rois am. Itu pun kalau dia berkenan dicalonkan kembali dan AD/ART hasil muktamar ke-32 nanti mengizinkan.

Pengalaman sejarah organisasi NU menunjukkan, pejabat rois am biasanya dipangku kiai khos yang sangat dihormati di kalangan NU hingga sang kiai itu meninggal dunia. Misalnya, rois am PBNU pertama adalah KH Hasyim Asy’ari dari Pondok Tebuireng Jombang. Pendiri NU ini menduduki jabatan tersebut hingga meninggal dunia sekitar tahun 1947. Demikian pula rois am PBNU kedua, KH Abdul Wahab Chasbullah dari Pondok Tambakberas juga memangku jabatan itu sampai wafat. Saat Kiai Wahab menjabat rois am PBNU saat NU berbentuk parpol dan ikut pada pemilu 1955 dan 1971. Sebagai rois am, Kiai Wahab lama bersinergi dengan KH Idham Chalid yang menjabat sebagai ketua umum PBNU.

Hal serupa terjadi pada rois am PBNU ketiga, KH Bisri Syansuri dari Pondok Denanyar Jombang. Dia memangku jabatan itu hingga wafat pada awal tahun 1980-an. Kiai Bisri tak hanya sekadar sebagai tokoh kharismatik NU, tapi kiai PPP yang paling disegani. Fatwa-fatwa Kiai Bisri sangat didengarkan, dilaksanakan, dan dipatuhi elite-elite NU dan PPP.

Baik KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri adalah 3 ulama besar yang menduduki jabatan rois am PBNU dari generasi pertama sekaligus pendiri NU. Ketiga kiai itu memiliki kharisma sangat kuat di kalangan akar rumput NU (Nadhliyyin).

Rois am PBNU berikutnya adalah KH Mahrus Aly dari Pondok Lirboyo Kediri. Tak lama jabatan bergengsi itu dijabat yang bersangkutan sebelum akhirnya digantikan KH Achmad Siddiq dari Jember yang terpilih saat muktamar ke-27 NU di Situbondo 1984. Namun, di tengah perjalanan masa jabatannya, Kiai Achmad Siddiq meninggal dunia dan posisinya digantikan KH Ali Ma’soem dari Pondok Krapyak Yogyakarta.

Menjelang muktamar NU ke-28 di Pondok Krapyak Yogyakarta tahun 1989, Kiai Ali Ma’soem meninggal dunia dan posisinya digantikan KH Iljas Ruhiyat dari Pondok Cipasung, Tasikmalaya Jabar. Posisi Kiai Iljas digantikan KH Sahal Mahfudh ketika Kiai Iljas masih hidup berdasar keputusan muktamar NU di Pondok Lirboyo tahun 1999. Bersama Gus Dur, KH Mustofa Bisri dari Rembang, KH Moenasir Ali dari Mojokerto, dan KH Muchit Muzaddi dari Jember, Kiai Iljas adalah salah deklarator PKB.

Apakah KH Sahal Mahfudh dan KH Hasyim Muzadi bakal terpilih kembali di muktamar ke-32 NU di Makassar akhir Januari 2010 nanti? Semuanya bergantung pada aspirasi dan suara muktamirin dan ketentuan dalam AD/ART NU yang diputuskan pada muktamar Makassar nanti. [air/bersambung]

Iklan

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: