Jelang Muktamar ke-32 NU di Makassar (2), Muktamar 2004: Langitan versus Lirboyo, Muktamar 2010…

Surabaya-Enam bulan menjelang dihelatnya muktamar ke-32 NU di Makassar, Sulsel telah mengemuka suara dan aspirasi yang menginginkan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tak mencalonkan lagi. Ekses politik pilgub Jatim dan pilpres 8 Juli 2009 salah satu alasan kenapa Kiai Hasyim sebaiknya tak menjagokan kembali.

Di antara tokoh NU yang menyuarakan aspirasi seperti itu adalah Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Ketua umum GP Ansor yang sekarang menjabat wagub Jatim itu mengharapkan adanya regenerasi kepemimpinan di NU. Dia menyebut nama Masdar Farid Mas’udi, KH Said Aqil Siradj, dan KH Mustofa Bisri sebagai tokoh dan kiai NU yang layak memimpin NU periode 2010-2015.

Ketiga kiai itu merupakan tokoh lama NU. Nama Masdar Farif Mas’udi sempat bertarung melawan Kiai Hasyim di muktamar Solo 2004. Masdar yang dijagokan Poros Langitan dengan tokoh utama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Abdullah Faqih (pimpinan Pondok Langitan Widang Tuban) kalah bersaing melawan KH Hasyim Muzadi yang dinominasikan Poros Lirboyo dengan tokoh utama KH Idris Marzuki (pimpinan Pondok Lirboyo Kediri).

Nama KH Mustofa Bisri juga sempat muncul di ajang muktamar Solo 2004. Tapi, namanya langsung meredup setelah yang bersangkutan menyatakan tak bersedia dijagokan, dengan alasan berkonsentrasi mengelola Pondok Roudlatut Tholibien Rembang. Pertimbangan lain, Gus Mus mematuhi saran ibundanya yang tak mengizinkan jauh-jauh dari Rembang dan diminta konsentrasi pondok yang dipimpinnya sepeninggal KH Cholil Bisri, kakak kandung Gus Mus.

Tak tanggung-tanggung pada muktamar 2004 di Solo, banyak kiai dan tokoh NU yang melobi Gus Mus agar mau maju tampil sebagai calon ketua umum PBNU. KH Yusuf Hasyim (almarhum), yang juga paman Gus Dur dan pimpinan Pondok Tebuireng Jombang, ikut getol melobi Gus Mus, tapi hasilnya mentok.

”Iya, ibu saya yang lugu itu saat disowani utusan Gus Dur menjawab, lha wong tidak jadi apa-apa saja Mustofa itu sudah tidak pernah di rumah. Apalagi kalau jadi apa-apa, saya tidak akan pernah bertemu dia lagi setiap hari. Biarlah dia konsentrasi di pondok, karena sekarang tidak ada lagi yang mengasuh kecuali dia. Begitu jawaban ibu saya,” tegas Gus Mus kepada wartawan di Hotel Quality, Solo ketika itu.

Di samping itu, pencalonan Gus Mus kurang kurang memungkinkan secara kultural-teritori dan pengalaman kesejarahan NU. Jatim dan Jateng adalah kutub paling penting bagi NU sejak kelahirannya. Banyak kiai dan tokoh besar NU berasal dari kedua provinsi ini. Tiga rois am PBNU pertama berasal dari Jatim. Ketua umum tandfiziyah juga beberapa kali dijabat kiai dan tokoh dari Jatim. Hanya KH Idham Chalid tokoh luar Pulau Jawa (asal Banjarmasin Kalsel) yang paling lama menduduki jabatan ketua umum PBNU.

Masih kuat dan terpilihnya kembali KH Sahal Mahfudh asal Pati, Jateng sebagai rois PBNU di muktamar Solo 2004, maka posisi ketua umum secara konvensional-kultural sebaiknya diberikan kepada kiai dan tokoh dari Jatim. Pilihan itu jatuh kepada KH Hasyim Muzadi.

Tampilnya KH Hasyim Muzadi di ajang muktamar 2004 untuk merebut kembali jabatan ketua umum PBNU melalui perjuangan berat. Pasalnya, pascapilpres 2004, yang mana Kiai Hasyim kalah di ajang politik itu saat berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri, posisinya agak terjepit. Banyak kiai khos di Jatim dan Jateng yang menolak kembali pencalonannya.

Para kiai itu umumnya sebagai pendukung PKB. Di antaranya KH Abdullah Faqih, KH Mas Subadar, KH Anwar Iskandar, KH Muhaiminan Gunardo (Parakan Temanggung Jateng), dan banyak kiai lainnya. Mereka tergolong dalam kiai NU di Poros Langitan. Duet Gus Dur-Masdar Farid Mas’udi dijagokan Poros Langitan untuk merebut jabatan rois am dan ketua umum PBNU.

Di sisi lain, banyak pula kiai NU di Jatim dan Jateng yang pro-Hasyim Muzadi. Di antaranya KH Idris Marzuki, KH Zainuddin Djazuli (Pondok Ploso Kediri), KH Muchit Muzaddi (Jember), KH Masduki Mahfudz (Rois Syuriah NU Jatim), dan kiai lainnya. Ternyata, banyak pimpinan cabang (kabupaten/kota) dan wilayah (provinsi) NU yang memiliki hak suara di ajang muktamar yang lebih dekat dan mendukung kiai-kiai Poros Lirboyo. Sebab, banyak pengurus cabang dan wilayah NU itu merupakan alumni Pondok Lirboyo atau pondok lain yang kiai pengasuh pondoknya merapat ke Poros Lirboyo.

Muktamar ke-31 NU di Solo, tepatnya di Asrama Haji Donohudan, merupakan muktamar terpanas setelah muktamar Cipasung Tasikmalaya tahun 1994. Selain ada 2 kutub atau poros besar kiai yang berhadap-hadapan, agenda pembicaraan hubungan NU dengan parpol, khususnya PKB, menempati posisi penting dalam muktamar. Karena itu, tak mengejutkan banyak tokoh dan politikus PKB yang turun gunung, terjun langsung untuk memengaruhi pengambilan keputusan dan materi keputusan muktamar itu.

“Ini muktamar NU melawan PKB. Di dalam (NU) sebenarnya tak ada apa-apa, tapi karena ada orang luar ikut campur, ya jadi ramai seperti sekarang,” kata Ketua NU Jatim saat itu, Ali Maschan Moesa.

Memang, jauh hari sebelum muktamar Solo dihelat, sejumlah kiai dan politikus NU yang dekat dengan PKB telah merapatkan barisan. Mereka menggelar pertemuan di Gedung Museum NU di Surabaya. Hasilnya, ada 5 opsi. Apa saja? Meminta KH Hasyim Muzadi tak mencalonkan diri, mengembalikan kepemimpinan NU kepada keluarga besar (dzuriyah) KH Hasyim Asy’ari selaku pendiri, mengajukan Gus Dur sebagai kandidat rois am, dan mendirikan NU tandingan sebagai opsi terakhir.

Relasi NU dan politik merupakan akar persoalan strategis yang bisa memantik peningkatan suhu di tiap kali muktamar NU dihelat. Implementasi konsep kembali khittah 1926 yang multitafsir, mengingat luasnya ruang otonomi pemikiran kiai dan tokoh NU, mengakibatkan tak mudahnya merumuskan tafsir tunggal konsep kembali ke khittah 1926. Selain itu, kiprah NU di ranah politik praktis berlangsung cukup lama, sejak 1952–setelah keluar dari Masyumi–sampai tahun 1984–setelah muktamar ke-27 NU di Situbondo 1984 adalah faktor lain yang membuat kiai dan tokoh NU sulit menghindarkan diri dari godaan politik praktis.

Apakah muktamar ke-32 NU di Makassar 2010 nanti bakal menghasilkan regulasi baru yang memagari secara ketat kepada pengurus NU agar tak terlibat atau dilibat-libatkan di ranah politik praktis? [air/bersambung] (Dikutip dari Beritajatim.com, tanggal 29 Juli 2009, oleh Khozanah Hidayati).

Iklan

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: