Jelang Muktamar ke-32 NU di Makassar (5) – Lupakan Pilpres, NU Hadapi Liberalisme dan Radikalisme

Surabaya (beritajatim.com) – Hasyim Muzadi mengalami masa-masa sulit dalam dua periode kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama. Negara bukan lagi menjadi lawan sebagai masa Orde Baru. Tantangan justru datang dari dirinya sendiri dan internal kaum muslim.

Saat berkunjung ke Jember dan bertemu sejumlah ulama di Pondok Pesantren Al-Qodiri, Mei 2009, Hasyim mengeluh: ‘NU terkepung’. “PBNU sudah digerogoti oleh ekstrim PKS, dan juga yang liberal. Saya teriak-teriak, tidak didengarkan. Kalau saya tidak kuat, saya bisa jadi Nabi Yunus yang melarikan diri,” katanya.

Liberalisme Islam dan radikalisme Islam pada tingkat tertentu, dan dengan wajah berbeda, memang mulai membuat gundah sejumlah ulama. Ini ancaman yang tidak kasat mata, karena medan tempurnya adalah pemikiran dan epistemologi. Tarikan dua kutub pemikiran tersebut, sedikit banyak, menggoyahkan ‘Islam jalan tengah’ ala NU. ‘Islam jalan tengah’ ini meyakini umat Islam sebagai bagian dari keindonesiaan, namun juga tak lantas melepas tradisi keagamaannya.

Di Indonesia, pemikiran liberalisme Islam banyak direpresentasikan oleh Jaringan Islam Liberal. Kelompok yang bermarkas di Utan Kayu, Jakarta, ini, justru dihuni oleh anak-anak muda NU terpelajar dan sebagian besar berkultur pesantren. Sebut saja Ulil Abshar Abdalla, menantu KH Mustofa Bisri, atau Nong Darol Mahmada, mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam yang juga putri seorang kiai terpandang di Jawa Barat. JIL bergerak dari jantung NU sendiri.

Beberapa kali NU, baik institusional maupun arus utama ulama, berbenturan pemikiran dengan anak-anak JIL. Artikel Ulil Abshar di Kompas mengenai perlunya menyegarkan pemikiran Islam sempat memunculkan kontroversi dan memunculkan kecaman dari berbagai kalangan ulama, termasuk ulama NU.

Liberalisme Islam dianggap menjadikan Islam sebagai ‘anything goes religion’ atau ‘agama suka-suka’. Otoritas ulama dipertanyakan kembali, dan mendasarkan tafsir agama pada rasio belaka. Kelompok liberal dinilai Hasyim membuat pemikiran sendiri yang mengkritisi semua, termasuk Al Quran. Hasyim setuju dengan kritisisme, asal sesuai dengan koridor.

Hasyim mengatakan, bahwa NU bukan liberalisme dan liberalisme bukan NU. Keislaman NU didasarkan pada kaidah-kaidah yang sudah ditentukan. “Pengembangan pemikiran NU harus melalui manhaj (kaidah yang sudah ditentukan),” jelasnya.

“Liberalisme ini membahayakan agama, karena menganggap agama hanyalah budaya,” tambah Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur Mutawakkil Alallah.

Ancaman berikutnya adalah radikalisme Islam. Berkali-kali Indonesia menjadi sasaran terorisme, yang belakangan diketahui, menggunakan label jihad. Entah akal sehat yang mana yang digunakan oleh para ‘pejuang jihad’ itu, sehingga menghancurkan gedung-gedung yang menjadi simbol Amerika Serikat dan Amerikanisme dengan memakan korban sesama muslim dan warga non muslim yang tak berdosa.

Sementara itu, di jalur politik, kelompok ‘Islam formalis’ juga mulai mendapat tempat. Di sejumlah daerah, aspirasi penerapan syariah Islam menguat. Partai Keadilan Sejahtera, sebuah partai Islam yang terilhami gerakan Ikhwanul Muslimin Hasan Al Banna, kian hari kian menguat. Meninggalkan jargon-jargon formalistik, PKS memperoleh peningkatan kursi dan suara pada pemilu 2009. Dengan sebagian tokoh PKS yang berbasis NU dan Muhammadiyah, praktis daya jangkau partai ini meluas. “Mereka tidak mengerti PKS itu bagaimana,” keluh Hasyim soal warga NU yang melirik partai tersebut.

PKS bukan satu-satunya ancaman. Wakil Sekretaris PWNU Jatim Misbahussalam mengatakan, “Saat ini bukan saja di pusat, tapi juga di daerah, kelompok-kelompok antipancasila menguat.”

Kelompok-kelompok Islam garis keras sudah mulai bicara soal Pancasila yang tak bisa dijadikan sebagai ideologi negara. “Karena Pancasila inilah, mereka menganggap Indonesia adalah darul harbi, negara yang harus diperangi,” kata Misbahussalam.

Di masa kepemimpinan Hasyim, NU sangat gencar mempromosikan Islam berwajah teduh di dunia internasional. Islam teduh ini kelanjutan dari Islam berwajah toleran yang dikembangkan Abdurrahman Wahid saat menjadi orang nomor wahid di NU.”KH Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum PBNU berperan aktif mencegah terjadinya terorisme. Beberapa kali beliau diundang Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda untuk menyampaikan pemikiran tentang Islam rahmatan lil alamin, Islam sebagai rahmat alam semesta,” kata Misbahussalam.

NU agaknya perlu membicarakan kembali dua tantangan di atas. Islam liberal dan Islam radikal adalah anak-anak kandung Reformasi. Mereka tumbuh dan semakin membesar, setelah rezim otoriter tumbang. Khusus Islam liberal, berkembangnya kelompok ini tak lepas dari kultur toleran di tubuh NU sendiri. Salah satu tokoh panutan kelompok liberal adalah Abdurrahman Wahid yang banyak mewacanakan keterbukaan dan tenggang rasa.

Kelompok liberal tak perlu diberangus. Namun, para ulama yang tak setuju maupun sepakat dengan kehadiran kelompok ini bisa menjadikan Muktamar Nasional di Makassar, sebagai tempat untuk bersepakat agar liberalisme Islam tidak disalahpahami. Anak-anak NU yang menjadikan liberalisme sebagai preferensi kelompok sebaiknya menjelaskan batasan-batasan dan metodologi tafsir. Liberalisme ini sebenarnya telah dibahas pada muktamar sebelumnya. Namun tak ada salahnya, membicarakannya kembali.

Tantangan yang paling berat mungkin menghadapi radikalisme Islam di jalur konstitusional. Di satu sisi, kita harus konsisten, bahwa demokrasi membuka peluang siapapun untuk memperjuangkan aspirasinya secara damai. Namun di sisi lain, NU perlu mewaspadai dimanfaatkannya ‘jalan demokrasi’ untuk menumbuhkan radikalisme Islam yang pada dasarnya tidak menyukai Pancasila.

Selama kekuatan Islam radikal memperjuangkan aspirasinya melalui jalan demokratis dan damai, maka tidak boleh ada yang melarang mereka. Perlawanan oleh organisasi-organisasi moderat seperti NU haruslah dilakukan melalui jalur yang demokratis pula. Muktamar NU haruslah digunakan sebagai sarana mengonsolidasikan kekuatan NU untuk berjuang di jalur demokratis.

Lupakan tetek-bengek pilpres dan pilgub! [wir/bersambung] (Dikutip dari Beritajatim.com, tanggal 4 Agustus 2009, oleh KHozanah Hidayati)

Iklan

,

  1. #1 by peduli pesantren on Agustus 4, 2009 - 4:00 pm

    sudah kodrat dunia mengalami berbagai kejadian, asal tidak sampai menjurus kemurtad/merusak aqidah islam saya rasa tdk masalh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: