Gus Sholah dan Kang Said – DIUSULKAN SERIUS MAJU

MENJELANG pelaksanaan Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar, Januari tahun depan, sejumlah nama mulai dimunculkan, sebagai figur ketua umum PBNU periode lima tahun mendatang.

Di antara nama itu, adalah KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan KH Said Aqiel Siradj. Sejumlah cabang telah menyebut-nyebut nama kedua tokoh tersebut. Selain itu, juga KH Masdar Farid Mas’udi dan KH A Mustofa Bisri.

Kemunculan nama-nama tersebut, karena KH A Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU sekarang) telah bertekad tidak mencalonkan diri lagi dalam kepengurusan PBNU periode mendatang. Kiai Hasyim menginginkan proses regenerasi di NU berjalan wajar. Dalam istilahnya, “saya ingin menjadikan NU republik, bukan kerajaan”. Sejumlah pengurus NU di Jawa Timur kemudian mulai mempertimbangkan nama Gus Sholah, meski juga masih menunggu penjelasan langsung dari Kiai Hasyim Muzadi, yang mantan ketua PWNU Jatim.

Kini, nama KH Said Aqiel Siradj dinilai tepat menggantikan KH Hasyim Muzadi pada Muktamar NU di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Januari 2010. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat M Zeet Hamdy Assovie, di Pontianak, Kalbar, mengungkapkan dukungannya Senin (31/8). “Banyak kriteria yang menjadikan Said Aqiel Siradj tepat untuk memimpin NU ke depan,” kata
M Zeet.

Menurut dia, Said Agil Siradj yang kini juga salah satu ketua PBNU tersebut, merupakan sosok yang bersikap terbuka terhadap pihak mana pun. Sebagai doktor perbandingan agama dan tasawuf, menjadikan Said Agil Siradj terkesan moderat.

“Namun, ia bersifat lembut dan tetap dengan pakem menerapkan Ahlussunnah waljamaah,” katanya.
Ia menyebutkan, selama ini NU telah menjadi massa ke-Islaman yang kondusif. “Dari 1.114 pondok pesantren NU, tidak ada yang terlibat aksi teror,” kata M Zeet Hamdy Assovie menegaskan.

Lalu, bagaimana komentar KH Salahuddin Wahid, yang juga Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang?
“Saya tidak bisa menjawab. Itu kan yang berhak mencalonkan cabang (PCNU) tapi siapa pun kalau memang dicalonkan ya harus siap,” begitu tanggapan awal adik kandung Gus Dur ini, seperti dilansir NU Online, kemarin.

Dalam kesempatan itu Gus Sholah menyatakan, NU memiliki banyak sekali kader yang pandai dalam berbagai bidang kemampuan, hanya saja selama ini potensi itu belum tergarap secara maksimal.
Menurutnya, jika pengelolaan organisasi ini bisa dijalankan dengan baik, NU bisa memperbaiki bidang amal usaha dan lebih penting lagi bisa mengurangi ketertarikan orang pada politik yang selama ini menjadi primadona.

Merespon wacana yang berkembang seputar kepemimpinan NU ke depan, terutama terkait kepemimpinan anak muda, Gus Sholah menganggap wacana itu sangat bagus dalam rangka regenerasi di tubuh NU. “Kalau memang ada itu bagus-bagus saja,” katanya.

Hanya saja hingga saat ini dirinya belum pernah mendengar ada cabang yang menindaklanjuti kepemimpinan muda itu. Gus Sholah juga tidak sependapat jika usia muda dijadikan ukuran. “Muda itu kaitannya dengan kesehatan. Kalau usianya 60 sehat terus ada yang usianya 50 nggak sehat gimana?” katanya. (Dikutip dari Dutamasyarakat.com, tanggal 3 September 2009, oleh Khozanah Hidayati).
Gus Sholah mencontohkan, banyak presiden berhasil menjalankan kebijakannya justru dalam usia yang sudah tua sambil menyebut nama-nama seperti Kim Dae Jung (mantan Pemimpin Korea Selatan) dan Ronald Reagan (mantan Presiden AS) yang saat itu menjabat dalam kisaran usia 70-an.

,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: