Batas kewenangan syuriah-tanfidziyah dikritik

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menyampaikan kritiknya terhadap batas kewenangan syuriyah dan tanfidziyah dalam struktur organisasi NU. Menurutnya, kewenangan dua perangkat kepengurusan NU ini sering tidak jelas dan tumpang tindih. Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi yang diselenggarakan Sleman, tepatnya di pendopo ndalem KH Marzuki, salah seorang tokoh pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta, pekan lalu.

Acara dihadiri beberapa tokoh seperti Gus Jazuli dari Klaten, Pengasuh Pesantren Sunan Pandan Aran KH Mu’tasim Billah, aktivis LKiS M Jadul Maula, Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat Kotagede KH Muhaimin, Kiai Marzuki sendiri, Pengasuh Pesantren Wahid Hasyim Gus Shofi, dan beberapa kader muda serta aktivis pergerakan NU.

Dalam kesempatan itu Gus Sholah menyayangkan, kebesaran organisasi NU kurang diimbangi dengan kemampuan seni organisasi yang cakap. “NU sekarang mengalami kerancuan struktural. Batas kewenangan antara Syuriyah dan Tanfizdiah tidak jelas seperti apa,” kata Gus Sholah.

Sedianya, syuriyah berwenang untuk merumuskan arah kebijakan organisasi, sedangkan Tanfidziyah sekadar berkreasi dalam bidang operasional. Tapi, menurut cucu pendiri NU ini, Tanfidziyah saat ini seakan memiliki kewenangan seperti Syuriyah juga. “Dahulu, ketika ketua tanfidziyah melakukan hal yang tak sesuai dengan amanat syuriyah, dewan perancang agenda akan memanggil ketua pelaksama rencana,” tambahnya.

Ditambahkannya, kerancuan ini juga berimbas kurang baik dalam berbagai langkah NU, seperti dalam bidang politik.

KH Muhaimin, Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat Kotagede dalam kesempatan itu menyampaikan uneg-unegnya. Menurutnya, saat ini NU mulai ditinggalkan umatnya. “Masyarakat bawah mulai tidak mendapatkan perhatian serius dari para kiai,” katanya.

JK menolak
Sementara itu, menjelang Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama di Makassar, Sulawesi Selatan, Januari tahun depan, muncul wacana untuk menjagokan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum PBNU. Mereka yang menjagokan Kalla menilai posisi ini bisa menjadi pengabdian Kalla seusai menjadi orang nomor dua di Indonesia.

“Menjadi Ketua Umum PBNU bukan bidang saya. Saya ini ummara (pemimpin di pemerintah) yang tugasnya berbeda,” ujar Kalla menanggapi wacana pencalonan dirinya seusai salat Jumat di Jakarta, Jumat (4/9).

Kalla mengakui dirinya bukan orang asing di organisasi kaum Nahdliyin ini. Selama di Makassar, ia berkali-kali menjadi penasihat NU cabang Makassar. “Tapi, soal menjadi Ketua Umum PBNU itu urusan ulama-lah,” tukasnya, seperti dilansir kompas.com.(Dikutip dari Dutamasyarakat.com, tanggal 7 September 2009, oleh Khozanah Hidayati).

Iklan

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: