Kritik Terhadap Penanganan Kebocoran Gas di Lapangan Sukowati

29 Januari 2010
Oleh : Ahmad Mustofa *)

Lagi-lagi kebocoran gas terjadi di lapangan Sukowati di Desa Campurejo, Bojonegoro. Kejadian ini tidak hanya sekali ini saja terjadi namun sudah beberapa kali bahkan di bulan Juli 2006 kebocoran gas cukup menghebohkan karena disertai bunyi ledakan. Untuk kali ini kejadiannya di Sumur 9 di lapangan Pad A Sukowati yang baru saja diujicobakan mengalami gas kick.. Bau gas yang menyengat dari sumur tersebut mengakibatkan sedikitnya 15 warga Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, wilayah ring I sumur minyak yang dikelola Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB P-PEJ) itu, harus menjalani rawat inap di rumah sakit terdekat. Sementara puluhan warga lainnya menjalani rawat jalan dan ratusan warga sempat mengungsi ke beberapa tempat yang dianggap aman.

Sebenarnya gas yang berbau seperti telur busuk dan yang menyebabkan beberapa warga harus dilarikan ke rumah sakit ini berjenis apa? Kalau kita lihat ciri-cirinya dan berdasarkan informasi yang di dapat penulis di lapangan, jenis gasnya adalah gas H2S (Hidrogen Sulfida) atau gas asam. Jenis gas yang tidak berwarna namun sangat berbahaya karena bisa mematikan dan salah satu cirinya adalah berbau seperti telur busuk pada konsentrasi rendah (lkurang dari 27 ppm) namun akan hilang bau telur busuknya pada konsentrasi tinggi (diatas 100 ppm) karena saraf penciuman seseorang sudah rusak oleh gas tersebut.
Gas ini juga akan dapat terbakar dan meledak pada konsentrasi tinggi di range konsentrasi tertentu. Di samping itu gas ini juga bersifat korosif, sehingga dengan mudah dapat menyebabkan karat pada peralatan-peralatan yang terbuat dari logam.

Minyak dari sumur-sumur di lapangan Sukowati sendiri berdasarkan informasi yang patut dipercaya mengandung gas H2S dengan konsentrasi yang cukup tinggi, yaitu sekitar 20.000, PPM, suatu kandungan H2S yang cukup tinggi dan konon tertinggi di sumur-sumur minyak se Asia Tenggara. Dibandingkan misalnya kandungan H2S dari minyak-minyak yang dihasilkan di lapangan-lapangan Kalimantan dengan konsentrasi kurang dari 2 PPM dan bahkan tanpa adanya H2S dari minyak dan gas yang diangkat dari perut bumi.

Karena konsentrasi H2S yang tinggi, maka minyak dari sumur-sumur di lapangan Sukowati akan diolah untuk dipisahkan air dan dibuang H2S nya di kilang JOB Pertamina – Petrochina (JOB P – PEJ) di daerah Mudi Soko Tuban , sebelum di ekspor ke terminal FSO (Floating Storage Off loading) di lepas pantai utara Palang Tuban lewat jalur pipa dari Lapangan Mudi ke Palang Tuban.

Di dunia industri minyak dan gas, terikutnya H2S dalam minyak dan gas alam yang diangkat dari perut bumi adalah sebagai hal biasa dan sekaligus menjadikan tantangan yang harus dihadapi untuk mendapatkan minyak dan gas sebagai komoditas yang diperebutkan oleh semua Negara di dunia terutama Negara-negara maju.Karena teknologi pemisahan atau penghilangan H2S dari minyak sudah semakin maju.

Karena sifat gas H2S yang sangat berbahaya ini, maka penanganan dari pada gas tersebut mulai dari dalam sumur sampai ke tempat pemisahanyya dari minyak atau gas alam harus di lakukan secara cermat, teliti dan dengan teknologi tinggi serta disiplin tinggi pula, karena ada kesalahan prosedur sedikit saja ataupun ketidak disiplinan dalam hal perawatan peralatan maka akan menyebabkan kebocoran gas H2S.

Untuk itu beberapa mitigasi untuk menghilangkan atau meminimalkan terjadinya kebocoran harus dilakukan, yaitu kesatu karena gas ini sangat korosif maka pemilihan bahan – bahan untuk peralatan yang akan diigunakan mengalirkan dan mengolah minyak tersebut harus mempunyai spesifikasi yang tahan terhadap karat, jadi berbeda dengan peralatan – peralatan yang digunakan di kilang-kilang yang tidak mengandung H2S.

Kedua, disamping pemilihan peralatan yang spesifik, juga diperlukan pemeriksaaan secara berkala terhadap semua peralatan mulai dari peralatan sumur, manifold pengumpul, pipeline dan peralatan kilang pemisahan. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memeriksa kemungkinan terjadinya korosi pada peralatan-peralatan tersebut.

Ketiga, melakukan perawatan secara rutin terhadap peralatan-peralatan yang ada, baik berupa penggantian peralatan yang kurang berfungsi sempurna atau sekedar perawatan ringan.

Keempat, selain hal tersebut diatas juga diperlukan beberapa peralatan keselamatan seperti pemantau kebocoran gas, katup-katup pengaman dan sebagainya yang tujuan utamanya adalah kalau ada kebocoran gas di daerah sumur ataupun kilang akan diminimalkan dampaknya.
Dan peralatan pemantau kebocoran gas ini akan dihubungkan dengan peralatan alarm yang akan memberikan peringatan kepada petugas dan orang yang berada di sekitarnya (sumur atau kilang) bahwa telah terjadi kebocoran gas, sehingga mereka bisa siap-siap untuk dievakuasi oleh petugas ketempat yang aman.

Disamping itu perusahaan pengelola lapangan juga harus menerapkan Manajemen Keselamatan Kerja yang penerapannya harus benar-benar konsisten dengan disiplin tinggi. Diantaranya harus dibuat Rencana Tanggap Darurat /Emergency Response Plan (ERP) kalau terjadi kebocoran gas H2S ataupun kecelakaan kerja lainnya.

Rencana Tanggap Darurat (ERP) sendiri harus dibuat sedetail mungkin, dalam artian semua skenario kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kebocoran gas H2S harus di buat dan juga dilengkapi peralatannya serta keperluan administrasifnya. Dan juga skenario yang melibatkan korban dari pihak masyarakat yang berada di sekitar sumur atau kilang juga harus dibuat.
ERP sendiri juga harus disosialisasikan, disimulasikan dan dilatihkan secara regular kepada semua pihak yang terlibat, termasuk kepada masyarakat yang berada disekitar sumur atau kilang. Sehingga kalau terjadi kebocoran gas H2S masyarakat akan tahu apa yang harus diperbuat dan apa yang tidak boleh diperbuat dan tidak terjadi kepanikan yang luar biasa seperti kejadian-kejadian yang lalu.

Bagaimana Kondisi di Lapangan Mudi Tuban?
Hampir sama dengan kondisi di lapangan Sukowati, namun untuk jalur pipa dari lapangan Mudi ke Palang masih cukup aman, karena kandungan H2Snya sudah dihilangkan (diminimalkan), sehingga pipa yang terpasang tidak akan mudah korosi, lain halnya dengan jalur pipa dari lapangan Sukowati ke lapangan Mudi yang masih membawa minyak mentah dengan kandungan H2S di dalamnya dan juga peralatan-peralatan kilang di Mudi. Sendiri.
Tentunya kita yakin bahwa pihak JOB P-PEJ sudah melakukan mitigasi-mitigasi seperti dibicarakan di atas. Namun konsistensi dari pada penerapan hal-hal yang dibicarakan ini yang harus kita kritisi.

Mengkritisi Penanganan di JOB P-PEJ.
Kalau mengikuti perkembangan penanganan kebocoran gas H2S di lapangan Sukowati tersebut, rupanya masyarakat belum mendapat sosialisai yang cukup perihal sifat-sifat gas H2S dan juga masyarakat belum semuanya pernah dilibatkan dalam hal simulasi dan pelatihan dari Rencana Tanggap Darurat kalau terjadi kebocoran gas H2S. Hal ini terbukti masih banyak masyarakat yang bingung harus berbuat apa dan lari kemana saat terjadi kebocoran dan juga tidak ada petugas yang mengevakuasi masyarakat agar terhindar dari menghirup udara yang sudah tercemar oleh H2S.

Dari uaraian –uraian penulis di atas, diharapkan masyarakat dan utamanya aparat pemerintah daerah Tuban maupun Bojonegoro meminta kerjasama dan pengertian dari pada JOB P-PEJ agar menerapkan Management Safety System yang benar dan konsisten penerapannya, sehingga tidak akan terjadi lagi kebocoran gas yang menimbulkan korban manuasia. Kalaupun terjadi kebocoran gas lagi, diharapkan tidak akan menimbulkan korban dan kepanikan warga, karena masyarakat dan petugas sudah terlatih dan sigap menghadapi kondisi bahaya yang ada.

Dan yang perlu mendapatkan perhatian yang cukup serius juga dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan juga JOB P-PEJ adalah adanya sumur minyak di dekat calon Rumah Sakit Internasional Bojonegoro. Kalau sampai terjadi kebocoran gas di sumur tersebut dan kondisi angin mengarah ke rumah sakit (saat rumah sakit sudah berfungsi) maka tidak bisa dibayangkan berapa korban yang akan terkena, karena tentunya sebagaian besar korban dalam kondisi lemah karena dalam perawatan dokter sehingga untuk evakuasinya diperlukan cukup waktu. Namun semoga itu semua tidak terjadi, makanya kajian yang cukup mendalam terhadap permasalahan ini harus dilakukan. Maksud dari kajian tersebut adalah apakah jarak antara rumah sakit dan sumur minyak tersebut sudah cukup aman jika terjadi kebocoran gas? Apakah minyak dan gas yang dihasilkan dari sumur tersebut mengandung konsentrasi H2S yang tinggi? Kalaupun jaraknya sudah aman, apakah diperlukan mitigasi-mitigasi tertentu untuk menghindari jatuhnya korban manusia jika ada kebocoran gas?, dan seterusnya. Mudah-mudahan apa yang penulis takutkan tidak terjadi. Wallahu A’lam (AM, 30 Januari 2010).

*) : Penulis adalah seorang pekerja di bidang minyak & gas dan tinggal di Tuban.

, , ,

  1. #1 by insanu idris saputra on September 22, 2010 - 1:59 am

    aku suka sm nmanya pengeboran minyak dan aku tau yang pnya pengeboran minyak atu rig namanya pak sinto sama santo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: