Kurniawan muhammad: Gus Dur, PKB, dan (Mimpi) Islah

BEBERAPA hari setelah Gus Dur meninggal, seorang politikus sebuah partai besar yang sudah dua periode menjadi anggota DPR mengatakan, “Kalau saja pemilu dilaksanakan hari ini, pasti suara PKB akan meningkat signifikan.” Alasannya, meninggalnya Gus Dur mendapatkan empati dan simpati luar biasa dari publik nasional maupun internasional.

Bahkan, sampai sekarang pun, sudah sebulan sejak Gus Dur meninggal, makamnya di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, masih terus didatangi para peziarah.

Di kalangan sebagian nahdliyin, sosok Gus Dur yang dianggap “setengah wali” semakin mendapat legitimasi ketika mereka mencermati beberapa peristiwa pada hari-hari menjelang meninggalnya Gus Dur.

Misalnya, ketika sedang dirawat di RSCM Jakarta, tiba-tiba Gus Dur minta diantar ke Kantor PB NU. Padahal, saat itu dokter dan anggota tim medis yang merawat Gus Dur tidak mengizinkan. Tapi, Gus Dur tetap ngotot. Dan itulah Gus Dur. Jika punya keinginan, sulit sekali dibendung.

Belakangan setelah Gus Dur meninggal, baru bisa dipahami keinginan Gus Dur tersebut. Itulah kunjungan terakhir Gus Dur ke Kantor PB NU. Sepertinya, Gus Dur merasa bahwa umurnya akan sampai. Dan sebelum benar-benar sampai, dia ingin menyempatkan mampir ke Kantor PB NU. Kantor PB NU adalah salah satu tempat yang paling disukai Gus Dur.

Peristiwa lainnya terjadi di Jombang. Saat itu, Gus Dur dan istrinya, Ny Shinta Nuriyah, berziarah ke makam leluhur di Denanyar dan Tambak Beras. Kondisi Gus Dur sempat drop. Dia lantas dirawat di RSUD Jombang. Saat itu (24 Desember 2009), ketika dijenguk salah seorang kerabat, Gus Dur berjanji akan datang lagi ke Jombang pada tanggal 31 Desember 2009. Dan ternyata, Gus Dur memang datang ke Jombang pada tanggal itu, tapi untuk dimakamkan di Pondok Pesantren Tebuireng.

Lantas, apa kaitannya dengan suara PKB yang diperkirakan meningkat seandainya pemilu dilaksanakan beberapa hari setelah Gus Dur meninggal? “Karena Gus Dur tak bisa dilepaskan dari PKB, dan PKB masih identik dengan Gus Dur,” kata teman yang bukan politikus PKB itu. Dia menjelaskan, meninggalnya Gus Dur akan melahirkan efek simpati. Baik dari kalangan nahdliyin maupun di luar nahdliyin (bahkan di luar Islam). Efek simpati itulah yang, menurut dia, akan menjadi berkah bagi PKB. “Sayang, pemilu dilaksanakan pada 2014.”

***

Efek simpati seperti yang disebutkan teman saya yang politikus itu memang biasa terjadi dalam dunia politik. Sejumlah jurnal marketing politik yang pernah saya baca juga membenarkan soal efek simpati yang bisa terjadi akibat sebuah tragedi atau kesedihan karena meninggalnya seorang tokoh politik yang sangat berpengaruh atau disegani.

Salah satu jurnal itu ditulis Amy E. Jasperson dari University of Texas di San Antonio, Amerika Serikat (AS). Dalam tulisannya, Jasperson mengambil contoh kasus dari ajang perebutan kursi senator AS 2002 di Minnesota. Saat itu, Paul Wellstone, senator yang berkuasa, tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat, lima hari sebelum pemilihan. Kematian Wellstone mendapat porsi pemberitaan yang cukup besar dari media di sana. Saat itu diyakini, tragedi politik tersebut menimbulkan efek simpati publik di sana sehingga diyakini pengganti Wellstone, Walter Mondale, bakal menang telak. Tapi, apa yang terjadi? Ketika hari H pemilihan, Mondale kalah tipis dari Coleman, saingan beratnya. Mondale mendapatkan 47,3 persen suara, Coleman 49,5 persen. Menurut Jasperson, salah satu yang mencolok penyebab kekalahan Mondale ialah karena tim pendukungnya pecah alias tidak solid. Perpecahan di tubuh tim Mondale itu sempat menjadi pemberitaan yang tak kalah serunya selain berita kematian Wellstone. Sehingga, menurut Jasperson, efek simpati dari kematian Wellstone gagal dibangun secara maksimal oleh Mondale karena terganggu perpecahan itu. Akibatnya, Mondale dikalahkan Coleman.

***

Seandainya pemilu dilaksanakan beberapa hari setelah Gus Dur meninggal, benarkah suara PKB akan meningkat signifikan? Inilah yang rupanya masih harus diuji. Sebab, PKB hingga saat ini masih dalam kondisi “tidak solid”.

Ikhtiar islah antara dua kubu (kubu Yenny Wahid dan kubu Muhaimin Iskandar) yang digagas para kiai sepuh NU hingga saat ini masih sebatas wacana. Banyak yang berharap, meninggalnya Gus Dur bisa menjadi momentum bagi terwujudnya islah tersebut. Tapi, semuanya bergantung kepada Mbak Yenny dan Cak Imin.

Untung, pemilu baru dilaksanakan pada 2014 nanti. Semoga, selama rentang waktu menunggu pemilu, islah akan terwujud dan PKB bisa lebih berjaya. (kum@yahoo.co.id) (Dikutip dari Jawa Pos, tanggal 30 Januari 2010).

Iklan

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: