Ketidakadilan? Hanya Mencuri Setandan Pisang Diganjar 3,5 Bulan

Pasutri Supriyono, 19, dan Sulastri, 19, terdakwa pencurian setandan pisang divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Bojonegoro Jawa Timur 3,5 bulan. Hari ini (31/1) kedua terdakwa akan bebas dari penderitaan jeruji besi, mereka yang masih menganggur mendapat tawaran pekerjaan dari sejumlah pihak. Sementara Sulastri ingin jualan pisang goreng.

Peristiwa diatas terjadi saat suami istri tersebut, karena merasa tidak punya makanan dirumah yang bisa dimakan, mereka berboncengan motor mau menacari hutangan uang untuk membeli makanan, saat melewati pekarangan tetangganya tergiur untuk mengambil setandan pisang dan sialnya ketahuan oleh tetangganya tersebut, yang kemudian melaporkannya ke kepolisian.
Kasus ini menjadi kontroversi di daerah Bojonegoro, karena hanya pencurian barang seharga tidak lebih dari Rp 5000,- si terdakwa diproses ke meja hijau. Padahal banyak sekali kasus-kasus besar yang melibatkan uang milyaran rupiah dan kebetulan pelakunya adalah para pejabat tidak ditindaklanjuti dengan serius oleh aparat penegak hukum. Atau kalau ditindak lanjuti, itu hanya kosmetik saja, misalnya kasus yang melibatkan mantan ketua DPRD Bojonegoro, walau ditindak lanjuti tapi para tersangka tidak dikenai penahanan.

Dalam kasus ini, sebenarnya bisakah kepolisian ataupun kejaksaaan melepas si terdakwa, karena alasan kemanusiaan dan kecilnya barang yang dicuri? Karena kalau melihat dari aspek keadilan sungguh ironis sekali hanya mencuri standan pisang, hukumannya 3,5 bulan.

Dari kaca mata awam, mestinya para penegak hukum di Bojonegoro harus bijak dalam menyikapi hal seperti ini. Kalau mereka tidak diperkenankan melepaskan pencuri semacam ini, mestinya mereka bisa mencari celah dari pihak yang dirugikan, dalam hal ini si pemilik pisang untuk mengihlaskan pisang tersebut dan selanjutnya si terdakwa dilepaskan demi “kesetaraan keadilan dimasyarakat” (dalam artian tidak ada yang dianak emaskan dan tidak ada yang dianaktirikan dalam bidang hukum ), dan juga demi kemanusiaan.
Kalau hal ini dijalankan, maka tidak ada lagi orang kecil seperti pasangan suami istri Supriyono dan Sulastri ini harus mendekam 3,5 tahun hanya gara-gara mencuri setandan pisang.

Yang perlu mendapatkan ancungan jempol adalah para penasehat hukum paangan suami istri tersebut, karena sebelumnya mereka tidak didampingi pengacara. Namun karena kasus ini di blow up oleh media masa, maka banyak sekali orang yang bersimpati dan berempati. Kemudian beberapa pengacara mengajukan menjadi penasehat hukumnya.

Dengan adanya pembelaan dari penasehat hukum ini, ancaman hukuman yang dikenakan 7 tahun penjara bisa diminimalkan sehingga hanya menjadi 3,5 bulan.
(AM 1 February 2010).

Iklan

,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: