Akankah Nasional Demokrat (ND) Menjadi Parpol Besar?

Dibentuknya ormas Nasional Demokrat (ND) dinilai berbagai kalangan akan bermuara kepada partai politik. Karena kalau kita melihat dari deretan para deklaratornya kebanyakan berasal dari barisan yang terpinggirkan karena kalah dalam perebutan kekuasaan di pemerintahan (bekas cagub, atau bekas mentri) ataupun kalah dalam perebutan kekuaaan partai-parai besar ataupun menengah. Mereka berasal dari Partai Golkar, PAN, PKB, PDIP dan lain sebagainya.

Pendapat berbeda disampaikan pengamat politik dan kebijakan public Universitas Indonesia (UI) Andrinov Chaniago. Dia menilai ND sulit untuk menjadi partai politik di tahun 2014. Karena ormas tersebut hanyalah sebuah gerakan moral dan gerakan politik semata yang berisi tokoh-tokoh independen dan para politisi. Jika memang bermuara kepada parpol, lanjut Andrinov, sebagian tokoh tersebut justru akan keluar dari anggota dan ND akan melemah.
Andrinof mengakui, ND memiliki unsur politis karena terdiri dari berbagai polotisi yang kalah di beberapa pertarungan politik. Menurutnya, ND adalah kelompok gabungan beberapa politisi yang merasa kecewa terhadap pertarungan tersebut. Atau bisa kita katakan ND adalah barisan sakit hati yang mencoba untuk berkumpul dan membuat organisasi masa yang bertujuan sebagai gerakan moral, sosial dan politik di luar partai politik yang ada.
Namun perlu juga ditelaah bahwa duo inisiator pembentukan ND ini juga pernah gagal dalam perebutan kekuasaan. Yang satu gaagl maju menajdi calon presiden dari partai Golkar dan satu lagi gagal memperoleh kursi sebagai ketua umum partai Golkar. Karena itu kunci apakah ND ini akan menjadi partai atau tidak adalah terletak pada kedua inisiator ini, kalau nafsu politik beliau masih tinggi, maka tidak perlu disangsikan bahwa ND akhirnya akan menjadi partai politik yang mencoba peruntungan tahun 2014 nanti.
Kalau benar ND berubah menjadi partai politik, apakah ND akan menjadi partai besar? atau hanya partai yang akan hanya berumur satu kali pemilu saja, kemudian berganti nama kaerna tidak memenuhi ketentuan untuk lolos parlemen.
Menurut hemat penulis, tidak ada sebuah partai yang akan menjadi besar kalau para pengurusnya apalagi pengurus intinya adalah merupakan barisan sakit hati. Sudah banyak contoh yang bisa kita lihat, sebut misalnya para barisan “sakit hati” yang keluar dari PDIP kemudian mendirikan partai. Dari sini kita bisa sebutkan ada 2 – 3 partai yang akhirnya menjadi partai non parlemen. Demikian juga para barisan “sakit hati” yang keluar dari PPP, PKB ataupun PBB kemudian mendirikan partai masing-masing dan partai barunya tersebut akhirnya tidak lolos ke Senayan.
Dari fakta sejarah tersebut bisa ditarik benang merah bahwa para barisan sakit hati tersebut sebenarnya mempunyai idialisme dan cita-cita yang sangat tinggi dan mulia, namun karena mereka tidak mau berada dalam satu perahu dengan orang atau kelompok yang pernah “bermusuhan” ketika perebutan pengurus suatu partai tersebut, akhirnya mereka keluar dari partai tersebut dan mendirikan partai baru. Dan demikian juga pihak pemenang perebutan pimpinan dalam partai tersebut tidak bisa merangkul kawan yang mereka kalahkan untuk duduk sama renaah dan berdiri sama tinggi untuk membesarkan partainya.
Atau kita bisa tarik kesimpulan, bahwa memang kita sebagai bangsa belumlah dewasa untuk bisa berdemokrasi secara benar. Bisa menerima kekalahan dan bisa menyikapi kemenangan. Sehingga yang kalah tidak merasa disingkirkan dan yang menang tidak merasa unggul atas lainnya.
Untuk memperbaiki keadaan ini (bisa mencapai tarraf kedewasaan berdemokrasi), masih diperlukan waktu yang lama. Karena kita ini sebagai bangsa, baru benar-benar menerapkan demokrasi baru sekitar 12 tahun. Sehingga untuk menjadi dewasa masih diperlukan waktu kira-kira minimal 10 – 15 tahun lagi.
Jadi kesimpulannya kalau ND ingin didorong atau dirancang menjadi partai besar, maka para pengurus atau deklaratornya harus mempunyai satu kesamaan visi dan misi, bukan kesamaan nasib (misalnya karena tersingkirkan dari kekuasaan pemerintah / partai). Dari kesamaan visi dan misi tersebut juga harus dicari seorang pimpinan tertinggi yang mempunyai kharisma dan kepimpinan yang kuat. Karena tanpa pimpinan yang kuat dan punya kharisma akan sulit sebuah partai menjadi besar, karena mayoritas masyarakat kita masih mengandalkan itu.
Semoga ND tetap manjadi organisasi kemasyarakatan seperti yang dideklarasikan kemarin, yaitu menjadi sebuah gerakan perubahan yang berikhtiar menggalang seluruh warga negara dari beragam lapisan untuk merestorasi Indonesia (AM, 2 Pebruari 2010).

,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: