Anggota FKB Serahkan Dana Gratifikasi Nurlina

TUBAN – Kasus pencemaran nama baik yang diusung Nurlina, ketua Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP) DPRD Tuban telah dicabut. Namun, kasus itu menjadi bola panas bagi dirinya. Sebab, Muhyidin, anggota FKB DPRD setempat mengaku mengetahui Nurlina mendapatkan hadiah atau dana gratifikasi.

Pengakuan itu dia sampaikan kemarin (16/2) dengan mendatangi mapolres setempat. Bahkan, Muhyidin juga menyerahkan dana Rp 1 juta. Uang itu berasal dari sebagian hasil gratifikasi Nurlina yang diserahkan kepada dirinya. Jumlah total dana gratifikasi yang diterima Nurlina Rp 1,5 juta. Dari jumlah tersebut, sebagian diserahkan Muhyidin sesaat setelah menerima dana gratifikasi untuk membayar utang.

Menurut dia, pada 18 Januari lalu saat paripurna pembentukan komisi, dirinya bermaksud meminta uang kepada Nurlinah. Alasannya, wanita berjilbab itu mempunyai tanggungan utang. ”Namun, dia (Nurlina) mengaku tidak mempunyai uang,” cerita Muhyidin.

Karena yang bersangkutan tidak mempunyai uang, maka dia mengurungkan niatnya untuk menagih. Saat paripurna, lanjut Muhyidin, Nurlina bersama anggota dewan lainnya berada di ruang rapat. Sementara dirinya bersama anggota FKB, FPDIP, dan F-Gerindra berada di luar ruang paripurna. Ketika itu, ketiga fraksi tersebut memboikot pembentukan komisi.

”Setelah paripurna, saya mendapat informasi dari anggota dewan yang ikut rapat paripurna bahwa dia (Nurlina) mendapat uang Rp 1,5 juta dari salah satu anggota,” papar politisi asal Plumpang ini.

Setelah mendapat informasi itu, Muhyidin mencari Nurlina. Guru di salah satu MTs di Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang ini pun mengaku bertemu Nurlina di Jalan Walisongo. ”Ketemu di situ saya minta uang. Saya hanya dikasih Rp 900 ribu. Terus saya minta lagi, dikasih Rp 100 ribu. Sisanya, Rp 500 ribu kata dia untuk memeriksakan anaknya yang sakit. Saya tanya, uang itu dari salah satu anggota,” tuturnya sambil mengingat peristiwa tersebut.

Untuk memberikan dukungan moral atas keberanian Muhyidin mengungkap kasus dugaan korupsi di lingkaran anggota dewan, kemarin sebelas anggota DPRD yang pro pengusutan kasus tersebut ikut mendatangi mapolres setempat. Mereka adalah Syakir Syafii, Fahmi Fikroni (FKB), Karjo, M. Abu Kholifah, Sunoto, dan Urip Sunarya (FPDIP). Berikutnya, Syariful Huda, Hendrat Setiaji, Syaroful Minan, Imam Solikin, dan Rahmad (F-Gerindra).

Begitu tiba di mapolres Tuban, mereka lebih dulu bertemu dengan Kapolres Tuban AKBP Nyoman Lastika di ruang kerjanya. Setelah itu, mereka menuju ruang penyidikan di Unit III Satreskrim.

Muhydini menegaskan bahwa dirinya siap menjadi saksi agar kasus gratifikasi tersebut terungkap. Selain memberikan keterangan seputar penerimaan dana gratifikasi yang diketahui, dia juga sudah menyiapkan dana gratifikasi Rp 1 juta yang diterima dari Nurlina. ”Ya ini uang. Masih utuh. Belum saya belanjakan,” kata dia sambil menunjukkan uang pecahan kertas Rp 50 ribu.

AKBP Nyoman Lastika yang dikonfirmasi melalui ponselnya menyatakan, karena sebagian wakil rakyat tersebut siap memberikan keterangan, maka penyidiknya akan memeriksa. ”Mereka akan kita layani,” tutur dia.

Seperti diberitakan, kasus ini berawal dari laporan pencemaran nama baik yang diusung Nurlina ke mapolres Jumat (12/2) lalu. Dia melaporkan Rahmad, 40, anggota F-Gerindra, karena mengirim dua pesan pendek (SMS). SMS tersebut tertulis, P3 gak komit, khianat. Hanya Rp 1,5 juta geblak dewe (tunduk). SMS ini fakta. Kalau benar memalukan martabat DPR ngisin2ni. SMS lain tertulis, segitu itu (Rp 1,5 juta) harga purel karaoke, bukan harga seorang DPR. Memalukan.

Saat melapor, dia mengaku menerima uang saku Rp 1,5 juta dari sebuah pertemuan. ”Yang menyerahkan anggota dari salah satu anggota fraksi. Namanya saya lupa,” kata Nurlina.

Kasus ini kemudian dia cabut. Namun, kasusnya lalu berkembang ke arah adanya gratifikasi kepada Nurlina. Saat dikonfirmasi wartawan koran ini, Nurlinah menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mengatakan uang itu dari salah satu anggota dewan kepada Muhyidin. ”Saya tidak pernah bilang seperti itu, demi Tuhan saya tidak pernah bilang,” katanya.

Politisi asal Senori ini menjelaskan, dirinya tidak tahu menahu tentang uang gratifikasi Rp 1,5 juta. (ds/zak) (Dikutip dari Radar Bojonegoro, tanggal 17 Feb. 2010).

Iklan

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: