JOB – PPEJ dan Hubungan dengan Masyarakat Sekitar

Oleh : Khozanah Hidayati

Pabrik pengolahan minyak dari ladang Mudi dan Sukowati yang dikelola oleh JOB Pertamina – Petrochina East Java (JOB – PPEJ) yang terletak di desa Rahayu Soko Tuban, akhir -akhir ini sering mendapat protes yang cukup sering dari masyarakat di sekitarnya. Misalnya protes warga tanggal 9 Maret 2010 lalu. Mereka protes dengan cara mendirikan terob di tiga titik, yaitu di pintu masuk Pad A, Pad B, dan pintu darurat yang berada di Pad B. Akibatnya, aktivitas pengolahan dan pengeboran minyak lumpuh.

Kekesalan warga dipicu sikap JOB P-PEJ yang belum merespons sejumlah tuntutan yang mereka ajukan. Di antara tuntutan warga itu adalah 85 persen dari rekrutmen tenaga kerja dari desa setempat, relokasi SDN Rahayu I dan II yang ada di sekitar CPA, mendirikan pos kesehatan, serta minta JOB P-PEJ menyewa atau membeli tanah yang berada di radius 500 meter dari CPA.

Kalau kejadian seperti pemblokiran ini sering terjadi, tentunya ada sesuatu yang salah dalam penanganan hubungan antara JOB – PPEJ dan masyarakat sekitarnya. Karena kalau hubungan mereka baik, tentunya aksi demo ataupun pemblokiran tidak akan terjadi.

Sebenarnya hubungan antara sebuah pabrik yang dikelola oleh sebuah perusahaan dan masyarakat sekitarnya harus berlangsung harmonis supaya jalannya produksi berjalan dengan lancar sehingga menghasilkan keuntungan yang diharapkan dan tentunya tidak menafikan akan adanya tuntutan masyarakat yang berhak untuk hidup layak tanpa adanya gangguan pencemaran suara, pencemaran udara, gangguan keramaian lalu lintas akibat aktifitas pabrik dan sebagainya.

Kalau mengacu pada JOB – PPEJ, tentunya harapannya pengeboran dan pengolahan minyak dari ladang Mudi dan ladang Sukowati serta juga pengolahan minyak dari Blok Cepu tidak terganggu, sehingga bisa berproduksi lancar dan bisa berkiprah menopang target produksi minyak nasional yang kabarnya untuk tahun ini sangat sulit tercapai targetnya. Dan agar ini tercapai maka hubungan dengan masyarakat sekitar harus terjaga dengan baik agar tidak ada pemblokiran dan demo.

Pantaskah tuntutan warga yang disebutkan di atas yang dialamatkan kepada JOB – PPEJ? Untuk menjawab pertanyaan itu marilah kita lihat kondisi lapangan sebenarnya.

Desa Rahayu Kecamatan Soko sebelum adanya pengeboran minyak di awal tahun 1990-an adalah merupakan tipical desa di Jawa Timur yang mayoritas masyarakatnya adalah petani. Dan kondisi desanya masih benar-benar asri dalam artian tidak ada pencemaran sama sekali karena memang tidak ada satupun pabrik yang berdiri di desa tersebut. Sehingga secara garis besar masyarakat desa Rahayu saat itu masih benar-benar bisa hidup sehat tanpa adanya pencemaran maupun gangguan karena aktifitas suatu pabrik.

Sekarang ini setelah sekitar 15 tahun lebih adanya pengeboran dan pengolahan minyak yang dikelola oleh JOB – PPEJ, kondisi desa Rahayu memang relatif maju dengan ditandai mulusnya jalan – jalan menuju desa tersebut yang sangat kontras dengan sebelum adanya operasi JOB – PPEJ maupun adanya geliat ekonomi warga akibat efek rantai ekonomi dari operasi JOB – PPEJ. Namun kemajuan itu semua masih bersifat sangat relatif, mengingat adanya pencemaran udara karena adanya pembakaran gas terus menerus dari beberapa flare (cerobong pembakaran gas) yang beroperasi sehingga menimbulkan pencemaran udara, dan juga menimbulkan panas untuk desa Rahayu dan desa-desa sekitarnya serta menimbulkan bau busuk.

Di samping adanya penecemaran dan gangguan seperti tersebut di atas, masih adanya ancaman dari bocornya gas H2S yang terbawa oleh minyak dari sumur dengan konsentrasi konon sampai mencapai 20.000 ppm. Suatu konsentrasi yang sangat tinggi. Ancaman itu sendiri terjadi jika ada kebocoran pipa penyalur minyak dari sumur-sumur Mudi mapun kebocoran di kilang pengolahan Mudi CPA. Karena di sinilah adanya pemisahan minyak dan H2S.

Perihal sifat gas H2S (Hidrogen Sulfida) sendiri adalah jenis gas yang tidak berwarna namun sangat berbahaya karena bisa mematikan dan salah satu cirinya adalah berbau seperti telur busuk pada konsentrasi rendah (kurang dari 27 ppm) namun akan hilang bau telur busuknya pada konsentrasi tinggi (diatas 100 ppm) karena saraf penciuman seseorang sudah rusak oleh gas tersebut. Gas ini juga akan dapat terbakar dan meledak pada konsentrasi tinggi di range konsentrasi tertentu. Di samping itu gas ini juga bersifat korosif, sehingga dengan mudah dapat menyebabkan karat pada peralatan-peralatan yang terbuat dari logam.

Sehingga kalau sampai ada kebocoran H2S dikhawatirkan akan membawa korban manusia. Dan tentunya keberadaan masyarakat di sekitar pabrik juga sangat mengkhawatirkan. Dan apakah hal ini juga sudah diantisipasi oleh pihak JOB-PPEJ kalau seandainya terjadi musibah kebocoran H2S ? Jangan sampai tragedi kemanusiaan akibat kebocoran gas H2S yang pernah terjadi di Tiongkok tepatnya di Chongqing – Sichuan December 2003  terjadi di Lapangan Mudi, dimana kecelakaan keboron gas H2S di Tiongkok tersebut sampai menelan korban 243 orang meninggal dan 64.000 orang harus dievakuasi.

Akibat adanya pencemaran dan gangguan tersebut serta adanya ancaman kebocoran H2S yang sangat berbahaya, kiranya cukup logislah warga menuntut beberapa hal seperti adanya fasilitas kesehatan untuk masyarakat secara gratis, memprioritaskan tenaga kerja lokal warga sekitar pabrik, relokasi sekolah SD Raayu 1 dan 2 serta menyewa atau membeli tanah warga yang berada di radius 500 meter dari pabrik CPA.

Karena dengan adanya fasilitas kesehatan bagi warga sekitar akan sangat membantu sekali menopang kesehatan warga yang sering terganggu akibat pencemaran udara yang ditimbulkan oleh operasi JOB-PPEJ. Dan untuk tenaga kerja lokal semestinya JOB – PPEJ juga harus pandai mengatasinya walau kwalitas SDM nya masih kurang.

Relokasi SDN 1 dan 2 desa Rahayu adalah merupakan tuntutan yang sangat mendesak, mengingat jarak kedua SDN tersebut sangat dekat sekali dengan flare dari pabrik CPA. Di SDN tersbutlah masa depan generasi desa Rahayu di godok dan dipertaruhkan. Kalau proses belajar mengajar di SDN tersebut selalu terganggu oleh pencemaran udara, panasnya udara serta adanya bau busuk yang menyengat, maka msetinya kwalitas belajar mengajar akan menurun dan akhirnya kwalitas anak didik juga jadi menurun dan akhirnya kwalitas SDM desa Rahayu jadi dipertaruhkan.

Pembebasan lahan dengan radius 500 meter dari pabrik CPA juga tidak terlalu mengada-ada, mengingat suatu proses pengolahan minyak dan gas di dunia industri minyak dan gas mengenal akan istilah Buffer Zone, yaitu zona yang harus dibebaskan dari kegiatan domistik (umum) untuk alasan keselamatan. Jadi mestinya sekitar 15 tahun yang lalu hal ini sudah harus dilakukan.

Semoga permasalahan hubungan antara warga sekitar dan JOB-PPEJ ini bisa segera terselesaikan. Sehingga hubungan harmonis antara warga dan JOB-PPEJ tercapai dan tentunya akan menunjang proses produksi minyak dengan lancar. Dan akhirnya dari desa Rahayu tersebut bisa menjalankan tugas mulia untuk menopang target produksi migas nasional (AM, 16 Maret 2010).

, ,

  1. #1 by misbach on Agustus 6, 2010 - 8:24 am

    seharusnya job ppej bisa bersikap harmonis kepada masyarakat sekitar, agar aktifitas pabrik bisa berjalan normal.
    dan menaggapi protes warga dengan cara musyawarah untuk mengapai mufakat bersama.

  2. #2 by misbach on Agustus 6, 2010 - 8:26 am

    seharusnya job ppej bisa bersikap harmonis kepada masyarakat sekitar, agar aktifitas pabrik bisa berjalan normal.
    dan menaggapi protes warga dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: