Goa Wonoarum Terancam

Kamis, 18 Maret 2010 | 11:55 WIB

TUBAN-Direktur Lembaga Konservasi CAGAR, Drs Edy Thoyibi, SH, S.Ag, SE, mensinyalir adanya ancaman yang ditimbulkan aktivitas tambang PT Semen Gresik (Persero), Tbk (PT SG), terhadap goa Wonoarum, Dusun Tlogongasem, Desa Temandang, Kecamatan Merakurak.

Hasil penelitian CAGAR bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal ) Universitas Ronggolawe (Uniro) Tuban yang dirilis Rabu (17/3), menemukan retakan-retakan pada dinding goa yang mengancam rusaknya stalagtit dan stalagmit, termasuk lima pilar penyangga goa itu.

“Satu pilar bahkan sudah patah,” kata Edy Thoyibi.

Menurut Edy Thoyibi, aktivitas eksploitasi bahan tambang dengan menggunakan peledakan yang dilakukan PT SG menjadi sebab rusaknya goa tersebut. Sebab kendati jarak antara Goa Wonoarum dengan lokasi peledakan relatif jauh, namun getarannya

mampu menembus radius 1 Km lebih, sehingga sangat mungkin berpengaruh pada Goa Wonoarum.

Edy Thoyibi berharap PT SG tidak menggunakan bahan peledak untuk eksploitasi tambangnya, agar tidak mengancam kelestarian goa Wononarum. “Goa ini termasuk langka karena termasuk jenis goa fosil. Jadi sudah sepatutnya dilindungi,” kata Edy Thoyibi.

Informasi yang dihimpun Surabaya Post, Goa Wonoarum tersebut diketahui pertama kali oleh Sadak (53), petani warga setempat, pada 1996 lalu. Lokasinya berada di luar area tambang PT SG. Sadak tercatat sebagai pemegang hak milik lahan tersebut.

Menurut Tarsipin (36), warga setempat, saat temuan goa tersebut dilaporkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban telah menetapkannya sebagai tempat yang dilindungi. Bahkan Pemkab Tuban membuka untuk umum goa tersebut.

“Tapi nggak tahu kok kemudian goa itu tidak dibuka lagi,” kata Tarsipin.

Tarsipin mengakui banyak ornamen goa yang rusak. Ia juga menduga peledakan tambang PT SG yang menjadi penyebabnya.

Tarsipin mengaku menyayangkan rusaknya goa Wonoarum tersebut, karena seharusnya goa itu bisa menjadi asset berharga yang berpengaruh pada pendapatan warga sekitar. “Kalau goa itu dilestarikan dan dibangun sebagai tempat wisata, kan warga dapat manfaat ekonomisnya,” tambah Tarsipin.

Sementara itu Kepala Divisi Komunikasi PT SG, Saifudin Zuhri membantah jika rusaknya goa Wonoarum akibat peledakan tambang PT SG. Menurut Saifudin Zuhri, PT SG telah menerapkan sistem peledakan tunda (delay blasting), dan hanya

menimbulkan getaran 3 mm per detik.

“Getaran yang ditimbulkan sangat rendah. Bandingkan, getaran yang ditimbulkan dum truck saja mencapai 7 mm per detik. Jadi saya tidak yakin kalau rusaknya goa itu akibat getaran peledakan tambang PT SG,” jelas Saifudin. bek (Dikutip dari Surabaya Post, 19 Maret 2010).

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: