Pedagang di Terminal Kambang Putih Khawatir Terusir

OLEH: SUBEKTI

Sejumlah pedagang yang menempati kios-kios di Terminal Wisata Kambang Putih Tuban (TWKPT) barangkali sulit tidur akhir-akhir ini. Uang sudah terlanjur banyak keluar, dagangan sepi, modal tentu saja belum kembali. Sementara kabar yang beredar, Pemkab akan mengambil alih pengelolaan terminal itu dari PT Hutama Karya (PT HK).

“Apa kami tidak akan terusir nantinya,” kata Hj. Taslim (47), salah seorang pedagang, Kamis (18/3).

“Kami dulu kan beli sama kontraktornya; sekarang bermasalah, kabarnya kami akan didata ulang,” jelasnya.

Menurut Hj. Taslim, dulu ia membeli kios seluas 4 X 6 tersebut lewat CV Mahajana, sub kontraktor PT HK seharga Rp 30 juta. Hj. Taslim sama sekali tidak menduga jika terminal tipe A senilai Rp 39,1 miliar itu bakal bermasalah, sehingga CV Mahajana dipenalti dan bahkan direkturnya dimeja-hijaukan.

Padahal, kata Hj. Taslim, sejak kiosnya dibuka tahun 2005 lalu, total pendapatan baru Rp 12 juta-an. “ Terminalnya sepi begini. Sehari dapat untung bersih Rp 20 ribu saja sudah sukur,” kata Hj. Taslim.

Hj. Taslim berharap, Pemkab tidak meminta pedagang membayar sewa kios lagi, karena pedagang telah membelinya dari pengembang. “Jelas kalau diminta membayar lagi ya kami keberatan,” tambahnya.

Muntamah (46), pedagang lainnya, bahkan mengaku mendapat penghasilan lebih sedikit lagi karena barang dagangannya berupa rokok, permen, topi dan makanan ringan nyaris tidak pernah tersentuh pembeli. “Bagaimana mau laku, wong terminalnya selalu sepi begini,” katanya.

Kabid Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata, Budi Wiyana, saat dikonfirmasi mengatakan, pengambil-alihan pengelolaan TWKPT memang sudah seharusnya dilakukan Pemkab, lantaran pihak investor telah dinyatakan tidak sanggup melanjutkan kontrak pengelolaan.

Pemkab sendiri telah mengajukan anggaran sebesar Rp 5,7 miliar untuk perbaikan 176 kios di terminal tersebut.

Menurut Budi Wiyana, justru setelah dikelola Pemkab, pedagang akan diuntungkan karena tidak harus membeli kios, tapi hanya dibebani biaya sewa. Namun Budi Wiyana belum bisa menegaskan, apakah uang pembelian kios pedagang yang sudah dibayarkan kepada pengembang akan dikembalikan atau dianggap hangus.

“Nanti akan kita bicarakan bersama. Tujuan kami jangan sampai para pedagang merasa dirugikan,” katanya.

Budi Wiyana meyakinkan, setelah wisata laut yang berada di sisi terminal selesai dibangun dan dioperasikan, TWKPT akan ramai. “Pedagang pun akan mendapat untung, sebab nantinya akan banyak kendaraan wisata yang parkir di sini,” katanya optimis.

Rencana perbaikan kios dan tempat wisata TWKPT itu sebenarnya belum final. Kendati alokasi anggarannya telah disetujui DPRD, tiga Fraksi yakni FPKB, FPDIP dan Fraksi Gerindra masih mempermasalahkannya.

“ Kami tetap tidak setuju, karena pengalokasian anggaran tersebut terkesan hanya untuk menyelamatkan pengembang,” tandas Sa’dun Naim, Wakil Ketua DPRD dari FPKB. (Dikutip darai Surabaya Post, 19 Maret 2010).

Iklan

, , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: