NU dan Revitalisasi Pesantren

Oleh : Khozanah Hidayati *)
Dengan terpilihnya KH. Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum NU pada muktamar NU ke-32 di Makasar akhir Maret lalu, maka asa sebagian besar warga nahdliyin agar NU menjaga jarak dari tarik-menarik politik praktis kiranya segera terwujud. Apalagi terpilihnya KH. Said tersebut dibarengi dengan terpilihnya KH. Sahal Mahfudz sebagai Rais Am NU, dimana beliau adalah seorang figur di NU yang low profil dan juga jauh dari nafsu politik.

KH. Said Agil Siradj sendiri setelah terpilih menegaskan bahwa dia akan membersihkan NU dari tarik-menarik kepentingan politik praktis dan membawa NU kembali ke pesantren. Pesantren sebagai pusat agama, ilmu, akhlak, peradaban, budaya, kesederhanaan, kemandirian, dan persaudaraan yang sangat kukuh. Dia juga mengatakan, NU di bawah kepengurusannya kelak akan merevitalisasi pesantren. Hal itu sebagai prinsip atau paradigma membangun masyarakat, khususnya warga nahdliyin. Semua itu berangkat dari semangat revitalisasi pesantren dengan mengonseptualkan kitab kuning karena kita tidak bisa lepas dari itu.

Menurut Said, pesantren akan menyelamatkan jati diri umat Islam dan lebih umum untuk bangsa. Makanya, misi dia membawa NU kembali ke pesantren. Di tengah era globalisasi yang sangat keras, tarik-menarik yang sangat keras, dari kanan radikalisme, sektarian, teroris, dari kiri sekuler, liberal, maka berangkat dari prinsip pesantren itulah kita bisa menyelamatkan jati diri dan nilai-nilai dari bangsa Indonesia.

Dengan adanya tekad dan keinginan dari Ketua Umum NU terpilih tersebut bahwa NU akan dijauhkan dari terik-menarik kepentingan politik praktis dan mengembalikan NU ke pesantern, sudah sepantasnya program tersebut perlu di dukung oleh semua warga nahdliyin dan juga oleh semua elemen bangsa termasuk pemerintah. Karena dengan suksesnya program revitalisasi pesantren, maka akan memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi penyelesaian permasalahan bangsa yang sangat kompleks sekarang ini.

Pesantren , Terosisme dan Radikalisme
Anjuran jihad global melawan Amerika, sekutunya, dan siapa pun yang tidak sefaham dengan teror bom oleh kelompok fundamentalis, menjadi bahan penting dan cambuk bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih serius memberantas terorisme. Dan tentu hal ini juga menjadi tugas pesantren-pesantren (khusunya pesantren NU) untuk membantu memberantasnya.
Pandangan intelektual barat bahwa pesantren di Indonesia juga dijadikan tempat pengkaderan Islam fundamentalis seperti halnya yang dilakukan madrasah di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Barat harus diluruskan. Karena kenyataannya lebih dari 17.000 pesantren (mayoritas adalah pesantren NU) yang ada di Indonesia tidak ada yang mengajarkan perihal Islam fundamintalis apalagi sampai yang mengajarkan terorisme. Memang benar ada satu dua pesantren yang harus diawasi karena mengajarkan ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran ulama-ulama kita. Namun jumlah yang hanya satu dua tersebut tidaklah akan menghapus ajaran pesantren yang mayoritas, penuh kedamaian dan rahmatan lilalamin.
Pesantren sebagai pusat pengkaderan para generasi muda untuk melawan radikalisme, fondamentalisme dan terorisme sangatlah tepat. Karena di pesantrenlah nilai-nilai utama perihal ahlakul karimah diajarkan dan dipraktekkan oleh para santri dengan bimbingan para kyai. Sehingga selanjutnya nilai-nilai ahlakul karimah tersebut bisa disebarluaskan ke masyarakat secara luas.
Memang ada satu dua pesantren di tanah air mengajarkan ajaran radikal, proses radikalisasi pemikiran mereka ini terjadi seiring pengalaman kelompok mereka yang melihat dan mempersepsi ketertindasan, berikut justifikasi teks-teks Al Quran dan hadis yang ditarik sepotong-potong, literal, dan di luar konteks.
Untuk itu kalangan muslim mainstream seperti NU dan kelompok sepaham lainnya harus terus melakukan dialog dan pertemuan dengan pesantren-pesantren ekstrem semacam ini. Sehingga tradisi, jati diri, dan independensi pesantren secara keseluruhan tetap bisa dijaga, akan tetapi adaptasi terhadap hal-hal yang lebih baik dan positif, dalam konteks keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan juga perlu dikembangkan dalam bentuk pengembangan sumber daya manusia ustadz – ustadzah, kurikulum, metodologi, dan fasilitas-fasilitas pendidikannya. Akhirnya pandangan serta ajaran yang sekiranya menyimpang dari prinsip-prinsip Islam rahmatan lil alamin bisa dieleminasikan.
Dan bahkan NU dengan pesantrennya harus menjadi pelopor untuk menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan llilalamin dan anti terorisme ini kepada seluruh penjuru dunia, utamanya terhadap masyarakat Barat yang salah dalam memandang Islam. Namun juga tidak menafikan untuk membuat dialog dengan kelompok-kelompok fondamentalis dalam Islam yang membenarkan adanya terorisme seperti terjadi di Asia Barat dan Asia Selatan.

Pesantren, Sekulerisme dan Liberalisme
Akhir-akhir ini pemikiran liberal ala Jaringan Islam Liberal (JIL) sangat marak dan menuai kontroversi di masyarakat, khususnya di kalangan pesantren NU. Ajaran JIL (salah satunya) bahwa semua agama itu benar, desakralisasi Al Qur’an, dan deuniversalisasi Al Qur’an mendapat resistensi yang sangat tinggi di kalangan nahdiyyin utamanya di pesantren-pesantren NU.
Seperti diungkapkan oleh Juru Bicara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur KH Abdullah Syamsul Arifin bahwa dengan tegas NU secara institusi tidak sepakat dengan ajaran JIL yang diajarkan oleh Penggerak JIL Ulil Abshar Abdalla. Ajaran JIL jauh berbeda dengan ajaran NU dan ajaran JIL ini telah menyimpang dari ajaran Ahlul Sunnah Wal Jamaah.
NU secara organisatoris harus bisa menyatakan bahwa JIL adalah bukan bagian dari NU. Namun NU dan pesantrennya seyogyanya tetap menghormati diskursus pemikiran yang disampaikan oleh JIL seperti tersebut di atas. Karena dalam tataran diskursus pemikiran tetap harus dihormati sepanjang tidak ada pemakasaan kehendak dan pemaksaan pemikiran.
Sehingga pesantren akan tetap dan selalu menjaga pendulum supaya berada di tengah dalam artian tidak bergerak ke kanan ke arah radikalisme, sektarian dan terorisme maupun bergerak ke kiri ke arah liberalisme dan sekulerisme.
Ajaran yang diusung pesantren berupa ajaran ahli sunnah wal jama’ah akan selalu dan tetap membawa Islam yang rahmatan lilalamin.

Pesantren Sebagai Pusat Agama, Budaya dan Kesederhanaan Hidup.
Tidak bisa dipungkiri bahwa di Indonesia ini pusat kajian Islam salah satunya adalah di pesantren-pesantren. Maka kemajuan dunia pesantren harus terus diupayakan agar kajian-kajian keagamaan, baik itu berupa pengajian, pendidikan, majlis taklim, majlis dzikir ataupun bentuk lainnya terus berlangsung dan semakin meningkat kwalitasnya.
Untuk itu dorongan dari NU secara organisatoris terhadap kemajuan dunia pesantren harus terus diupayakan dan ditingkatkan agar ajaran-ajaran ahli sunah wal jama’ah yang terus dilestarikan secara istiqomah oleh pesantren ini bisa didakwahkan dan disosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat khusunya masyarakat kelas urban di perkotaan yang selama ini kurang tersentuh oleh dakwah NU. Dan tentunya juga sosialisasi dan dakwah ajaran ahli sunnah wal jama’ah ke seluruh penjuru dunia baik ke sesama negara-negara muslim maupun ke negara-negara non muslim.
Sudah kita ketahui bersama bahwa saat ini kondisi kemrosotan moral dan budaya di masyarakat semakin parah, ini ditandai dengan jauhnya masyarakat kita dari sifat hidup sederhana dan bahkan hidup hedonis setiap saat dipertontonkan lewat tayangan TV yang tiada henti, dan itu semua tentunya akan membuat masyarakat jauh dari hidup sederhana.
Jauhnya sifat hidup sederhana tersebut dan minimnya pegangan akan ajaran agama serta tiada kesadaran untuk berprilaku tertib, tidaklah mengherankan kalau budaya korupsi sangat merajalela di masyarakat dan semakin hari semakin menjadi-jadi tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Dan ini akan mengancam kelangsungan kehidupan bernegara yang bermartabat.
Belum lagi pergauulan bebas di kalangan remaja dan muda-mudi semakin marak. Padahal pergaulan bebas tersebut sangat jauh dari nilai-nilai budaya dan agama yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat.
Untuk mensolusikan itu semua tentunya peran aktif pesantren dengan sarana dan dorongan dari NU secara organisatoris untuk menjadi pelopor dan penggerak anti korupsi di tanah air sangat sekali diharapkan. Dan juga kepeloporan dan pembinaan mental keagamaan yang dilakukan pesantren dalam meng-counter pergaulan bebas dan juga melestarikan serta memupuk budaya hidup sederhana akan tetap diharapkan dan ditingkatkan.
Karena dengan peran serta pesantren yang sekaligus juga sebagai pusat agama, pusat ilmu, pusat budaya, pusat hidup sederhana dan pusat kemandirian dan kebersamaan, maka akan lebih mudah untuk menjalankan program anti korupsi di tengah-tengah masyarakat dan juga untuk mengikis dekadensi moral yang terus terjadi serta meningkatkan pola hidup sederhana di tengah-tengah masyarakat.
Akhirnya bisa dikatakan bahwa dengan “kembalinya” NU mengurusi pesantren, maka program revitalisasi pesantren dengan beberapa agenda seperti ditawarkan di atas akan mudah dan cepat tercapai. Sehingga hasilnya akan bisa dinikmati oleh warga nahdhiyyin dan warga bangsa secara umum. (AM, 30 Maret 2010).

*) Khozanah Hidayati : Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPRD Tuban

,

  1. #1 by Paderi Kulumul on November 29, 2010 - 1:56 pm

    Ditengah-tengah mayoritas kaum muslim di seluruh Dunia dihancurkan sistem syari’ahnya kenapa Bp. KH. Agil Siradj masih melempem seakan-akan mebiarkan penindasan kaum muslim di afghanistan, Iraq, Palestina, dan dimna-mana termasuk di Indonesia. Sejak jaman penjajahan Belanda Bangsa Indonesia yang mayoritas adalah orang-orang Islam telah dirampas kemerdekaannya sehingga harta dan nyawa. tidak ada harganya dipandang kaum penjajah Belanda. Penjajah Belanda dengan doktrin “gold” (emas/kekayaan) , ” glory” (kemenangan/penjajahan/kekuasaan) dan “gospel” (penginjilan /pemaksaan ajaran kristen) telah merebut sendi-sendi dasar syariah islam pada waktu. Bersamaan itu Pemerintah Penjajahan Belanda banyak mendatangkan puluhan ribua orang-orang Eropa sebagai tenaga kerja atau opsir dan missi zendingagama kristen dan katolik dan Timur Asing Cina guna melayani kepentingan Penjajah Belanda diantaranya dengan diberi hak istimewa dalam perniagaan.Hal ini sangat menyakitkan bagi bangsa Indonesia saat itu. Lebih menyakitkan lagi bangsa Indonesia yg mayoritas Islam (kurang lebih 90 %) setelah merdeka Pemerintah Soekarno sampai dengan saat ini hukum positifnya tidak bersendikan syariah islam. Malaysia saja kaum muslimnya nggak sampai 60 % hukum positifnya berdasar syariah islam sehingga kenyataan masyarakatnya adil dan makmur. Arab Saudi yang buminya kering kerontang rakyatnya makmur karena berkat ridlo Allah SWT. Tapi Negara Kesatuan RI ini nyatanya kedaulatannya telah dijual pada pihak asing. Kekayaan alam yang subur makmur telah dijual Amerika Serikat dan sekutunya. sehingga rakyat ibaratnya mati dilumbung padi. Ini semua karena akibat Negara kita tidak bersendikan syariah islam, bahkan sila I pancasila yang menurut Piagam Jakarta harusnya berbunyi Ketuhanan dengan kwajiban syariat islam bagi bangsa Indonesia sebagai dasar hukum positif pada pelaksanaan hukum syariah diagnti kalimat tanpa makna /abstrak yang berbunyi Ketuhanan YME. Penguasa Republik ini hanya mementingkan diri sendiri, keluarga, partai dan kroninya sekedar mendapat fee dari Negara Asing dengan perusahaan asing al. exxon mobile, freeport dll yang mengeksploitasi kekayaan Negara Indonesia untuk menjadi kekayaan Negara Asing itu. NKRI harga mati hanya sebuah kalimat basa-basi pembodohan rakyat kecil. Karena senyatanya mereka-mereka Penguasa dan kroninya itu telah nyata-nyata menjual negara. Sama saja para Ulama yang ngomong ngalor ngidul mengecam adanya kaum eksrim, terorisme, fundamentalis tapi dirinya membiarkan rakyat khususnya kaum muslim miskin ditindas oleh penjajahan ekonomi kaum kapitalis AS dan sekutunya padahal diri mereka sering mendapat bantuan negara asing itu termasuk dari Israel dalam rangka meredam gejolak kaum islam yang mereka katakan fundamentalis yang ingin menjaga kehormatan izzul islam dan saudara-saudaranya di negara islam yang saat ini telah dijajah ( Palestina, Iraq, Pakistan, afganistan dll) termasuk saudara islam sebangsa di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: