NU-PKB Pascamuktamar Ke-32

Oleh Ali Maschan Moesa

BANYAK pihak yang ingin relasi NU dan PKB dibicarakan secara resmi dalam Muktamar Ke-32 NU di Makassar lalu. Namun, muktamirin tidak membicarakannya, baik di sidang-sidang komisi maupun sidang pleno. Hal itu berarti NU tetap “istiqamah” memegangi khitah 1926, yaitu secara organisatoris tidak terikat oleh ormas dan partai politik mana pun.

Dengan demikian, Muktamar Ke-32 NU menegaskan ulang bahwa kedudukan NU adalah organisasi sosial keagamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah), bukan organisasi politik. Namun, NU sama sekali tidak mengharamkan politik praktis (struggle for power) atau melarang warganya berpolitik.

Bagi NU, politik adalah penting dalam tata kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat sebagaimana sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial-budaya. NU menghargai warganya yang berpolitik atau berniaga dengan baik. Hanya, mereka dipersilakan melakukannya di dalam partai politik atau organisasi niaga, tidak di dalam NU sebagai jam’iyyah.

Muktamar juga menegaskan bahwa NU tidak boleh bergantung kepada kekuatan eksternal. NU harus tetap menjaga jarak dengan pemerintah dan menjadi mitra kritis terhadap kebijakan yang ditetapkannya.

Jika setelah lengsernya Orde Baru NU pernah membidani lahirnya PKB sebagai partai politik, hal itu adalah instrumen saja untuk mewadahi warganya yang peduli terhadap politik praktis, tidak berarti NU melanggar khitah. NU melanggar khitah jika secara organisatoris terikat oleh partai politik tertentu, termasuk PKB.

Namun, dinamika politik warga NU saat ini bergeser. Tokoh NU mulai mempertanyakan seiring dengan kian rapuhnya wadah politik yang pernah dibidani lahirnya, yaitu PKB. Partai itu mengalami kemunduruan karena perpecahan yang berkepanjangan.

***

Kemerosotan itu menyisakan keprihatinan yang harus dicari solusinya oleh pengurus PB NU yang baru. Pertama, jika NU ternyata tidak lagi membutuhkan saluran politik, PKB harus segera membenahi diri untuk “melepaskan diri” dari kebesaran nama NU. Kedua, bila jawabannya NU masih tetap membutuhkan saluran politik, PKB masih dapat dipertimbangkan sebagai partai warga nahdliyin. Sebab, dalam sejarahnya, memang NU-lah yang membidani lahirnya.

Dua pilihan tersebut secara sosial-politik adalah pilihan yang memang mengandung maslahat dan mudarat. Karena itu, diberlakukan pilihan yang paling sedikit mudaratnya (akhaf al-dlararain).

Sebenarnya, pilihan kedua masih mungkin dijadikan pertimbangan. Dengan catatan, PKB harus benar-benar memberikan kemanfaatan kepada NU, baik secara jam’iyyah maupun jamaah. Sebaliknya, NU memberikan “lampu hijau” kepada PKB secara simbolis saja untuk menjadi sarana penyalur aspirasi politik warganya. Dengan demikian, pekerjaan rumah NU setelah muktamar Makassar adalah merespons dan mengakomodasi serangkaian kesenjangan yang selama ini dialami antara keduanya.

Namun, islah yang akan diupayakan oleh NU tetap tidak boleh dilakukan secara organisatoris. Dalam hal ini, NU bisa mengutus beberapa orang sebagai juru damai dalam mengutuhkan kembali kekuatan mereka, baik PKB Muhaimin, PKB Yeni Wahid, maupun PKNU pimpinan Chairul Anam.

Di atas segalanya, dinamika politik semacam itu mengharuskan NU secara jam’iyyah menjaga jarak, lebih apresiatif, dan cerdas terhadap berbagai tindakan politik praktis warganya. Juga, berkonsentrasi membangun civil society kembali. Kerangka gerakannya tetap bernuansa moral dan sosial, tidak dalam nuansa politik dalam arti power building. Karena itu, NU harus menjaga jarak dengan partai politik yang secara organisatoris dan formalistis tidak memiliki relasi apa-apa dengannya. Jika NU mempunyai relasi dengan parpol, itu merupakan kemitraan strategis saja.

***

Selain wacana di atas, NU mendapatkan tantangan dari para elite politik. Mereka kian terkooptasi oleh jargon kekuatan bernuansa materi belaka. Orientasi materialistis berefek pada ketidakberdayaan mereka dalam memperjuangkan aspirasi warganya di level grass root. Mereka hanya membela orang yang mampu membayar, tidak membela mereka yang benar (manuth bi al-maslahah).

Realitas yang hampir sama terjadi di kalangan bawah. Jika permainan lapisan atas adalah jabatan dan uang, permainan lapisan bawah adalah “berjuang” (beras, baju, dan uang). Masyarakat bawah juga lebih mengandalkan otot daripada akal sehat dalam berpolitik. Akibatnya, sikap emosi yang tidak terkendali selalu muncul dengan cara kekerasan (violence behaviour).

Dengan begitu, aspek penyadaran kepada mereka sangat mungkin dilakukan oleh NU, baik secara sosial keagamaan maupun politik (political literacy), dalam konteks politik kebangsaan dan keumatan.

NU adalah kereta api -dawuh KH Achmad Siddiq- yang sejak semula sudah jelas trayeknya. NU bukan taksi yang boleh dibawa ke mana saja oleh “penyewanya”. NU juga bukan koper yang dapat diisi apa saja oleh “pembawanya”. Namun, setelah muktamar rampung, banyak peserta muktamar yang merenung ulang, mengapa suasana muktamar seperti munas parpol saja, bahkan identik dengan pilkada?

Memang, muktamar di Makassar telah membuktikan bahwa NU adalah organisasi keagamaan yang selalu mampu melaksanakan “demokrasi liberal” dalam arti yang sebenarnya. Namun, sudah saatnya NU “menata ulang” demokrasi prosedural yang tidak menafikan ajaran luhur ahlu al sunah wa al jamaah. Karena itu, sudah benar upaya yang telah dilakukan KH Thalhah Hasan, Gus Mus, Habib Lutfi, dan KH Sanusi Baco. Yakni, berusaha mengislahkan KH Sahal Mahfudz dan KH Hasyim Muzadi. Bagi mereka, keduanya tidak boleh saling berhadapan dalam perebutan rais am Syuriah PB NU, yaitu dengan model ahlu al-hall wa al-‘aqd, walaupun upaya mereka gagal.

Model ahlu al-hall itulah yang harus menjadi PR bagi PB NU yang baru. Sebab, model tersebut bisa menjadi filter bagi merebaknya konflik sekaligus bisa mengeliminasi peluang terjadinya “permainan negatif”, baik dalam muktamar maupun dalam konferensi wilayah dan cabang. (*)

*). Ali Maschan Moesa , mantan ketua PW NU Jawa Timur, anggota DPR dari FKB

, ,

  1. #1 by miftah on April 16, 2010 - 1:19 pm

    MAJU TAK GENTAR MEMBELA YANG BENAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: