Kaum progresif penerus Kiai Wahab

Oleh : MUHAMMADUN AS
PASCA-Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar, penting bagi Nahdliyin untuk meng?ingat kembali sosok KH A Wahab Hasbullah. Kiai Wahab bukan ha?nya sosok ulama pesantren. Ia adalah in?telektual, pemikir, motivator, dan arti?kulator atas spirit bangkitnya kaum saru?ngan (tradisionalis) di awal abad ke-20. Kalau Kiai Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ruh berdirinya NU, maka Kiai Wahab ada?lah motor penggerak lahirnya NU.

Kiai Wahab selalu tampil di garda depan memelopori perjuangan melawan penja?jah. Dialah inisiator dan inspirator lahirnya Nahdlatul Wathon tahun 1914 di Sura?baya yang bergerak dalam mendirikan seko?lah, kursus, dan latihan organisasi. Kemudian pada tahun 1918, ia tampil lagi memelopori berdrinya Tashwirul Afkar dan Nahdlatut Tujjar.

Tashwirul Afkar lahir sebagai wadah untuk menjembatani diskusi dan tukar ga?gasan antara kaum sarungan dengan kaum tradisionalis. Tashwirul Afkar kemu?dian sekarang dijadikan nama jurnal keil?muan dan kebudayaan NU di Lakpes?dam. Sedangkan Nahdlatut Tujjar ada?lah gerakan pemberdayaan ekonomi kerak?yatan untuk mengangkat ekonomi pesantren dan kaum grass root di pentas ekonomi nasional.

Nahdlatul Wathon, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar. Tiga gerakan ini?lah yang menjadi embrio lahirnya NU pa?da 16 Rajab 1344/31 Januari 1926 di Surabaya.

Semangat Kiai Wahab untuk meng?usung agenda pencerahan (enlighten?ment) di lingkungan NU dan pesantren memang besar. Di tangan dinginnya, lahir kaum muda progresif NU yang mam?pu mewarnai kemerdekaan bangsa. Sebut saja misalnya Wahid Hasyim, Sau?fuddin Zuhri, Muhammad Ilyas, M Dah?lan, Ahmad Syaikhu, dan Idham Khalid. Anak muda progresif inilah yang selalu menjadi jembatan para kiai dengan kaum modernis.

Bersama anak muda ini pula sebenar?nya Kiai Wahab telah mampu menjung?kirbalikkan tesis publik bahwa kaum saru?ngan merupakan kaum tradisionalis yang jumud dan gagap teknologi. Dan terbukti, Kiai Wahab bersam anak muda progre?sifnya mampu menghadirkan NU sebagai partai politik besar ketika pemilu digelar pertama kali tahun 1955. Dalam hal pendi?dikan, santri juga telah memahami berba?gai bidang keilmuan, tidak melulu ilmu aga?ma. Di tingkat inilah, Kiai Wahab me?rupakan tokoh utama pencerahan diling?kungan NU dan pesantren.

Kini, Kiai Wahab sudah meninggalkan kita. Agenda-agenda besar yang telah ia jalankan kini membutuhkan generasi dan penerus baru. Penerusnya tidak lain adalah ‘kaum progresif NU’. Tugas kaum progresif penerus Kiai Wahab lumayan berat; yakni pemberdayaan komitmen kebangsaan, keberagamaan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan.

Setelah era anak muda progresif asuhan Kiai Wahab, tampil kembali kaum muda progresif yang dipelopori Abdurrahman Wahid dan Musthofa Bisri. Kedua sosok muda progresif ini mampu membawa NU ke jalur kulturalnya setelah sebelumnya diombang-ambingkan oleh godaan politik kekuasaan. Di tangan kedua tokoh ini, khu?susnya Gus Dur, NU melahirkan kem?bali kaum progresif yang kritis terhadap berbagai persoalan bangsa: demokrasi, pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi kerakyatan. Siapa kaum progresif penerus Kiai Wahab?

Laode Ida (2004) melihat ada tiga tipo?logi kaum progresif NU dewasa ini: pro?gresif-transformis, progresif-radikalis, dan progresif-moderat.

Pertama, progresif-transformis, yakni mereka yang secara internal mengupaya?kan penyadaran terhadap subjek (orang-orang NU) dengan harapan subjeklah yang kelak akan mengubah dirinya sendiri serta melakukan perubahan pada komuni?tas yang lebih luas. Program-program me?reka diagendakan secara relatif baik, termasuk di dalamnya memperoleh pe?ngakuan dalam internal NU.

Mereka ini berupaya meletakkan dasar-dasar perubahan dalam NU dengan mencoba memberikan pencerahan (enli?ghten?ment) gara-gara NU tidak terjebak dengan persoalan-persoalan pragmatis politik dan tradisi sehingga tak mampu menyahuti tuntutan perkembangan yang terjadi, karena NU salah kelola dan salah arah (mismanagement).

Tipologi ini telah dilakukan Gus Dur dkk de?ngan membawa NU kembali kepada khittah 1926 dan kemudian dilanjutkan de?ngan mendirikan Lembaga Kajian dan Pe?ngambangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) yang selalu membuka gera?kan pemikiran yang mencerahkan dan mem?bebaskan bagi warga NU. Sejalan dengan ini, P3M dan LP3ES sejak dekade 1970-an sampai awal 1990-an juga ber?juang dalam tipologi progresif-transformis.

Kedua, progresif-radikalis. Kaum ini memperjuangkan kesetaraan (egalitarian) dengan menjunjung tinggi atau bersandar pada nilai-nilai HAM dan kultur dasar komunitas. Kajian atau pemikiran rasional termasuk yang berhaluan kiri mereka coba kembangkan dan sebarluaskan ke dalam dan ke luar komunitas NU dalam bentuk buku, melalui media cetak, dan pengem?bangan wacana melalui kegiatan diskusi, seminar dan semacamnya.

Target dari tipologi ini adalah perubahan yang bersifat struktural, utamanya yang berkaitan dengan kekuasaan negara dan atau kekuasaan di internal NU diperta?hankan secara turun-temurun; yang se?muanya dianggap berdampak pada subor?dinasi dan kooptasi struktural dan kultural. Mereka ini sering disebut sebagai penye?bar ‘virus pemikiran dan gerakan kiri atau sekuler’. Tak heran kalau Imam Aziz, tokoh LKiS Yogyakarta, pernah dituduh para kiai tidak Islam lagi.

Ketiga, progresif-moderat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ide-ide perubahan tetapi tidak memiliki ideologi yang jelas dan bisa secara konsisten diper?juangkan. Kelompok ini bersikap akomodatif terhadap semua kalangan, baik NU maupun non-NU. Mereka ini sebenar?nya gagasan besar, namun masih takut-takut dengan pakem yang ada di NU.

Dalam bahasa Ulil, kelompok sebenar?nya kategori NU liberal, tetapi untuk tampil ke publik masih malu-malu. Ulil di sini menyindir Gus Ishom Hadzik (sekarang sudah almarhum) dari Tebu Ireng yang gagasan dan pemikirannya begitu luas, namun tidak mau terjun ke lapangan (se?perti ke Jakarta). Tipologi ini lebih menge?depankan perubahan kedalam (pesantren dan NU) dengan cara kritis, namun tetap sopan dan tawadhu’.

Ketiga tipologi tersebut sebenarnya saling melengkapi. Sebab, ide, gagasan, dan target gerakannya adalah untuk membuka jalan pencerahan bagi kaum sarungan dan bangsa Indonesia.

Sebagai penutup, mari kita camkan khutbah iftitah yang terakhir Kiai Wahab sebagai Rais Am, “Supaya NU tetap me?nemukan arah jalannya di dalam men?syukuri nikmat karunia Allah SWT, seba?gai suatu partai terbesar (dalam arti besar amal saleh dan hikmahnya kepada bangsa dan negara), melalui cara-cara yang sesuai dengan akhlak Ahlussunnah wal- Jama’ah.” (Dikutip dari DUTA MASYARAKAT, 14 April 2010)

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: