Pemimpin Harus Merakyat

TUBAN – Emha Ainun Najib memberikan pesan terhadap para pemimpin. Menurut dia, pemimpin baik itu bupati, wakil bupati, gubernur, wakil gubernur, presiden maupun wakil presiden, harus merakyat. Sebab, mereka mengemban amanat rakyat. Pesan itu disampaikan budayawan yang kerap disapa Cak Nun tersebut saat memberikan ceramah rohani memeringati wafatnya KH Abdurrrahman Wahid (Gus Dur) di depan Masjid Agung Tuban, Minggu (2/5) malam lalu. Cak Nun hadir di Bumi Ronggolawe ini bersama istrinya Novia Kolopaking dan kelompok musiknya Kyai Kanjeng. Dalam acara tersebut, Cak Nun sempat mengutip salah satu syair lagu. Yakni, gundhul-gundhul pacul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul, gembelengan. Wakul ngglempang, segane kutah sak ratan. ”Menjadi pemimpin harus memikirkan rakyat. Sebab nasi (sega) itu untuk rakyat. Jangan sampai nasi kutah (tumpah), apalagi dimakan sendiri. Apakah di Tuban ada yang seperti ini?,” tanyanya. Menurut Cak Nun, Gus Dur merupakan ulama yang mementingkan rakyat. ”Gus Dur tidak pernah memikirkan hartanya untuk sendiri. Namun hartanya untuk umat, pemikirannya untuk umat. Sehingga sampai makamnya pun dikunjungi banyak orang. Ini menunjukkan Gus Dur tokoh yang baik,” tuturnya. Selain memberikan ceramah, Cak Nun bersama Kyai Kanjeng melantunan salawat dan syair-syair lain untuk menggugah masyarakat mendekatkan diri kepada Tuhan. Acara bertajuk pengajian dan doa bersama wafatnya Gus Dur yang diselenggarakan warga nahdliyin Tuban itu juga dihadiri sejumlah tokoh dan ulama. Di antaranya KH Agus Ali Mashuri (Ponpes Bumi Sholawat Tulangan, Sidoarjo), Syaifullah Yusuf (Wagub Jatim), dan Alissa Qotrunnada (putri pertama Gus Dur). Juga Rais Syuriah PC NU Tuban KH Cholilurrohma, Ketua PC NU KH. Fatchul Huda, Ketua Ta’mir Masjid Agung yang juga Wabup Tuban Lilik Soehardjono, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tuban Masduki, Kepala Bakorwil II Bojonegoro Setiadjit. Serta, Kapolres AKBP Nyoman Lastika, Wakil Ketua DPRD Tjong Ping, dan Ketua DPC PKB Noor Nahar Husein. Sementara itu, Alissa Qotrunnada dalam sambutannya lebih banyak menceritakan kisah kearifan bapaknya sejak sebelum, saat, dan setelah menjadi presiden hingga wafat. ”Kami mengucapkan banyak terima kasih atas doa yang dipanjatkan untuk Gus Dur,” katanya di hadapan para undangan. Syaifullah Yusuf dalam sambutannya menjelaskan bahwa Gus Dur merupakan tokoh yang menegakkan keadilan. ”Tokoh dunia yang istiqomah. Sehingga, kita harus selalu istiqomah, meski ada banyak tantangan,” tutur Wagub yang akrab disapa Gus Ipul tersebut. Sementara itu, KH Agus Ali Mashuri juga memberikan ceramah keagamaan yang menyangkut kepemimpinan Gus Dur. Acara tersebut juga dimanfaatkan Fatchul Huda mengadukan ketidakberesan kebijakan pemerintah di Tuban. ”Bayangkan kasus CPNS, yang dinyatakan lulus LMFEUI, tidak lulus di pemkab. Yang lulus di pemkab, sampai sekarang SK-nya belum jelas. Ini ada apa dibalik semua ini,” keluhnya di hadapan Gus Ipul. (zak/yan) (Dikutip dari Radar Bojonegoro tanggal 4 Mei 2010).

, ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: