Petan, Rerasan dan Infotainmen

Oleh : Khozanah Hidayati (Pemerhati masalah sosial dan politik, tinggal di Tuban)
8 Agustus 2010

Petan (hurup ‘e’ dibaca seperti pada kata tape) adalah satu aktifitas fisik antara dua atau lebih orang perempuan atau ibu-ibu untuk mencari kutu rambut dari kepala temannya. Bahasa Indonesianya petan masih belum kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi secara garis besar bisa diartikan mencari kutu, meskipun seringkali berburu uban pun bisa dikategorikan petan juga.

Aktifitas petan ini boleh dibilang menyenangkan. Para ibu-ibu bisa bertahan petan berjam-jam. Dan menjalaninya dengan penuh hikmat. Yang membuat makin betah dari ritual petan ini adalah konten tambahannya, yakni ngerumpi atau ngegosip. Sambil “klethas-klethus mlithesi kor” dan “lingso” (kor adalah anak kutu sedangkan lingso adalah telur kutu), si ibu yang lagi dipetani itu nyerocos membicarakan borok-borok para tetangga. Mulai dari Si A yang barusan membeli kalung, sampai Si B yang anaknya hamil di luar nikah dikupas tuntas sampai habis. Kadang pembicaraan yang tadinya terdengar dari jauh, tiba-tiba bisa berubah “pating glenik”, bisak-bisik sambil sesekali nyekikik.

Hebatnya lagi, grup petan ini kadang terbentuk menjadi kubu-kubu tersendiri. Kubunya Ibu X, Ibu Y dan Ibu Z berbeda dengan kubunya Yu K, Yu L dan Yu M. Bahkan saling rerasan kubu satu dengan yang lainnya. Maka ini semakin membuat petan menjadi aktifitas yang menyenangkan dan menjadi rutin dilakukan.

Namun ketika televisi mulai merebak sampai ke desa, aktivitas petan mulai memudar. Ibu-ibu mulai dikenalkan dengan sinetron dan infotainmen. Gairah petan pun cukup tersalurkan dengan melihat acara sinetron dan infotainmen tersebut. Karena kontennya serupa dengan konten tambahan petan, yakni ngrumpi dan ngegosip atau dalam bahasa agama disebut ghibah.

Padahal semula infotainmen itu hanya suatu acara yang berisi informasi dari seputar dunia hiburan, namun entah gerangan apa yang mempengaruhinya akhirnya rerasani menjadi menu pokok ada di dalamnya.

Petan dan infotainmen adalah dua hal yang secara hakikinya tidak ada masalah.Namun kontennya lah yang nantinya menyebabkan masalah. Jika dengan petan akhirnya membuat warga se RT resah karena gosip yang dihembuskan ternyata hanya fitnah, maka petan disini adalah penyakit yang harus diberantas. Demikian juga dengan infotainmen jika karena kontennya berisi fitnah yang membuat orang se Indonesia resah atau bahkan kontennya berisi aksi murahan pornografi dan pornoaksi para pesohor tanpa sensor maka infotainmen menjadi masalah.

Infotainmen dinyatakan haram oleh MUI pada akhir Juli 2010 lalu. Walau sebenarnya NU telah mengeluarkan fatwa semacam itu saat Musyawarah Alim Ulama NU di Surabaya, Juli 2006 lalu. Sebenarnya tanpa adanya fatwa dari ulama manapun, yang namanya menyebar fitnah dan ghibah itu hukum asalnya haram.Tapi karena baju infotainmen itu berlapis, maka memang membutuhkan format fatwa yang tidak “gebyah uyah”.
Apalagi infotainmen dan tayangan sejenis seperti reality show sudah diputuskan oleh KPI (Komite Penyiaran Indonesia) bukan tergolong berita tapi tayangan non faktual yang membutuhkan telaahan Lembaga Sensor sebelum ditayangkan.

Para ibu-ibu sebagai penggemar petan dan infotainmen bukannya jadi risih untuk melakukan petan atau menyimak tayangan infotainmen, namun justru fatwa ulama tadi dijadikan bahan rerasan, kenapa fatwa itu kok baru dikeluarkan sekarang? Apa memang konten inotainmen sekarang ini sudah benar-benar melenceng dari cita-cita awalnya yakni memberikan berita seputar hiburan dan sekaligus bisa menghibur masyarakat.
Terlepas dari pro kontra perihal pelabelan haram pada tayangan infotainmen, yang terpenting untuk kita perhatikan adalah konten dari pada suatu tayangan. Asal suatu tayangan mengandung ghibah, rerasan atau hal-hal lain yang mengandung pornografi atau hal-hal yang akan merusak moral masyarakat sudah sepatutnya tidak kita saksikan dan kita hindarkan dari ditonton oleh anak-anak kita.

Dan untuk pihak-pihak sebagai produsen infotainmen baik itu redaktur televisi, pemimpin rumah produksi atau pemimpin lembaga lainnya yang memproduksi infotainmen atau tayangan sejenis, marilah kita membuat tayngan infotainmen yang bisa ikut andil mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa melakukan ghibah dan fitnah serta mengikutkan hal-hal berbau pornografi dan porno aksi di dalamnya. Janganlah dikesampingkan itu semua hanya demi sebuah popularitas dan naiknya tingkat rating suatu acara infotainmen.Sungguh naifnya jika demi naiknya tingkat rating suatu tayangan terus kita mengorbankan masa depan bangsa dan masa depan anak-anak kita semua (AM, Agustus 2010).

, , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: