Hari Kemerdekaan, Puasa Ramadhan dan Reformasi

Oleh : Khozanah Hidayati (Anggota FPKB DPRD Tuban)

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 65 tahun yang lalu diproklamirkan tepat pada 17 Agustus 1945 yang bertepatan juga dengan 8 Ramadhan 1364 H. Tahun ini peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI juga bertepatan dengan bulan Ramadhan tepatnya 7 Ramadhan 1431 H. Bertemuanya peringatan hari kemerdekaan ini dengan puasa Ramadhan adalah merupakan momentum yang sangat istimewa bagi kita untuk merenung, menimbang, dan melakukan penilaian ulang secara jujur atas pencapaian bangsa ini saat ini, dan kemudian mencari jalan keluar terbaiknya.

Sampai umurnya negeri ini yang ke-65 tahun carut-marut beraneka macam persoalan politik, hukum, ekonomi, pendidikan, budaya, moral dan lain sebagainya masih silih berganti seolah tanpa ujung. Adakah sesuatu yang salah dengan negeri ini?

Di bidang politik prestasi kita sebagai negara demokrasi secara prosedural sungguh membanggakan karena bisa terlaksananya pemilu langsung baik pemilu legislatif dan pemilu presiden secara damai. Di samping itu pemilukada juga semarak berlangsung di seluruh penjuru tanah air. Namun prestasi bagus dalam pemilu dan pemilukada tersebut patut dipertanyakan manakala kita melihat tetap maraknya politik tebar pesona dan politik pragmatisme yang semakin masif di setiap agenda pemilu berlangsung.

Dan pada saat yang sama tata kelola pemerintahan baik di pusat maupun di daerah yang dihasilkan dari pemilu tersebut masih buruk, korupsi merajalela bahkan ditenggarai bahwa korupsi di daerah-daerah semakin masif, serta suap tumbuh merajalela, puluhan juta rakyat masih bergelimang dengan kemiskinan, sumber daya alam (yang oleh UUD 1945 dikuasai oleh negara) nyatanya semakin habis terkuras dan dijarah karena tidak adanya kontrol negara yang kuat.

Reformasi yang digulirkan 12 tahun lalu juga belum membuahkan hasil yang signifikan kecuali adanya suksesi kepemimpinan nasional dan daerah yang demokratris, itupun proses demokrasinya masih patut dipertanyakan dengan maraknya politik pragmaris secara masif. Reformasi birokrasi di kementrian-kementrian juga masih menjadi slogan di mulut tanpa ada aksi yang jelas. Bahkan reformasi birokrasi di tubuh institusi penegak hukum seakan-akan tambah flash black ke belakang mengingat maraknya kasus-kasus mafia hukum yang membelenggunya.

Di tengah maraknya kasus korupsi dan kolusi justru para penegak hukum beramai-ramai melakukan “kongkalikong” dengan para koruptor dan kolutor untuk memperdayai hukum. Sebutlah kasus mafia pajak Gayus, kasus rekening gendut polisi, kaus jaksa dan hakim tertangkap basah menerima suap, kasus cecak vs buaya, dan kasus – kasus lainnya yang sangat ironis dan sekaligus menggemaskan, karena sebagai aparat penegak hukum mestinya mereka memberikan contoh yang baik kepada rakyat dan mengemaskan karena presiden sebagai kepala negara seolah-olah membiarkan itu semua terjadi ataupun kalau bertindak hanya setengah-tengah dengan membentuk satgas-satgas yang semestinya tidak cukup hanya itu.

Di bidang ekonomi, prestasi kita juga tidaklah menggembirakan. Memang APBN dan pendapatan perkapita meningkat. Namun kita masih ingat bagaimana intervensi yang berlebihan dari IMF membuat perekonomian Indonesia semakin terpuruk. Alih-alih memberikan solusi dari permasalahan ekonomi yang seperti tiada ujung, IMF justru mempercepat waktu kematian bagi perekonomian Indonesia. Melalui program hutang dan hibahnya, IMF telah membius para punggawa ekonomi Indonesia untuk terus meminta belas kasihan negara maju dalam memperbaiki ekonomi Indonesia. Dan sekarang kita bisa saksikan puluhan dan bahkan ratusan perusahaan – perusahan menengah dan besar Indonesia sahamnya dikuasa asing. Dan berapa besar hutang luar negeri kita?

Penjajahan ekonomi Indonesia tidak berhenti sampai di situ. Adanya banjir barang-barang produksi luar negeri mematikan unit usaha dalam negeri. Masyarakat lebih bangga apabila memakai barang merek luar negeri dibanding produksi lokal. Bahkan cukup banyak yang sengaja belanja di luar negeri hanya untuk membeli sebuah merek tertentu. Pada akhirnya, kondisi seperti ini akan membuat mental bangsa ini menjadi mental konsumen. Mental inilah yang membuat orang malas berusaha dan berkreasi, kemudian bertambah parah dan menjadi mental peniru. Mental konsumen dan peniru ini yang sekarang banyak terdapat di tengah-tengah masyarakat kita.

Lantas apa yang sudah dicapai hingga saat ini di bidang pendidikan? Walau kemajuan di bidang pendidikan belum banyak berarti karena perguruan tinggi di negeri ini masih berada jauh di bawah negara-negara maju di Asia, seperti Jepang Korea Selatan, China, Singapura dan bahkan Malaysia. Namun untuk memperoleh pendidikan di negeri ini kita harus merogoh kocek yang tidak sedikit, apalagi dengan adanya model sekolah RSBI atau SBI dimana model sekolah ini sampai-sampai diplesetkan kepanjangannya menjadi RSBI (Rintisan Sekolah Bertarif Internasional) atau SBI (Sekolah Bertarif Internasional). Walau dari sisi anggaran pemerintah sudah meningkatkan anggaran pendidikan dalam APBN sampai mencapai hingga 20% dari APBN.

Untuk bidang budaya plus moral, jangan tanyakan lagi kondisinya! Bangsa ini bagaikan sudah berada di titik nadir dalam bidang pembanguanan budaya dan moral bangsa. Betapa tidak kita akhir-akhir ini disuguhi oleh berita dan tontonan video mesum yang diperankan oleh para pesohor yang kebetulan pesohor tersebut merupakan pesohor papan atas yang lagi digandruingi oleh generasi muda kita. Budaya hedonisme, glamor dan konsumerisme sudah merajalela, para pejabat negara baik yang ada di level legislatif, eksekutif dan yudikatif, baik di pusat dan daerah cenderung suka bermewah-mewah, hidup hedonis dan glamor. Meskipun rakyatnya banyak yang kelaparan, tidak kuat sekolah dan hidup di bawah kolong jembatan, mereka justru melakukan korupsi berjamaah, berbagi-bagi uang dan berfoya-foya.

Disamping itu budaya hedonisme dan konsumerisme sudah merajalela di seluruh penjuru tanah air. Kalau ada lomba yang bisa menyulap seseorang menjadi bintang dalam sekejap betapa hebohnya persaingan namun lomba – lomba yang mengandalkan otak dan kepribadian seolah-olah tidak ada peminat dan para pewarta kurang berminat mengeksposnya.

Di samping itu dekadensi moral para generasi muda sudah semakin mengkhawatirkan, ini ditandai dengan meningkatnya pelaku seks pra nikah di kalangan remaja di Indonesia. Berdasarkan survey yang pernah dilakukan Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks. 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan. 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Dan 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno.

Dengan kondisi bangsa dan negara yang masih sedemikian memprihatinkan di atas. Dan dengan datangnya peringatan kemerdekaan bangsa tahun ini yang bersamaan waktunya dengan pelaksanaan puasa bulan Ramadhan, semestinya momentum ini harus dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan diri di segala lini kehidupan dan tentunya muaranya adalah perbaikan kondisi bangsa Indonesia ke depan. Perbaikan ini bisa dilakukan dengan menggalakkan kembali reformasi di segala bidang atau dengan kata lain menggelorakan reformasi gelombang ke-2.

Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah puncak perjuangan bangsa ini melawan segala bentuk penjajahan dan penindasan oleh bangsa asing. Sedangkan dalam siklus tahunan kalender Hijriyah, puasa Ramadhan pada hakekatnya adalah juga merupakan perjuangan melawan penjajahan nafsu dan sifat-sifat hayawaniyah serta sifat-sifst syaithoniyah atas diri seorang muslim untuk mencapai kemerdekaan diri dan menjadi lebih betaqwa.

Dengan demikian, bisa diambil makna bahwa hadirnya Ramadhan yang bersamaan dengan peringatan 17 Agustus tersebut, merupakan seruan kepada bangsa Indonesia untuk menuju kemerdekaan yang yang sempurna. Kemerdekaan fisik yang telah diraih itu harus disempurnakan supaya tidak merdeka secara prosedural semata, namun juga merdeka secara ruhani pula.

Selama ini kita telah gagal memaknai arti dan menafsirkan kemerdekaan. Kemerdekaan diartikan sebagai serba boleh dan serba free. Kemerdekaan
ditafsirkan sebagai usaha untuk bebas menerabas tanpa kenal aturan dan norma-norma yang ada. Akhirnya kemerdekaan mempunyai makna yang salah sebagai kebebasan yang tanpa batas, bebas korupsi, bebas menilap uang negara, bebas menggarong, bebas beringkar janji, bebas menindas, bebas menyeleweng, bebas menarik upeti kepada rakyat, bebas memeras dan seterusnya. Pada hal semua ini adalah wujud kebobrokan hati dan mental-spiritual. Sehingga walau kita sudah merdeka kenyataannya seperti diuraikan di atas bahwa kondisi negara dan bangsa ini masih sangat memprihatinkan.

Puasa sebagai pengendalian diri merupakan kekuatan pembebas dari kebobrokan hati dan mental tersebut. Puasa pada hakekatnya adalah upaya untuk menuju kemerdekaan yang sempurna tersebut, kemerdekaan yang tidak hanya lepas dari penjajahan kaum kolonial secara prosedural, namun lebih dari itu kemerdekaan yang terbebas dari campur tangan asing pada urusan negara dan bangsa serta juga terbebas dari berbagai jeratan penyakit hati dan jiwa.

Dengan merefleksikan puasa Ramadhan kali ini yang bertepatan dengan peringatan proklamasi kemerdekaan negara Indonesia, harus bisa difungsikan untuk menuju kemerdekaan yang sejati, yakni kemerdekaan lahir dan batin yakni dengan jalan menggelorakan kembali reformasi di segala bidang kehidupan. Dengan reformasi birokrasi di semua kementrian dan institusi penegakan hukum diharapkan prilaku koruptif bisa dikurangi dan dicegah. Dengan menurunnya korupsi yang signifikan secara otomatis keadilan dalam berbangsa dan bernegara segera bisa diraih. Sehingga dengan demikian kemakmuran yang dicita-citakan oleh para founding father bangsa ini segera terwujud. (AM, 14 Agustus 2010)

, , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: