Mengkritisi Desalinasi dan Pemanfaatan Air Bengawan Solo Oleh Blok Cepu

Oleh : Khozanah Hidayati, anggota FPKB DPRD Tuban &
Ahmad Mustofa, anggota Society of Petroleum Engineers (SPE), tinggal di Tuban

Mencermati tarik ulur oleh sebagaian stake holder blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro terhadap rencana Mobil Cepu Ltd yang akan memanfaatkan air Bengawan Solo sebagai sumber penyuplai pengadaan air dan kengototan sebagian pihak di Pemkab Bojonegoro dan sebagian anggota DPRD Bojonegoro untuk menggunakan air hasil desalinasi dari laut Jawa sangat menarik untuk diikuti dan bahkan dikritisi. Hal ini karena kontroversi proyek desalinasi sendiri yang diusulkan oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Bojonegoro bekerjasama dengan PT. Meranggi Energy yang secara teknis masih dipertanyakan beberapa pihak sarat akan beberapa kepentingan dan juga kemungkinan besar akan memakan biaya yang sangat mahal mengingat harus membangun jalur pipa sejauh 73 km atau 95 km dari Tuban atau Rembang ke lokasi blok Cepu.

Di samping itu rencana pihak pengelola blok Cepu yang akan memanfaatkan air Bengawan Solo dengan jalan membuat bendungan juga sarat kontroversi mengingat Bengawan Solo adalah merupakan sumber air utama bagi para petani untuk menggarap sawah dan ladang pertanian di sepanjang aliran Bengawan Solo yang meliputi Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik. Kalau nantinya blok Cepu jadi memanfaatkan air dari Bengawan Solo maka dikhawatirkan para petani di sebelah hilir Blok Cepu yang selama ini memanfaatkan air Bengawan Solo sebagai sumber pengairan sawah dan ladangnya akan kekurangan air dan bahkan tidak mendapat bagian air utamanya saat musim kemarau.

Tulisan ini juga sekaligus sebagai bahan diskusi tambahan atas opini di harian ini yang berjudul “Menimbang Lagi Desalinasi Blok Cepu” oleh M. Saichul Anwar tanggal 15 Agustus 2010.

Sebagai informasi bahwa blok Cepu saat ini sudah memulai berproduksi dan menghasilkan 18 ribu barel minyak mentah per hari dan produksi ini akan terus ditingkatkan sampai 180 ribu barel per hari yang direncanakan terjadi tahun 2013 nanti. Namun untuk mencapai produksi puncak tersebut dan semaksimal mungkin untuk mempertahankan agar penurunan tingkat produksi nantinya tidak terjadi secara tajam tidaklah gampang maka salah satunya dibutuhkan suplai air yang dibutuhkan oleh pihak pengelola Blok Cepu untuk diinjeksikan ke dalam reservoir. Tujuannya adalah untuk memicu produksi minyak tetap stabil atau minimal tidak terjadi penurunan produksi secara signifikan..

Pertanyaan yang masih menggantung adalah seberapa besar air yang dibutuhkan oleh blok Cepu untuk keperluan ini? Ada beberapa sumber di media masa bahwa kebutuhan airnya bisa mencapai 9 juta liter per hari dan bahkan ada yang menyebutkan 2,9 juta liter per jam. Namun pihak pengelola blok Cepulah yang bisa menjawab itu semua mengingat yang mengetahui karakteristik formasi bebatuan di bawah bumi blok Cepu adalah mereka.

Terlepas dari segi kwantitas air yang dibutuhkan sebenarnya pemanfaatan air Bengawan Solo untuk blok Cepu ini telah disetujui oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) Darwin Zahedy demikian juga oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur, yaitu dengan jalan membuat waduk penampungan air. Namun rencana ini dipending oleh BP MIGAS karena adanya usul baru yang diusung oleh PDAM Bojonegoro yang menggandeng PT. Meranggi Energi yang menawarkan agar pasokan air diambil dari air laut dari Laut Jawa di Pantai Tuban atau Rembang, kemudian dilakukan proses desalinasi dan transportasi menggunakan jalur pipa sejauh 73 km atau 95 km (Sumber Tempointeraktif, 19 Juli 2010).

Yang patut dipertanyakan dan dikritisi dari usulan desalinasi ini adalah bahwa proyek desalinasi ini tentunya dari segi ekonomi sangat mahal karena harus membangun jalur pipa yang sangat panjang dari pantai utara di Tuban atau Rembang ke lokasi blok Cepu atau sekitar 73 km atau 95 km disamping harus membangun water treatment plant untuk proses desalinasi itu sendiri. Sehingga semua biaya pembangunan infrastruktur desalinasi ini akan menjadi cost recovery yang tentunya akan ditutup dari hasil produksi blok Cepu. Namun besarnya nilai proyek desalinasi ini tentunya tergantung hasil dari kesepakatan pihak PDAM dan PT. Meranggi Energy dan pihak pengelola blok Cepu dalam hal ini adalah Mobil Cepu Ltd dan persetujuan BP Migas sebagai wakil pemerintah.

Juga harus dikritisi dan dikawal kalau sekiranya proyek ini yang menjadi pilihan adalah proses tender dari proyek desalinasi ini sendiri mengingat proyek ini muncul secara tiba-tiba ketika rencana yang diajukan oleh pihak pengelola blok Cepu perihal pemanfaatan air Bengawan Solo telah di setujui oleh Menteri ESDM. Dan juga jangan sampai proyek ini berbau politik mengingat PT. Meranggi Energi sebagai patner PDAM Bojonegoro konon dekat dengan politisi Senayan.

Karena kalau sudah berbau politik tentunya akan sangat sarat kepentingan sehingga hal-hal teknis akan dikesampingkan dan hal-hal berbau komersial dikorbankan.Dan nantinya rakyatlah yang akan menanggung semua biaya pembangunan infrastruktur desalinasi ini semua.

Untuk pemanfaatan air Bengawan Solo itu sendiri juga harus ditimbang sekali lagi dan kalau perlu ditentang habis-habisan agar pemerintah membatalkannya, mengingat akan vitalnya air Bengawan Solo ini bagi ratusan ribu petani di sepanjang aliran Bengawan Solo mulai dari Kabupaten Bojonegoro, Tuban Lamongan dan Gresik. Walau nantinya pengelola blok Cepu hanya akan mengambil air dari Bengawan Solo saat musim penghujan misalnya untuk ditampung di waduk yang akan dibangun. Namun siapa yang bisa menjamin bahwa pihak pengelola Blok cepu tidak akan menyedot air Bengawan Solo saat krisis air karena kemarau panjang misalnya, karena mengingat kwalitas pengawasan di negeri ini sangatlah lemah sekali. Kalau ini terjadi tentunya ratusan ribu petani nantinya yang akan dikorbankan.

Padahal produksi beras dari Kabupaten Bojonegoro dan Lamongan yang merupakan produsen beras terbesar ke-2 dan ke-3 di Jawa Timur merupakan sumbangan terbesar bagi Jawa Timur sebagai lumbung padi nasional, yaitu sekitar 15% dari produksi beras Jawa Timur (Sumber BPS Jatim 2009). Kalau adanya proyek pemanfaatan air Bengawan Solo ini tentunya akan mengancam Jawa Timur sebagai lumbung padi nasional. Sehingga akhirnya ketahanan pangan nasional juga akan terancam. Untuk itu sekali lagi rencana proyek pemanfaatan air Bengawan Solo ini harus benar-benar dikaji ulang dan dicarikan alternatif pengganti lainnya.

Tawaran Solusi Kreatif
Adapun alternatif pengganti lainnya yang sekiranya feasible adalah pemanfaatan air hasil produksi (produced water = air yang terikut saat pengangkatan minyak dari dalam sumur) dari Blok Cepu sendiri (nantinya) atau blok lain sekitar Blok Cepu, misalnya dari lapangan Mudi dan Sukowati yang dikelola oleh JOB Pertamina – Petrochina East Java (JOB – PPEJ). Dari lapangan Mudi saja saat ini bisa dihasilkan air yang terikut dengan minyak (produced water) sebesar sekitar 30 ribu barel per hari (data dari sumber yang minta dirahasiakan). Dan jumlah air ini tentunya akan terus bertambah mengingat sifat dari suatu sumur minyak akan meningkat komposisi airnya (water cut) yang terangkat ke permukaan dengan berjalanya waktu ekploitasi suatu sumur.

Pihak JOB-PPEJ sendiri konon kewalahan untuk membuang air ini karena semakin hari jumlah air yang terikut terangkat semakin bertambah. Sehingga kalau pihak pengelola Blok Cepu bisa memanfaatkan air ini (produced water) dari lapangan Mudi (dan nantinya Sukowati) tentunya hanya diperlukan pembangunan jalur pipa dari kilang JOB-PPEJ di lapangan Mudi Soko Tuban ke Blok Cepu di Bojonegoro sepanjnag kurang lebi 17 km, atau bahkan mungkin bisa memanfaatkan jalur pipa 6 inchi yang sudah ada (pada saat pipa ini sudah idle nantinya karena hasil produksi Blok Cepu sudah diekspor langsung menggunakan jalur pipa khusus langsung ke laut Jawa, perlu diketahui bahwa saat ini jalur pipa 6 inchi dipergunakan untuk ekspor minyak hasil blok Cepu lewat kilang di lapangan Mudi ).

Pemanfaatan produced water dari lapangan Mudi dan (nantinya) Sukowati oleh pengelola blok Cepu tentunya akan mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh JOB-PPEJ untuk melakukan reinjeksi air ini ke dalam formasi dan bagi pihak pengelola blok Cepu sendiri tentunya akan bisa dihemat biaya yang sangat besar karena tidak diperlukan pembangunan waduk penampungan air Bengawan Solo ataupun infrastruktur desalinasi air laut beserta jalur pipa penyalurnya yang sangat panjang dari Rembang atau Tuban ke lokasi blok Cepu.

Tentunya kerjasama mutualisme dua KPS (Kontraktor Production Sharing) kontrak dalam pemanfaatan produced water ini sangat perlu didukung semua pihak lebih-lebih pihak Pertamina sebagai patner kedua KPS ini dan tentunya BP MIGAS sebagai wakil pemerintah. Dan tentunya juga Pemkab Bojonegoro serta pihak DPRD Bojonegoro harus ikut mendorongnya agar solusi alternatif ini bisa ditindaklanjuti. Walaupun tentunya ide pemanfaatan produced water dari lapangan Mudi dan (nantinya) Sukowati untuk pengelolaan di blok Cepu baik secara teknis maupun komersial masih perlu study lebih mendetail dan mendalam yang tentunya memerlukan kerjasama ahli-ahli perminyakan kedua perusahaan tersebut.

Kalau sekiranya tawaran solusi kreatif ini bisa dijalankan tentunya trilyunan devisa negara nantinya bisa dihemat dan dampak pemanfaatan air Bengawan Solo oleh blok Cepu terhadap kelangsungan hidup ratusan ribu petani sepanjang Bengawan Solo bisa dieleminasikan dan juga dampak lingkungan akibat adanya desalinasi air laut untuk blok Cepu yang masih menjadi tanda tanya besar bisa dinafikan pula, semoga !!! (26 Agustus 2010).

* Tulisan ini juga diterbitkan di Radar Bojonegoro, tanggal 5 September 2010.

, , , , , , , , , , , , ,

  1. #1 by adi S. on September 6, 2010 - 11:48 pm

    Tawaran solusi aleratif yg sangat bagus dan cerdas, para stake holder Blok Cepu harus menindaklanjutinya

  2. #2 by Saidah M. on September 6, 2010 - 11:52 pm

    Kepentingan petani akan air Bengawan Solo harus dijamin. Pemkab Bojonegoro yang menginginkan desalinasi patut dicurigai kalau mereka ada main mata sama investor desalinasi

  3. #3 by suharno sujak on September 6, 2010 - 11:56 pm

    Ibu saya rakyat di kecamatan soko yg memanfaatkan air bengawan untuk pengairan sawah. Tolong tolak pemakaian air Bengawan oleh Blok Cepu, karena nanti kami2 sbg petani akan dikalahkan

  4. #4 by Ririn Sundari on September 8, 2010 - 1:34 pm

    Kritik yang konstruktif karena memberi jalan keluar yang sangat bagus

  5. #5 by Atika on September 30, 2010 - 1:20 pm

    TULISAN INI MENARIK dan MENDUKUNG PEMBERDAYAAN untuk membuka pemikiran2 yang meningkatkan percepatan produksi yg tinggi guna meningkatkan Pendapatan Daerah dimasa mendatang dengan saling memberikan solusi yg dianggap baik dan MAMPU bertindak menciptakan kesejahteraan yg menyeluruh.

    setahu saya dari suatu sumber yg akurat, sebulan yang lalu (Agustus 2010) GUBERNUR JATIM telah melayangkan Penolakan Bendungan Bengawan Solo yg diperlukan bagi kegiatan pengeboran ke BP MIGAS karena akan berdampak seperti tulisan tersebut diatas, selain dari pada itu wilayah yang terdampak akan membuat kerusakan di wilayah Provinsi Jatim terutama Bojonegoro, Tuban dan sekitarnya, yg pada hakekatnya akan membebani PEMDA BOJONEGORO dan TUBAN sebagai Centra produksi Minyak Di Pulau Jawa bagian Timur.

    PT. MERANGGI yang berperan serta bersama Petrogas Jatim Utama, PDAM Bojonegoro, PDAM Tuban, PDAM Blora, telah membentuk konsersium kerjasama Rembang Blora Bojonegoro, yang konon didukung oleh pejabat tinggi negara ini, yang bukan dari kalangan pengusaha setempat ( Proyek JAKARTA POWER) , Hal ini terjadi kejanggalan yang dipertanyakan oleh Provinsi Jatim, bahwa konsersium tersebut dikelola oleh PJU yg membidangi GAS, dan mengapa harus diambil dari rembang yg sangat jauh dan berada pada lintas batas JATENG – JATIM ? Kenapa kok tidak bekerjasama dengan Pemda Tuban ? Yang masuk dalam wilayah Jawa Timur ?

    hal lain yang lebih menarik adalah, Pemanfaatan Produced Water dengan reinjeksi air, kami tertarik untuk melakukan pemberdayaan kerjasama seperti yg ditulis disini, tapi ini hanya sebuah wacana atau memang ada yang dapat melakukan hal tersebut ? Apabila yg tersebut mampu, mengapa tidak mempersiapkan suatu rangkaian kerjasama nasional ? Kami akan ikut serta membantu gagasan cemerlang apabila itu dilakukan oleh Putra Putri Jawa Timur, karena wilayah pemberdayaan tersebut hanya untuk warga Jawa Timur khususnya dan Nasional Umumnya, serta mengingat PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK BLOCK CEPU 165 RIBU BArel/hari. Yang akan mensejahterakan Jawa Timur.

    saya ikuti terus blog ini, karena menarik untuk lebih berpikir maju dan kreatif untuk membangun bangsa ini. Dengan tidak mementingan kepentingan pribadi, atau kepentingan yg dipolitisasi. Peningkatan Pemberdayaan Perekonomian Daerah pada Skala Nasional.

    • #6 by khozanah on September 30, 2010 - 2:32 pm

      Thank Mbak Atika atas komentarnya di atas.
      Patut dicegah dan didesak terus agar proyek desalinasi yang digagas di atas di batalkan karena beberapa alasan:
      – Dari sisi analisa dampak lingkungannya belum jelas.
      – Proyek ini jelas mahal karena kan menggunakan jalur pipa
      dari Rembang ke Blok cepu yang sangat panjang.
      – Kenapa ngambil airnya tidak di Tuban saja, sehingga bisa
      ada nilai lebih untuk Tuban dan Jatim, bukan Jateng
      (Blok Cepu kan mainly di Jatim).
      – Proyek ini juga patut dicurigai proyek titipan dari atas.
      Padahal biatyanya akan sangat besar dan masuk Cost
      Recovery yang akan dibayar negara dari hasil minyak blok
      Cepu.
      – Kenapa tidak menggunakan Produced Water yang dihasilkan
      dari JOB-PPEJ yang besarnya saat ini 30 barrel/hari. Kan
      kita tinggal mempertemukan beberapa pihak untuk mengkaji
      segcara bersama-sama.

      Semoga terikan kita ini didengar oleh yang para stake holder Blok Cepu dan yang bisa mengambil keputusan.

      Suwun

  6. #7 by Gesang Budiarso on September 30, 2010 - 1:55 pm

    transferable blog by Atika.

    Blog ini menarik untuk dibaca, sebagai penggugah isnpirasi untuk bertindak bagi warga Jawa Timur, didalam pemberdayaan pembangunan segala bidang ekonomi kerakyatan, yg diwakili oleh putra putri terbaiknya.

    kami bagian dari warga Surabaya juga setuju atas usulan usulan tersebut diatas, tidak hanya sebatas uraian, tapi mendukung tindakan yg dianggap baik dan nyata, tidak sekedar retorika on paper and comment.

    bertindak tegas tapi dipikir dampaknya, ajukan kreativitas yg populist untuk dicermati dan ditindak lanjuti dan sampaikan maksud dan tujuannya kepada wakil2nya di Parlemen, dengan besar hati dan Profesional. Maka kita akan mendukung yang terbaik untuk melakukan pembangunan nasional yang tidak mempunyai kepentingan pribadi.

    trimakasih Ibu Khozanah Hidayati, Blog Ibu bermanfaat buat kami dan dengan senang hati kami akan membantu warga jawa timur membangun bangsa ini.

    GESANG BUDIARSO
    SEKJEN GOLKAR JAWA TIMUR.

  7. #8 by Mst on Oktober 10, 2010 - 5:45 am

    Wadduh, seru baca nih blog ya,,,,,lumayan buat belajar mikir cari peluangnya.

  8. #9 by M saichul anwar on Oktober 25, 2010 - 5:38 pm

    Merupakan sebuah solutif yang energic dan inofatif membaca tulisan ibu diatas.
    Saya sadar sepenuhnya 2 opsi yang digagas dipermukaan antara desalinasi atau pemanfaatan air bengawan solo tersebut memang mempunyai resiko yg berdampak langsung pada masyarakat.
    Jujur sampai skr pun saya masih bertanya2 seberapa besar kebutuhan air untuk proses eksploitasi tersebut. Pasalnya tiap kali saya melakukan desakan in selalu saja gagal dan tak tersampaikan pada pihak terkait. Sampai muncul sebuah bayangan bagi saya,bahwa sebenarnya eksploitasi tersebut tidak membutuhkan banyak air. Sedangkan air yg ada diwaduk it nantinya akan dimanfaatkan untuk wadah refresing sekaligus pencukupan kebutuhan air dalam perusahaan tersebut.

    Bu. Kalo saya diperkenankan saya ingin sekali berdiskusi dg jenengan. Entah it melalu via telfon ataupun dalam sebuah forum. Barang kali solutif ibu bisa kita kuatkan bersama.
    Walaupun saya tahu kurang lebih 2 miggu yang lalu BP Migas telah memutuskan untuk melakukan desalinasi. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika rakyat tetap bersuara untuk mendapatkan hak nya.

    Jika ibu berkenan saya ingin ibu memberikan no.hp ibu ke alamat e_mail saya (aan_twox@yahoo.co.id)

  9. #10 by Abram lukito on Januari 7, 2011 - 1:42 pm

    Saya kira bp migas sudah tepat mengambil keputusan.

  10. #11 by Abram lukito on Januari 7, 2011 - 1:52 pm

    Jalur pipa dari rembang menuju clangap bojonegoro itu melewati sebagian wilayah blora yg tandus. Sudah dipaparkan dari awal bahwa proyek desalinasi ini bukan semata mata utk kepentingan bisnis tapi di dalam ada misi sosial mensejahterakan masyarakat banyak bukan hanya daerah penghasil, bukan cuma profinsi jawa timur. Apa kita nggak ikut senang jika masyarakat Di luar daerah penghasil ikut merasakan nikmatnya pembangunan ? Egois sekali kalau kita berfikir seperti itu. Wassalam abram luki bocah sambong kec sambong kab mblora.

  11. #12 by mulyadi on November 12, 2012 - 3:19 pm

    maaf, saya dari pt sapta servisindo, saya ada tawaran untuk pemasangan pipa di cepu dari teman saya yang mengatasnamakan pt meranggi energi apa benar? pt saya berada di jakarta sedangkan pt meranggi kalau boleh tau di mana alamatnya? makasih email saya di yadi_renouf@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: