Mencermati Arah Koalisi Antar Bacabup dalam Pemilukada Tuban 2011

Oleh : Khozanah Hidayati (Anggota FPKB DPRD Tuban) dan tulisan ini tidak
mewakili kebijakan partai.

Pemilukada Tuban sebentar lagi akan digelar atau tepatnya bulan Maret 2011. Jadi masih menyisakan sekitar enam bulan lagi. Namun walau pelaksanaan pemilukada sudah dekat para bakal calon bupati (bacabup) Tuban yang akan maju dalam pemilukada nanti masih malu-malu dan saling tunggu untuk mendeklarasikan pencalonan mereka. Hanya ada satu bakal calon yang sudah secara resmi mendeklarasikan majunya dia dalam pemilukada nanti dan bahkan bacabup tersebut juga sudah menggandeng bakal calon wakil bupati (bacawabup).

Sebanarnya bayak sekali orang-orang yang berminat dan sudah melakukan lobi-lobi dan sosialisasi untuk mencalonkan atau dicalonkan menjadi bupati Tuban periode 2011 – 2016 nanti. Mereka ini berasal dari beberapa profesi, ada yang berprofesi sebagai dokter, pengusaha, dosen atau guru, pegawai negeri, anggota DPRD dan bahkan konon sang petahana bupati Tuban pun akan mencalonkan lagi walau tidak sebagai cabup namun cawabup pun cukup baginya.

Yang berasal dari profesi dokter ada tiga calon, yaitu dr. Bambang Lukmantono, dr. Bambang Suhariyanto dan dr. Supratikto. Sedangkan dari kalangan pengusaha ada KH. Fathul Huda, H. Muhamad Anwar, H. Hamdani, H. Hamim Amir, Nuril Huda, Setyobudi dan Subiyanto.

Adapun yang berasal dari kalangan pegawai negeri maupun guru dan dosen adalah wakil bupati petahana Lilik Soeharjono, Setiajid, Jarwoto dan Edy Toyibi. Serta dari kalangan anggota DPRD adalah Go Tjong Ping, Kristiawan, Agus Maimun dan Ali Muji. Dua nama yang terakhir adalah anggota DPRD Jawa Timur.
Dengan menggunakan kendaraan apa mereka ini akan mencalonkan atau dicalonkan menjadi bacabup atau bacawabup? Kalau melihat perkembangan pergerakan partai-partai politik di Tuban yang kelihatan adem ayem dalam menggodok pencalonan para jagoan mereka sebenarnya mereka itu semua saling menunggu. Dan yang mereka tunggu adalah pergerakan atau calon yang akan diusung oleh Partai Golkar (PG) dan calon yang akan diusung dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Kenapa mereka saling tunggu terhadap PG dan PKB? Ini semua ada kaitannya dengan persaingan pemilukada periode lalu (2006) dimana calon yang diusing PKB dan PDIP kalah tipis dengan calon yang diusung PG yang mana pada pemilukada tersebut diwarnai kerusuhan yang sangat memprihatinkan semua elemen bangsa.

Walau para partai masih saling menunggu untuk mendeklarasikan calon-calon mereka, namun sudah bisa dibaca bahwa partai-partai tersebut sebenarnya sudah mempunyai calon sendiri-sendiri. Misalnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah menggadang-gadang mantan pejabat Ketua Cabang PDIP Tuban Ali Muji untuk dicalonkan dalam pemilukada nanti. Namun Go Tjong Ping sebagai mantan cawabup saat pemilukada 2006 yang berpasangan dengan H. Nur Nahar Husain juga masih sangat berminat untuk dicalonkan oleh partainya, bahkan kalaupun PDIP tidak mencalonkannya, dia akan mencalonkan dengan kendaraan partai-partai gurem non parlemen.

Partai Demokrat yang saat ini mendudukan kadernya sebagai petahana wakil bupati kabarnya sedang menimang-nimang kadernya yang seorang pengusaha pupuk yakni H. Muhamad Anwar dan juga kadernya yang sekaligus ketua DPC Partai Demokrat Tuban Lilik Soeharjono untuk dicalonkan maju dalam pemilukada mendatang.

Sedangkan partai debutan Gerinda juga sudah menimbang-nimbang beberapa bakal calon yang sekiranya pantas dia usung dan yang santer terdengar adalah dr. Bambang Hunter dan Setiadjid.

Adapun Partai Golkar kabarnya akan mencalonkan Ketua DPRD Tuban Kristiawan sebagai calon bupati dan didampingi seniornya yang tidak lain adalah bupati petahana yaitu Hj. Haeny Relawati Indriastuti. Bupati petahana Haeny tidak maju menjadi cabup mengingat dia sudah dua kali periode menjadi bupati dan agar dia masih bisa meneruskan genggaman kekuasaan di Bumi Ronggolawe dia bersedia mencalonkan diri menajdi cawabup tapi dengan catatan yang menjadi cabup adalah orang yang bisa dia kendalikan. Dan karena posisi dia yang sangat strategis disamping sebagai ketua DPD PG Tuban juga menjadi bupati petahana maka dia akan dengan mudah menentukan siapa yang dia ajak untuk maju dalam pemilukada nanti. Dan dia akan juga dengan mudah memobilisasi dana dan aparat pemerintah untuk mendukung pencalonanya nanti.

Untuk PKB, bakal calon yang diusung akan diusungnya sangat ditunggu-tunggu baik lawan mapun kawan koalisinya / calon kawan koalisinya mengingat PKB akan mengusung seorang yang sangat disegani di dunia politik, ormas maupun di dunia busnis di Bumi Ronggolawe ini, yakni KH. Fathul Huda. Namun sayangsanya sampai detik ini beliau belum menyatakan bersedia untuk dicalonkan maju dalam pemilukada nanti.

Padahal konon jika sekiranya beliau bersedia untuk dicalonkan, maka partai-partai selain Partai Golkar akan menggagalkan diri mengusung kader meraka masing-masing dan balik mendukung penuh KH. Fathul Huda menjadi cabup untuk berlawanan dengan cabup dari PG.

Kalau sekiranya PKB gagal meyakinkan KH. Fathul Huda untuk maju dalam pemilukada yang akan datang, kiranya cukup sulit bagi PKB untuk mendapatkan bacabup dari internal PKB sendiri, ini mengingat Hj. Ana Muawanah yang sempat namanya santer dikabarkan bersedia dicalonkan untuk maju dalam pemilukada Tuban yang akan datang kenyataannya sudah menyatakan tidak bersedia dicalonkan, padahal popularitas Hj. Ana Muawanah sudah cukup menyebar di seantero Kabupaten Tuban.

Kalau demikian adanya, peluang PKB hanyalah mencalonkan bacabup dari non kader atau mendukung bacabup dari partai-partai lain. Bacabup dari non kader sangat banyak yang bersedia untuk dipinang PKB, karena dari beberapa nama yang disebutkan di atas kebanyakan belum mempunyai kendaraan politik yang akan mengusungnya. Dari kelompok ini tersebutlah nama Setiadjid, Setyobudi, H. Hamdani, dan lainya.

Yang sangat menarik untuk dicermati dan diamati dalam dunia perpolitikan di Kabupaten Tuban menjelang pemilukada ini adalah kemungkinan-kemungkinan koalisi antar partai-partai politik yang ada. Karena dalam dunia politik koalisi macam apapun bsa saja terjadi, misalnya PKB berkoalisi dengan PDIP, PD berkoalisi dengan PKB, PG berkoalisi dengan PPP dan sebagainya. Dan yang kelihatannya tidak mungkin yakni berkoalisinya PG dengan PKB dan PDIP justru bisa saja mereka berkoalisi dan hal ini tentu saja sangat menarik untuk diamati.

Seperti kita ketahui bahwa dalam dunia perpolitikan di Kabupaten Tuban PG, PKB dan PDIP adalah tiga besar partai politik pemenang pemilu legislatif 2009 di Kabupaten Tuban. Dan mereka ini saat pemilukada 2006 saling berhadapan yakni PKB dan PDIP melawan PG yang seperti kita ketahui pemilukada ini berakhir dengan kerusuhan dan dimenangkan oleh PG. Kalau sekiranya partai ini berkoalisi misalnya koalisi PG dan PDIP atau koalisi PG dan PKB dan bahkan koalisi PKB, PDIP dan PG sekaligus dan mengusung cabup dan cawabup tentunya sangat menarik dan kemungkinan akan dengan mudah memenangkan pemilukada mendatang.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah koalisi yang disebutkan di atas mungkin terjadi? Mengingat sejarah hubungan PDIP, PKB dan PG di Kabupaten Tuban ini sangat kurang harmonis. Namun karena ini dunia politik segala kemungkinan bisa saja terjadi. Misalnya koalisi PDIP dan PG mengajukan bacabup dari PDIP ALI Muji dan PG kebagian bacawabup Haeny Relawati. Atau sebaliknya PG mendapat bagian bacabup dengan menyodorkan Krisetiawan dan PDIP mengusung Ali Muji sebagai bacawabup. Tapi kemungkinan terakhir ini sangat kecil mengingat PG pasti akan ngotot bahwa kursi bupati adalah jatahnya dia demi untuk “mengamankan hasil-hasil” pembangunan yang sudah dijalankan oleh bupati Haeny Relawaty sekarang ini dan dari pihak PDIP sudah pasang harga mati bahwa Ali Muji adalah bacabup bukan bacawabup.

Jadi kalau PDIP jadi berkoalisi dengan PG, komposisi yang memungkinkan dan logis adalah Ali Muji sebgai Bacabup dan didampingi oleh Haeny Relawati sebagai bacawabup. Dan karena koalisi ini sangat kontroversi maka PG dimungkinkan akan menanggung biaya terbesarnya namun dengan jaminan bahwa “pengamanan hasil-hasil” pembangunan yang sudah didapatkan oleh petahan harus dijaga dan dipegang erat-erat oleh seluruh jajaran PDIP. Dan komposisi pasangan ini konon sedang digodok oleh kedua petinggi partai ini di Tuban.

Yang tak kalah seru adalah kalau sekiranya PG mengandeng PKB dengan komposisi cabup-cawabup siapapun. Namun kayaknya hal ini sulit terjadi mengingat sejarah masa lalu kedua partai ini di tingkat lokal Tuban sangat sulit menjaga hubungan yang harmonis.

Bagaimana dengan calon-calon independent? Yang sudah terlihat sampai sekarang ini ada bakal calon independen sebanyak 4 – 5 orang, yakni dr. Bambang Lukmantono – Masduki, Jarwoto – Edy Toyibi, dr. Supratikto, dan H. Hamim Amir. Saat ini merka sudah menggalang dukungan dan mempersiapkan adminitrasi sampai dipelosok-pelosok Kabupaten Tuban.

Namun seperti juga di daerah lain di Indonesia bahwa sangat sulit pasangan dari independen bisa memenangkan pemilukada. Hal ini karena ketiadaan mesin politik dan jaringan sampai tingkat ranting di dea-desa di seluruh penjuru kabupaten. Jadi sangat sulit mendapatkan calon independent yang mempunyai pengaruh di seluruh penjuru kabupaten.

Yang justru menarik adalah bacabup-bacabup yang tidak berminat dengan jalur independen namun belum ada partai yang mengusungnya. Misalnya Setiadjit, Setyobudi, H. M. Hamdani, dan lainnya. Apakah mereka ini akan melamar ke partai-partai yang ada ataupun mereka hanya sekedar “adong-adong” siapa tahu PG akan melamar mereka untuk dijadikan cabup mendampingi sang ketua DPD PG Tuban.

Terlepas dari siapa yang akhirnya akan bertarung dalam pemilukada Kabupaten Tuban 2011 mnedatang, tidaklah berlebihan jika kita berharap agar pemilukada mendatang menghasilkan pemimpin yang kapabel, kredibel, aksebtabel serta mempunyai integritas moral. Sehingga bisa membawa Tuban lebih maju, sejatera dan adil seperti menjadi cita-cita semua rakyat Tuban (AM, 07 September 2011).

Iklan

, , , , , , , , , , , , , ,

  1. #1 by enggal restu on September 13, 2010 - 6:58 pm

    PALING BAIK PG BELI SEMUA PARTAI AJA, KECIL BAGI HAENY UNTUK BELI PARTAI BELI NYAWA RAKYAT ATAU MANUSIA AJA BISA KOK, BELI PARTAI YANG ORANG-ORANGNYA MATA DUITEN LEBIH KECIL…. HA…HA…HA

    • #2 by apini on September 15, 2010 - 10:09 pm

      ngomong opo ae?

      ketoro nek pengen dadi bupati, hahahahahahaha,……

      • #3 by udun on September 15, 2010 - 10:11 pm

        mending aku ae sing dadi bupati……….

        nek aku sing dadi hehehehehehehehehe,……….

        gak mungkin 🙂

      • #4 by koncone_udun on September 15, 2010 - 10:14 pm

        udun iku ngomong opo?

        GAK MUTU COK !!!!

        OMONGANMU MAMBU TAI !!!!

        NGGEDABRUS !!!

  2. #5 by Sarwo Maruto on Oktober 11, 2010 - 1:28 pm

    Politiknya parpol penuh intrik-intrik, tanpa etika, tanpa nurani dan menghalalkan segala cara. Semoga rakyat Tuban semakin dewasa membaca situasi dan kondisi. Gunakan hati nurani yang paling dalam untuk figur yang tepat.

  3. #6 by agus on Oktober 11, 2010 - 9:07 pm

    TOLONG SALAH SATU ANGGOTA KPU TUBAN YG BERNAMA RUMIYATI TELAH MEMALSUKAN IDENTITAS DIRINYA, TOLONG DICEK ULANG DAN DITINDAK…

  4. #7 by Rr Indri Kusdiyantini, S.Pt. on Oktober 20, 2010 - 9:05 pm

    Parpol yang mengusung pasangan kadernya untuk jadi Calon Bupati dan Wakil Bupati Tuban Tahun 2011 jangan cuma melakukan ‘pencitraan’ saja tapi figur yang diusung harus benar-benar berkualitas, track reccordnya sempurna dan elektabilitasnya tinggi. Kita baru sadar bahwa rakyat ini telah dibodohi oleh kemenangan ‘pencitraan’ akibatnya negara dan bangsa ini semakin terpuruk. SBY menang karena bagusnya ‘pencitraan’ dan rakyat dibius oleh ‘pencitraan’ yang tidak sesuai kenyataan sehingga kemiskinan dan pengangguran semakin tinggi. Mari kita mengharap agar para pimpinan Parpol dapat mengusung Calon yang betul-betul akan bermanfaat bagi kemaslahatan rakyat Tuban seluruhnya. Jangan sampai kekayaan Tuban ini hanya dikuasai oleh Penguasa Tunggal di Daerah(Bupati dan keluarganya) dan elit-elit , tokoh-tokoh formal dan informal yang mengitari “Kekuasaan” Bupati Tuban. Mari kita renungkan dan tuangkan keputusan ‘ Inilah Calon Terbaik dari Parpol saya yang juga terbaik untuk rakyat Tuban’.

  5. #8 by zul qurnain on Oktober 23, 2010 - 2:54 pm

    Wahai semua manusia yang ada di bumi ronggolawe ayo toh sing gagah, gemregah panggah mantu rakyat sing podom susah ojo podo gawe gelaning liyan, tuban iki bumine poro wongkang minulyo ojo gawe pitutur kang olo opo maneh sing ora pokro, sikapi politik dengan ilmu yang bisa memberikan manfaat. ojo anarki… elingo kolo semono sejarah kang biso dadi kawerohy bocah bocah pungkasane mongah-mongah sebab kedaden tekan menungso kang podo kakeen polah ……. kang ora nggenah. ojo ngono cah…. !!
    Tubanmu tubanku, …….. ayo bersatu damai tuban.

  6. #9 by Ki Mas Bandar Widjaja on Oktober 26, 2010 - 10:55 am

    Wong Tuban sudah banyak kehilangan asset seni budaya dan tempat wisata legendaris. Pendoo Tuban yang dulu jadi pusat kesakralan kesaktian Boepati-Boepati Toeban djaman doeloe dan kesaktian poesaka-poesakanja, sekarang kesakralan dan kesaktian itu sudah raib entah kemana. Tuban menjadi “badan wadak tanpo yoni (bhs jawa )”. Belum lagi yang namanya “Pemandian Laut Tasikhardjo” dengan pantai pasir putih mebentang sepanjang pantai dan pandan-pandan lautnya kini lenyapyang ada warung-warung illegal dan rumah-rumah permanen serta tempat-tempat karaoke yang menyediakan nona-nona dan nonik-nonik yang siap “menghibur” para “lelaki jalang”. Pak atau Bu atau siapapun yang jadi Bupati Tuban Tahun 2011- dst, aku dari pemerhati seni budaya dan wisata, mohon dengan sangat dan dengan hormat agar Asset-asset Pendopo dan Pemandian Laut Tasikhardjo di hidupkan/lestarikan lagi agar Tuban mempunyai ikon dan landsmark yang beda dengan Daerah Lain…. Sehingga kalau orang pernah tinggal di Tuban punya kenangan…. Ini Loh Tuban …Salam dari Sanggar Waroeng Boentjit Djakarta

  7. #10 by Demang Jenu on Oktober 28, 2010 - 9:10 pm

    “BAGITO” Sosok Pemersatu Antara Kawan dan Lawan.

    Dalam dunia politik, apapun dan dengan cara bagaimanapun semua mungkin bisa terjadi. Ini adalah dunia lain yang tidak bisa dilakoni dengan kaidah “hitam-putih”. Dunia ini tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Sepertinya prinsip ini sudah menjadi konsensus dalam gelanggang politik. Makna dan arti sejarah dalam dunia politik hanyalah sebagai arsip perjuangan yang berakhir dalam rak-rak buku bekas. Bukan tidak mungkin PKB dengan PG koalisi, selama bersepakat dengan visi dan misi perjuangan politik, yakni BAGITO (BAGI roTO). Sejarah memang mencatat antara PKB dan PG di Kabupaten Tuban belum pernah ketemu dalam satu konsensus koalisi, namun bukanlah sejarah pertarungannya yang harus diingat tapi “akar tunggal” terjadinya goresan sejarah yang perlu ditelusuri kembali. Kira-kira benar tidak, kalau persoalan tunggalnya adalah “BAGITO”???????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: