Pemberian Kompensasi Berakhir, GOSP Kembali Keluarkan Bau Busuk

Oleh : Winarto/D. Suko Nugroho

Gas oil separation plant (GOSP) Banyuurip, Blok Cepu, kembali mengeluarkan bau busuk. Akibat insiden ini empat warga Desa Begadon, Kecamatan Ngasem, mengalami mual dan muntah. Ironisnya, bau seperti telur busuk ini muncul bersamaan dengan berakhirnya pemberian kompensasi sebagai pengganti kegiatan sosialiasi yang diterima warga di empat desa di sekitar GOSP.

Empat warga yang sempat mengalami mual dan muntah-muntah itu Jami (60), warga Desa Begadon RT. 03/RW. 02. Kemudian, Pingah (55), Sali (41), dan Warsito (38), ketiganya adalah warga RT. 04. RW.02. Mereka sempat memperoleh perawatan medis dari operator Blok Cepu, Mobil Cepu Limited.

Data yang diperoleh dilapangan menyebutkan, bau tak sedap dari fasilitas pengolahan minyak untuk memisahkan antara minyak dan gas (GOSP) itu mulai dicium warga Desa Begadon Selasa (28/09/2010), sekitar pukul 11.30 wib hingga pukul 12.30 wib.

“Bau sangat tidak enak. Seperti belerang. Membuat perut mual dan ingin muntah,” kata Jami, usai menerima pemeriksaan dari Tim Medis MCL.

Menurut dia, bau busuk kali ini lebih hebat dari pada bau-bau sebelumnya. Bau ini berlangsung sekitar satu jam. Namun tidak berlangsung terus menerus.

“Kadang (bau) ada, kadang hilang. Tapi kondisi ini sangat membuat kami panik dan harus berlari kesana-kemari,” terang wanita lansia ini.

Senada juga disampaikan, Sekretaris Desa Begadon, Sakiran. Menurut dia, warga khususnya di RT. 03 dan 04, RW. 02, sempat lari pontang-panting untuk menhindari bau busuk yang keluar dari GOSP.

“Kami berlari melawan arah angin. Kalau angin ke arah barat kita minta warga untuk beralih ke Timur,” sambung Sukiran.

Usai memeriksa tensi darah empat warga, Tim medis MCL menyatakan, bila pusing yang dikeluhkan mereka dikarenakan darah tinggi dan rendah. Tim Medis itu kemudian memberikan obat Milanta berupa pil dan obat penurun tensi maupun menaikan tensi warga.

“Tapi kalau mual-mual dan muntah bisa juga dikarenakan mencium bau tak sedap tadi,” tegas salah satu Tim Medis yang memeriksa warga.

Sementara itu, External Relation Manager MCL, Deddy Afidick menyatakan, belum bias memastikan apakah gas yang dicium warga Desa Begadon merupakan gas H2S. Pasalnya, sekarang ini pihaknya masih melakukan investigasi secara teknis untuk mengetahui munculnya bau tak sedapt dari GOSP.

“Yang menjadi focus kami siang tadi adalah keselamatan penduduk di sekitar GOSP, seperti mengirim tenaga mendis yang memadai untuk memberi bantuan bagi (warga) yang mual-mual,” pungkas Deddy.

Perlu diketahui, akibat bau tak sedap dari GOSP ini, operator telah memberikan kompensasi sebagai ganti dari kegiatan sosialisasi pada empat desa disekitar GOSP. Yakni Desa Gayam, Begadon, Brabowan, dan Ringintunggal.

Kompensasi yang diberikan setiap warga yang masuk Ring I memperoleh ganti rugi sebesar Rp. 50 ribu per orang untuk usia dewasa dan Rp. 20 ribu per orang untuk anak-anak dengan jumlah sosialiasi sebanyak 5 lima kali. Sedang didaerah Ring II sosialisasi hanya dilaksanakan tiga kali dengan nominal yang sama. Pemberian kompensasi yang dikemas dengan sosialisasi ini terkahir dilaksanakan di Desa Gayam, Selasa (28/09/2010).
Diposkan oleh SUARA BANYUURIP di 07.51 (dikutip dari Suara Banyu Urip, tanggal 30 September 2010)

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: