Pajak (yang) Gedhe dan Jaminan Sosial (yang) Minim

Mari kita mencoba menghitung berapa besar penghasilan kita setiap bulannya disetor atau dipaksa dipotong oleh negara lewat skema yang diberi nama PAJAK. Paling tidak hampir 50 persen telah dipotong tanpa kita sadari. Apakah Anda tidak percaya dengan pernyataan di atas? Tanpa memerlukan perhitungan yang rumit, tapi marilah kita telusuri sebentar dengan menjawab pertanyaan berikut: hal apa saja selain bernapas, yang dapat kita lakukan tanpa harus membayarnya pada negara?

Jika Anda dapat segera menyebutkan lima saja di antaranya dalam waktu kurang dari semenit sejak pertanyaan tersebut selesai Anda baca, angka 50 persen di atas, mungkin dengan segera harus kita koreksi. Sebagai bandingan, jawab pula pertanyaan sejenis akan tetapi topiknya sebaliknya: Pajak apa saja yang harus selalu kita bayar kepada negara, setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya?

Seumur hidup, kita memang bekerja untuk negara. Pakaian yang kita pakai, air yang kita minum, beras dan daging serta ikan yang kita makan, listrik yang kita nikmati, susu untuk anak-anak kita, peralatan-peralatn rumah tangga kita, semua dikenai pajak. Daftar semua hal yang kena pajak mungkin akan mencapai berlembar-lembar halaman buku harian kita. Negara bahkan telah memotong penghasilan rakyatnya sebelum mereka sendiri bisa menikmatinya. Coba bayangkan, pajak penghasilan sendiri kisarannya antar 5 – 30 persen.
Kita, tak pernah sekalipun mengeluh dengan kondisi yang telah kita alami itu, karena selain memang tak bisa berbuat banyak untuk mengubahnya, kita pun telah biasa hingga semua tak lagi terasa sebagai beban, tapi kebiasaan.

Kebiasaan membayar pajak sendiri, tentu bukan kebiasaan buruk. Jalan-jalan negara, aneka infrastuktur, para aparat yang menjalankan pemerintahan, termasuk para aparat hukum dibiayai dengan pajak yang kita bayar. Negara ini terus berdiri karena ketaatan rakyatnya membayar pajak.

Rakyat yang membayar pajak, juga bukan cuma rakyat yang secara finansial tajir, hidup di rumah-rumah mewah, dengan bidang usaha yang seperti gurita. Rakyat yang hidup miskin, tak memiliki pekerjaan tetap, bahkan anak-anak jalanan juga tak luput dari kewajiban itu. Sedikitnya mereka juga ikut menyumbang untuk pembangunan negara.

Karena itu, ketika roda pemerintahan tak dijalankan secara benar, pelayanan publik tersendat dan bahkan semerawut dan amburadul, atau ketika uang negara sengaja dikorup, dipakai untuk sesuatu yang tidak-tidak demi kesenangan pribadi, rakyat di negeri ini seharusnya marah. Sebab, mereka itulah, sesungguhnya, para penjahat yang harus diburu, diadili dan dipenjara dan kalau perlu dihukum mati.

Belum lama ini kita mendengar, bahwa Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran mencatat, jumlah yang dihabiskan para pejabat negara, mulai dari presiden, 13 kementerian atau lembaga, dan DPR di tahun ini utnuk perjalanan dinas saja mencapai Rp 19,5 triliun. Suatu jumlah yang sangat fantastis dan sekaligus menyakitkan hati rakyat. Betapa tidak, coba bandingkan dengan besarnya anggaran untuk Jaminan Kesehatan Masyarakat yang cuma mencapai Rp 4,6 triliun. Dan bagaimana dengan Jaminan Sosial lainnya seperti Jaminan Rakyat Miskin, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Sosial lainnya?

Melihat itu semua, sungguh sangat memprihatinkan. Sementara jaminan-jaminan sosial yang masih sangat minim dan bahkan tidak ada, para penyelenggara negara sudah menikmati fasilitas yang cukup membuat iri rakyat yang mendengarnya.

Coba kalau dana perjalanan dinas yang besarnya mencapai Rp 19,5 trilyun setahun tersebut digunakan sebagai tambahan untuk Jaminan Kesehatan Rakyat, Jaminan Sosial Rakyat Miskin, Jaminan Pendidikan Rakyat Kurang Mampu, dan jaminan sosial lainnya tentunya rakyat di negeri ini akan makmur dan sejahtera. Tidak akan kita dengar lagi rakyat yang kelaparan, rakyat yang tidak mampu berobat, anak yang tidak mampu sekolah, dan sebagainya.

Semoga kedepannya ketidakadilan sosial ini bisa benar-benar dibenahi dan tentunya didukung penegakan hukum yang adil, maka negara ini akan adil dan makmur, semoga (AM, 5 Oktober 2010).

Iklan

, , , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: