Teror, Kejahatan, dan Indonesia Kita

Oleh : Said Aqiel Siradj

Kembali Indonesia berkabung. Kekerasan meruyak seperti pada kasus Tarakan dan Ampera. Begitu pun teroris masih berkeliaran, bahkan makin berani melakukan aksinya. Para pengamat lagi-lagi mengelus dada. Adakah negeri kita terjangkit anomi sosial? Masyarakat sudah makin tak terarah, acuh dan sinis terhadap norma-norma yang ada. Dendam kesumat, baik atas nama solidaritas kelompok melalui premanisme maupun agama telah menyulut aksi brutal dan anarkistis. Penegak hukum seolah dipandang tiada (wujuduhu ka adamihi).

Problema kejahatan rasanya tak henti menjadi bahan diskusi paling hangat dalam setiap disiplin keilmuan maupun pada tataran real kehidupan. Kejahatan telah sedemikian lama melekat dan mewarnai hidup manusia yang bisa mewujud sebagai pembunuhan, penindasan, pemerkosaan, bahkan dalam bentuk “ritual” kebudayaan dan keagamaan yang menjadi simbolisasi bagi pengorbanan maupun pengabdian.

Pemahaman kejahatan berlangsung dalam tema yang menukik pada esensi manusia sendiri bahwa di dalam diri manusia berbaur antara sifat kebaikan dengan kejahatan. Bahkan, seperti pada mitologi Babilonia dan Helenisme yang menganggap manusia pertama telah lahir membawa benih kejahatan. Ada simbol-simbol dan mitologi yang mendasari tema kejahatan, tetapi barangkali yang real adalah bahwa kejahatan selalu menyertakan kekerasan.
Bagaimana agama memahami realitas kejahatan yang termasuk di dalamnya tindakan terorisme?

Fanatisme
Era “kebangkitan agama” seperti didengungkan oleh banyak pemikir dewasa ini telah membawa persoalan terorisme pada wilayah keagamaan. Umumnya, terorisme berpijak pada ideologi yang menjadikan pelakunya bertindak separatis, anarkistis, pemberontak, nasionalis, revolusioner atau pemeluk agama yang radikal. Rata-rata pelaku terorisme terpincuk oleh fanatisme yang kuat. Tetapi, apa pun dasar pijakannya, terorisme dibentuk oleh tindakan kekerasan yang ditujukan kepada penduduk biasa atau non-combating yang tak dipersenjatai. Dengan cara ini, mereka berharap memperoleh pengaruh politik yang lebih besar, misalnya diakui keberadaannya oleh masyarakat dunia.

Dalam ungkapan Hannah Arend, tindakan terorisme bisa didasari demi kepastian diri dan identitas. Inilah sebuah momen survival manusia yang diujudkan dalam bentuk kekerasan. Terorisme telah menjadi instrumen yang penting atau sulit dipisahkan, karena kekerasan bisa digeret dalam ruang pemahaman yang mistik dan religius.

Terorisme di samping menjadi alat, bisa juga menumbuhkan kesatuan pandang yang tidak tersekat oleh aliran ataupun agama. Oleh karenanya, persoalannya bukan bagaimana agama bisa menjadi alat legitimasi pada suatu tindakan terorisme – misalnya dalam bom-bom bunuh diri -,tetapi bagaimana eksistensi agama di tengah membuncahnya kekerasan. Agama sudah tentu bertolak belakang dengan kekerasan. Karena, agama diwahyukan untuk penyelamatan dan pembebasan umat manusia dari segala bentuk kehancuran moralitas.
Sakralisasi agama (taqdis al-diny) sesungguhnya hanya mewujud dalam ruang-ruang subjektifitas diri manusia yang dikaitkan dengan kekuatan transenden. Maka, melalui sakralisasi diri manusia ini, agama akan menjadi suatu tindakan kesalehan dan bagian dari penyucian diri yang terus menerus. Melalui inilah, agama sekaligus akan memberikan makna hakiki bagi eksistensi manusia, serempak memberikan kenyamanan bagi semesta.

Pandangan Salaf
Di dalam Islam, istilah yang selalu seksi dibahas berulang-ulang, khususnya bilamana muncul tindakan terorisme adalah jihad. Sudah terlalu sering pemaknaan jihad ini ditampilkan, baik secara filosofis, yuridis maupun sosiologis. Dalam masyarakat muslim sendiri saat ini tampak ada perbedaan pandang dalam memaknai konsep jihad serta munculnya apa yang sering disebut di media massa sebagai kekerasan atas nama agama.
Di sini, yang terpenting untuk diangkat adalah penolehan kembali pemaknaan terhadap konsep jihad pada pemikiran klasik (salaf) yang sudah sekian lama ditulis dan dipaparkan oleh para ulama yang otentik dan kredibel. Ini semacam langkah kembali pada nilai-nilai pemahaman klasik untuk menjumput hikmah yang tersembunyi dan sering kali hikmah tersebut justru diabaikan oleh pemahaman modern dan kontemporer.

Dalam kitab klasik I’anah al-Thalibin disebutkan bahwa hukum jihad adalah fardhu kifayah. Sedangkan jenis jihad sendiri tidaklah terpaku pada bentuk “kekerasan”, melainkan terutama dalam wujud memberikan perlindungan kepada warga, baik muslim maupun nonmuslim, dengan menyediakan fasilitas kebutuhan primer serta menyediakan obat-obatan dan biaya pengobatan.

Di sini, tampak jelas bagaimana ulama salaf memahami jihad secara luas. Jihad dalam konteks perlawanan dipahami dalam arti defensif, bukan ofensif. Dan secara substansial adalah bahwa jihad selalu harus digayutkan dengan persoalan kemanusiaan dengan segala permasalahan dan kebutuhan yang sifatnya konkret.

Kekerasan memang selalu ada. Ia bisa lahir dari “pola pikir”, “keyakinan” dan juga akibat solidaritas yang anomial. Akan tetapi, bukanlah bagai menegakkan benang basah untuk berupaya “menjinakkan” kekerasan dan terorisme. Penggunaan hard power tidak lantas menjadi jalan satu-satunya sebagai solusi. Cara soft power juga mesti dikedepankan. Penguatan gerakan tandingan untuk menghadapi kekerasan dan terorisme merupakan solusi yang patut diperhitungkan. Masyarakat pecinta kedamaian dan kesetaraan perlu menggenjot gerakan penanding melalui berbagai cara dan strategi. NU sendiri sudah banyak melakukan itu melalui pengajian-pengajian, halakah, pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin, penyuluhan, penerbitan buku dan lainnya. Intinya, membekali dan memagari warga NU agar tidak terpengaruh paham-paham puritan dan radikal yang saat ini tengah mewabah hingga masuk ke desa-desa, termasuk di kantong-kantong warga NU. Semua ini dilakukan demi kecintaan terhadap Indonesia yang damai dan sejahtera. (dikutip dari Harian Suara Pembaruan 20 Oktober 2010).

Penulis adalah Ketua Umum PBNU

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: