Pilkada Tuban dan Bayangan Kekerasan Politik 2006 (3) – Kuasa, Kepengapan Politik dan Kultur Minum Tuak Bareng

Hari itu, tanggal 29 April 2006. Ketenangan dan kedamaian warga Kota Tuban terusik. Tiba-tiba ada ribuan massa dengan menaiki kendaraan terbuka ‘bergerilya’ ke perkotaan. Massa marah, merusak, dan membakar apa saja yang berbau kekuasaan dan penguasa.

Pendapa Kabupaten Tuban yang berada di kawasan Alun-alun dibakar habis. Beberapa bangunan lain seperti kantor KPUD, Sekretariat DPD Golkar Tuban, dan aset pribadi milik calon Bupati terpilih Haeny Relawati, seperti Hotel Mustika, Gudang 99, dan rumah juga tak dilewatkan oleh massa untuk dirusak.

Radikalisasi massa pada pilkada Tuban tahun 2006 itu sungguh mengejutkan dan menghentakkan banyak kalangan. Maklum, pilkada Tuban saat itu yang dimenangkan pasangan Haeny Relawati-Lilik Suharjono diperkirakan berjalan aman, tenteram, damai, dan lancar. Kenyataannya, justru kekerasan politik yang muncul, yang berbentuk huru-hara di kawasan perkotaan.

Tak kurang 100 tersangka dijerat polisi dan duduk di kursi pesakitan akibat huru-hara politik ini. Satu di antaranya adalah Tjong Ping, politikus PDIP, yang tampil sebagai cawabup Tuban berpasangan dengan cabup Noor Nahar Husain, yang dijagokan PKB dan menjabat ketua PDIP setempat. Pilkada Tuban 2006 ongkosnya sungguh mahal secara sosial, politik, dan ekonomi.

Hampir selama 10 tahun terakhir, Tuban di bawah pimpinan Haeny Relawati, seorang bupati yang dikenal luas sebagai politikus Partai Golkar. Suaminya, Ali Hasan, dikenal sebagai pengusaha sukses dan kaya raya di daerah, yang bergerak dan membangun bisnisnya dari level bawah. Ali Hasan juga penduduk asli Tuban dan ‘kerajaan’ bisnisnya juga tumbuh dan berkembang mulai dari Tuban. Kombinasi penguasa politik dan pengusaha sukses dalam satu keluarga adalah formasi dan potret kepemimpinan politik dan ekonomi di Tuban pada hampir 10 tahun terakhir.

Paring Waluyo Utomo (2006), seorang penulis asli Tuban mengemukakan, dengan formasi seperti itu, maka betapa dominatif dan oligarkisnya kekuasaan politik di Tuban. DPRD tak berperan signifikan, karena Partai Golkar menjadi kekuatan politik terbesar, sementara perwakilan dari partai-partai lain seperti PKB dan PDIP yang kekuatannya sangat signifikan, mudah dipecah-belah oleh kepentingan pragmatis. Ada pula pesantren juga berperan jadi mesin politik penguasa lokal. Pers lokal sehari-hari lebih banyak memproduksi citra yang bersumber dari para elite oligarki lokal ketimbang kekecewaan akar rumput atas kebijakan pembangunan daerah.

Kejengkelan ini menemukan momentumnya saat pilkada tahun 2006. Rakyat serasa suaranya disabotase, namun hukum memihak pada kekuasaan bukan kejujuran. Aparat pilkada idem dito. Secara kolektif, massa yang merasa suara politiknya dibungkam dan aparat hukum memacetkan jalur keadilan, maka bahasa politik rakyat adalah menghabisi simbol-simbol kekuasaan dan simbol ketidakadilan yang bergelindan dengan kekuasaan politik dan penguasa ekonomi-bisnis lokal.

Radikalisasi politik pilkada Tuban 2006 lalu adalah bentuk bahasa lain untuk menaikkan bargain position rakyat dengan mencabut mekanisme politik lewat pilkada. Selain itu, radikalisasi politik tahun 2006 itu memberikan pelajaran kepada kekuasaaan bahwa kalau penguasa telah berbuat brutal, maka perlawanannya juga satu jalan: radikalisasi itu sendiri. Pepatahnya adalah ‘Penguasa yang jual, maka rakyatlah yang beli’.

Kefrustasian publik atas disparitas politik, sosial, dan ekonomi yang terjadi menjelang radikalisasi politik terkait pilkada Tuban tahun 2006 silam itu, hakikatnya kerap diekspresikan dalam hidangan minum tuak bersama: satu jenis minuman tradisional dari Tuban yang bersumber dari pohon lontar.

Konon ceritanya, tradisi minum tuak dilakukan untuk mencegah timbulnya kencing batu, karena air yang diserap dan diminum warga Tuban dari sumur mereka mengandung banyak unsur zat kapur, yang bisa membahayakan saluran percernaan di tubuh warga. Syahdan, gumpalan kapur itu dapat diatasi dengan tuak, karena tuak mampu memecahkan gumpalan batu itu, sehingga terhindar dari penyakit kencing batu.

Pilkada Tuban 2011 menjadi ajang pertaruhan politik bagi semua partai, terutama PDIP, Partai Golkar, dan PKB. Ketua PDIP Jatim, Sirmadji Tjondropragolo, pernah mengatakan bahwa pihaknya memberikan perhatian khusus pada pilkada Tuban. Gengsi dan reputasi politik partai nasionalis sekuler ini dipertaruhkan di perhelatan pesta demokrasi di Tuban nanti.

PDIP Jatim dan Tuban kalau tipis dengan ongkos mahal pada pilkada 2006 lalu. Tokoh PDIP Tuban: Tjong Ping, sempat merasakan panasnya duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Negeri Surabaya akibat radikalisasi politik pilkada Tuban. Tjong Ping jadi tersangka dan bahkan merasakan hidup 9 bulan di balik jeruji besi.

Idem dito dengan PKB, partai kaum Islam Tradisional (NU). Di Tuban ada Pondok Langitan di bawah pimpinan KH Abdullah Faqih, yang jadi rujukan moral dan sosial warga NU. Kenyataannya, PKB tak pernah memegang kuasa di daerah yang sekarang berkembang pesat sebagai kawasan industri baru ini pascareformasi 1998. Teritori politik Tuban pascareformasi jadi ladang politik politikus Partai Golkar, setelah sepanjang Orde Baru dikapling-kapling jago bupati dari barisan tentara (TNI/Polri).

Apakah pilkada Tuban 2011 mendatang bakal melahirkan formasi kepemimpinan baru di daerah ini? Atau justru melanggengkan penguasa politik dan ekonomi yang bernaung di satu keluarga dengan formasi tukar guling. Bupati bertukar posisi menjadi wakil bupati dan figur lain yang berperan sebagai figuran politik diposisikan sebagai orang pertama di Tuban? Skenario drama politik itu lagi disusun dan ditimang-timang plus-minusnya. Selamat berkontestasi politik. [air/dari berbagai sumber]
(Dikutip dari beritajatim.com, 22 Oktober 2010).

, , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: