BP. Migas Setujui Proyek Desalinasi

Oleh : kabupaten bojonegoro
Senin, 25 Oktober 2010
Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP. Migas) akhirnya memutuskan memakai air laut sebagai pemasok kebutuhan injeksi puncak produksi minyak Sumur Banyuurip, Blok Cepu, sebeser 165 ribu berel per hari (BPH). “Keputusan (desalinasi) itu diambil dua minggu dan kita baru tahun informasi ini kemarin,” kata Sekretaris Komisi A DPRD Bojonegoro, Sigit Kusharjanto dikonfirmasi melalui pesan pendek.

Dijelaskan, ada dua keputusan yang diambil BP. Migas dalam proyek pemenuhan kebutuhan air injeksi Blok Cepu ini. Yakni proyek desalinasi dan pembangunan waduk. Keputusan dua opsi ini, menurut dia, bakal membengkakan cost recovery menjadi empat kali lipat. Akibatnya dana bagi hasil (DBH) yang diterima Bojonegoro dari sektor Migas bakal berkurang. ”Kita tetap menolak dua keputusan itu. Karena keputusan ini sangat merugikan masyarakat dan Pemkab Bojonegoro,” sergahnya.

Komisi yang membidangi masalah hukum dan pemerintahan ini akan segera membanggil pihak terkait untuk melakukan perlawanan. Yakni BP. Migas, MCL, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan organisasi masyarakat, untuk melakukan heraing. ”Saat itulah kita akan mengambil sikap penolakan keputusan Bp. Migas,” tandas Ketua Badan Legilasi (Banleg) DPRD Bojonegoro ini.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas dan Lembaga Divisi Humas, Scurity dan Formality BP. Migas Japalu (Jawa, Palembang, dan Maluku), Elan Biantoro menegaskan, kebutuhan air injeksi puncak produksi tidak mungkin akan diambilkan dari bengawan solo. Karena sungai bengawan solo memiliki keterbatasan. Berbeda dengan air laut yang jumlahnya tak terbatas.

”Anda khan tahu sendiri bagaimana kondisi air bengawan saat musim kemarau. Apalagi air tesebut dimanfaatkan untuk kebutuhan petani disepanjang sungai,” terang pria yang pernah menjadi anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ini sambil menyanyikan beberapa bait lagu Bengawan Solo. Dia mencoba menggambarkan kondisi bengawan Solo.

Kendati demikian, Elan mengaku, BP. Migas belum menentukan keputusan penggunaan air injeksi Blok Cepu. Sebab saat ini, antara penggunaan air laut dengan sistim desalinasi dan air tawar dari Bengawan Solo masih dikaji. Baik dari sisi ekonomis, manfaat, maupun dampak lingkungan.

“Air yang digunakan (injeksi) nanti harus disesuaikan dengan air yang ada didalam reservoir sebelum diinjeksikan. Kalau mengunakan air laut nanti tinggal menyesuaikan saja. Mengurangi kadar garamnya sesuai dengan air dalam reservoir. Berbeda lagi bila memakai air tawar harus melakukan proses penggaraman,” jelas Elan.

Managemen PT. Meranggi Energi Consorsium (MEC), penggagas proyek desalinasi, juga mengaku belum mendengar keputusan dari BP. Migas tersebut. ”Ma’af, saya belum dengar hal itu (keputusan Bp. Migas). Dari mana anda dapat kabar keputusan itu ?,” sambung salah satu Manajemen PT. MEC ketika dikonfirmasi melalui ponselnya.

Sementara itu, External Relation Manager MCL, Deddy Affidick menegaskan, belum mengetahui keputusan desalinasi untuk memenuhui kebutuhan air injeksi Blok Cepu dari BP. Migas. Hanya saja, MCL telah mendapat persetujuan dari BP. Migas untuk memulai proses lelang EPC 5 untuk pekerjaan sipil dan infrastruktur.

”Kita (MCL) hanya menjalankan proses lelang yang mencakup hal-hal di PoD yang sudah disetujui. Seperti halnya pelelangan untuk EPC 1 sampai 5. Diharapkan dengan disetujuinya proses lelang EPC5 ini full field production (FFD) tidak tertunda lagi,” pungkas Deddy Affidick. (Kominfo)

, , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: