Koruptor itu Kafir

Judul di atas saya pinjam dari sebuah buku hasil kajian fikih para ahli agama dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Selama ini wacana publik tentang korupsi selalu merujuk pandangan sekuler yang menyebut korupsi itu bertentangan dengan etika dan moralitas publik.

Korupsi juga dinilai mengingkari prinsipprinsip good governance seperti akuntabilitas, transparansi, dan rasionalitas birokrasi pemerintahan modern. Agar gema kecaman pada praktik korupsi makin meluas dan punya resonansi yang kuat,pandangan mengenai korupsi dari perspektif agama perlu disuarakan lebih keras lagi.Perlu kerja kolektif dari berbagai kelompok sosial dan komunitas agama untuk terus melakukan kampanye publik melawan korupsi yang sudah sedemikian akut.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang menjadi representasi kelompok Islam paling besar tentu dapat memberi kontribusi penting dalam mendorong gerakan antikorupsi. Selain mewakili jumlah umat muslim yang sangat besar, kedua organisasi sosial keagamaan itu juga dapat menyuarakan pandangan moralitas agama bahwa korupsi itu bertentangan dengan ajaran agama mana pun.

Tanpa berpretensi putus asa, wawasan eskatologis perlu diberikan agar dorongan untuk melakukan korupsi dapat (sedikit) diredam. Perbuatan korupsi yang melanggar prinsip keadilan, jika pun lolos dari jerat hukum dunia, pasti akan mendapat balasan setimpal dari hukum Tuhan di hari kemudian nanti. Sungguh, praktik korupsi di Indonesia benar-benar sudah di luar batas imajinasi kolektif bangsa yang membuat orang tak mampu lagi berkata-kata, kecuali tercenung dan termangu karena tak membayangkan betapa penyakit sosial ini sudah teramat parah.

Saksikan, skala korupsi begitu masif dan gigantik dengan bilangan uang yang ditilap demikian fantastik. Kita sempat tercengang ketika seorang jaksa dengan jabatan eselon III, Urip Tri Gunawan, menerima uang suap sebesar Rp6,6 miliar. Kini segenap warga bangsa tak mampu lagi mengungkapkan ekspresi keterkejutan ketika Gayus Tambunan, pegawai pajak golongan rendah (III-A), dengan sikap dingin menilap uang pajak lebih dari Rp100 miliar! Dengan akal bulus dan tipu muslihat, Gayus merekayasa kasus dengan cara mengelabui hukum sehingga ia terbebas dari jerat hukuman berat.

Beruntung, tipu muslihatnya tercium publik dan skandal megakorupsinya pun terbongkar.Publik meyakini, berbagai skandal korupsi gigantik yang meledak sesungguhnya merupakan lapisan puncak gunung es belaka dari gumpalan skandal akbar, yang terselimuti oleh politik oligarkis berbungkus sistem demokrasi modern. Setiap kali membaca berita skandal korupsi raksasa dengan jumlah uang puluhan, bahkan ratusan miliar rupiah, kita hanya bisa termenung sambil bertanya: untuk apa mereka korupsi dengan jumlah uang sebesar itu?

Nurani para koruptor itu jelas sudah tumpul sehingga lebih memilih memanjakan selera duniawi, hidup dalam gelimang kemewahan yang didorong oleh nafsu paling primitif: keserakahan dan ketamakan! Mungkin nurani mereka tak pernah tersentuh oleh pesan profetik dalam Kitab Suci semua agama. Dalam Alquran misalnya, Tuhan berfirman: “Dan janganlah kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan batil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa,padahal kamu mengetahui” (Surat Al- Baqarah: 188).

Mereka juga tak pernah merenungkan khotbah moral Nabi utusan Tuhan yang berpesan bahwa harta yang diperoleh secara tidak halal tidak akan membawa berkah dalam kehidupan. Dalam sebuah Hadits yang amat populer, Nabi Muhammad bersabda: “Setiap tulang dan daging yang tumbuh di badan dari makanan yang tidak halal, seluruh amal dan ibadah tak akan diterima Allah SWT.” Bayangkan, bila para koruptor itu menafkahi keluarga dan menghidupi anak-anak mereka dengan uang haram, yang membuat hidup mereka tak membawa berkah dan hanya sia-sia belaka di mata Tuhan.

Maka, dapat dimaklumi bila para pemuka agama berpandangan bahwa koruptor itu kafir,yang merujuk pada sabda Nabi: “Tidaklah seseorang mencuri bilamana ia beriman kepada Tuhan” (Lihat Telaah Fikih Korupsi Muhammadiyah— NU: Koruptor itu Kafir, Mizan 2010). Sungguh, para pelaku korupsi itu seolah tak beriman kepada Hari Pembalasan di alam akhirat nanti, ketika semua amalan sepanjang hidup di dunia akan ditimbang untuk diberi ganjaran yang setimpal.

Amal kebajikan dan laku kejahatan bahkan sekecil biji zarah sekalipun akan diperhitungkan dan tak akan ada yang terlewatkan di Yaum Al-Hisab. Dalam konteks kehidupan politik kebangsaan, siapa pun yang terlibat korupsi—Urip,Gayus, politisi di Senayan, dan para pejabat negara—dapat dipastikan tak menghayati sama sekali cita-cita para founding fathers, ketika mereka berjuang mendirikan negara-bangsa. Para koruptor itu juga pasti tak pernah membaca riwayat hidup para pendiri bangsa.

M e s k i p u n berjasa besar dalam memb a n g u n n e g a ra – bangsa, mereka tak pernah mengambil manfaat untuk kepentingan pribadi ketika menduduki jabatan publik dan mengemban kekuasaan dalam politik kenegaraan. Mohammad Hatta, proklamator dan wakil presiden, yang tetap hidup bersahaja dan menjadi sumber rujukan moralitas publik, berjuluk The Man of Integrity. Sutan Sjahrir, satu dari tiga serangkai perintis proklamasi kemerdekaan dan perdana menteri, yang harus melego mesin jahit untuk menyambung hidup.

Mohammad Natsir, penggagas mosi integrasi yang menjadi menteri penerangan dan perdana menteri, tetap mengenakan jas tambalan ketika mengemban tugas negara. Bandingkan dengan kemewahan para politisi dan pejabat negara zaman sekarang! Ignatius Joseph Kasimo,pejuang danpolitisiyanghidup dalam asketisme politik lazimnya pemeluk Katolik saleh, yang menginspirasi kehidupan kolektif anak-anak bangsa lintas agama.

Mereka semua memberi teladan moral yang amat berharga bagaimana menjadi pejabat negara dan pemimpin politik yang baik serta bagaimana mengelola negara untuk kepentingan kemaslahatan bagi segenap warga bangsa. Para pemimpin bangsa zaman dulu tampak menghayati betul nilai-nilai civic virtues seperti kejujuran, kebajikan,keutamaan moral (moral excellence),yang menjadi landasan utama dalam memberi pengabdian tulus kepada republik.

Para ahli sosiologi menyebut civic virtuesebagai elemen pokok dalam upaya membangun masyarakat utama, karena itu ia disebut the moral underpinning of how a citizen behaves and is involved in society. Penghayatan pada nilai-nilai civic virtues inilah yang hilang di kalangan politisi,pejabat publik,dan para penyelenggara negara sehingga praktik korupsi terus merajalela. Penat membaca rangkaian berita skandal korupsi yang tiada henti, bayangan wajah almarhum Rendra pun melintas di pikiran saya.

Dengan suara khasnya yang memekik,pujangga besar itu membacakan puisi indahnya: “Aku mendengar suara jerit hewan yang terluka. Ada orang memanah rembulan. Ada anak burung terjatuh dari sangkarnya.Orang-orang harus dibangunkan. Kesaksian harus diberikan. Agar kehidupan bisa terjaga.” Maka, bangunlah para cerdik cendekia yang masih punya pikiran bening dan kesadaran profetik untuk bersaksi bahwa korupsi adalah perbuatan nista, perilaku tercela yang bertentangan dengan prinsip moralitas agama apa pun. Karena politisi dan pejabat korup, selama puluhan tahun rakyat Indonesia hidup dalam kubangan kemiskinan dan menjalani kehidupan dalam derita panjang yang tak terperi.(*)

Amich Alhumami
Peneliti Department of Anthropology
University of Sussex, United Kingdom
Dikutip dari KOran Sindo, 27 Nopember 2010

, , , , , , , , ,

  1. #1 by Jabaal Nur Hakim on November 27, 2010 - 12:53 pm

    ikut nampang ah…

    Kalo ngomongi kafir, aku juga kafir lho..karena barangsiapa tidak berhukum dengan apa yamg diturunkan Allah (Al Qur’an) maka mereka adalah orang kafir…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: