Redefinisi Raqabah

Penemuan Codec Hammurabi (Babylonia) mempertegas bahwa dokumen hukum tertulis pertama dalam sejarah umat manusia telah mencantumkan pasal tentang perbudakan manusia. Sampai memasuki abad 6 Masehi, menjelang kenabian Muhammad SAW, perbudakan masih menjadi tradisi di kawasan negara-negara Arab.

Pasca kenabian akhir, disebabkan oleh kegagalan para ulama dalam memahami hakekat hukum Islam, hingga kini tradisi perbudakan dilestarikan oleh bangsa Arab. Kesalahan paling fatal ketika beberapa ulama di Timur Tengah masih melegalkan perbudakan atas nama hukum Islam.

Akibatnya, kasus penganiayaan dan pembunuhan tenaga kerja wanita (TKW), khususnya dari Indonesia, yang terjadi di tanah Arab masih terus terjadi. Kasus Sumiati baru-baru ini menjadi contoh pertunjukan kebiadaban manusia akibat kegagalan para ulama di Timur Tengah dalam memahami hakekat hukum Islam.

Budak
Sistem perbudakan lahir dari tradisi bangsa-bangsa terdahulu yang gemar berperang. Dalam pertempuran, setiap pihak yang kalah jika tidak terbunuh, akan dijadikan sebagai tawanan perang (asra). Jika tawanan perang tidak mampu menebus dirinya, dia akan dijadikan sebagai budak (tunggal: riqab, jamak: raqabah). Selain tradisi perang antarsuku dan bangsa, sistem perbudakan lahir dari kondisi ekonomi yang sulit di tanah Arab. Seorang yang tak mampu melunasi hutangnya, dia menawarkan diri dijadikan sebagai budak. Kategori ini disebut budak mukatabah.

Tradisi perbudakan juga sudah dikenal dalam hukum para nabi. Nabi Ibrahim, sebelum mendapat keturunan dari Hajar dan Sarah, juga memiliki seorang budak kesayangan bernama Eliezer, yang dijadikan sebagai anak angkat. Berdasarkan penelitian Jerald F. Dirks (2006), Eliezer diperoleh selama perjalanan Nabi Ibrahim ke Damaskus. Ibrahim pernah ditegur oleh Tuhannya karena berniat akan mewariskan harta kekayaannya kepada Eliezer. Keturunan Nabi Ibrahim dari jalur istri pertama (Sarah) juga melestarikan perbudakan. Nabi Yaqub memiliki dua budak perempuan bernama Lea dan Rahel yang kemudian dinikahi. Bahkan, salah satu syariat Nabi Yaqub: bagi pencuri, hukumannya adalah menjadi budak selama satu tahun (QS Yusuf: 75).

Sesungguhnya, sistem perbudakan sangat mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang paling asasi. Seorang hamba sahaya tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Hak milik atas diri seorang hamba sahaya telah dirampas atau dijual kepada tuannya, sehingga statusnya disamakan dengan kepemilikan terhadap barang. Karena tidak memiliki hak kepemilikan atas dirinya, seorang budak tidak dapat secara leluasa berbuat sesuai dengan keinginannya. Kebebasannya telah terenggut. Oleh karena itu, seorang budak bisa diperjualbelikan di pasar umum. Bahkan, budak perempuan bisa diperlakukan secara leluasa oleh tuannya. Dia bisa disuruh bekerja keras, melayani nafsu tuannya, bahkan dibunuh sekalipun.

Hikmah hukum
Risalah Islamiyah yang diembankan kepada Muhammad SAW pada awal abad 6 Masehi menentang sistem perbudakan. Dalam tradisi perbudakan ini, makna kebebasan manusia telah diabaikan. Oleh karena itu, dalam salah satu ajaran Islam mewajibkan seorang Muslim untuk membebaskan budak, baik laki-laki maupun perempuan.

Dalam Alquran, kata budak sering diungkapkan dengan kata “riqab” (Al-Baqarah 60; Al-Mujadilah 3; Al-Balad 13; Al-Maidah 89; At-Taubah 40). Kadang juga digunakan kata “amatun” (Al-Baqarah: 221), “rijalun fihi syuraka'” (Az-Zumar: 29). Ternyata, al-Qur’an paling sering menggunakan kata “ma malakat aimanukum” (An-Nur 31, 33, 58; An-Nisa 24, 25; Al-Mu’minun 6; Al-Ma’arij 30; An-Nahl 71) untuk menyebut budak.

Dalam syariat zakat, kaum budak menjadi bagian dari dalapan golongan yang berhak menerima santunan zakat (QS At-Taubah: 40). Seorang Muslim yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya (dzihar), jika dia akan mencabut kembali sumpahnya, syaratnya harus memerdekakan seorang budak (QS Al-Mujadilah: 3). Bahkan, ajaran Islam menuntut umatnya untuk menempuh jalan kesukaran (al-‘aqabah), yang akan berbuah pahala besar, yaitu membebaskan budak (QS Al-Balad: 13).

Dalam konteks historis, sistem perbudakan merupakan tradisi yang sudah diterapkan sejak ribuan tahun silam di kawasan negara-negara Arab. Ajaran Islam datang membawa pesan kedamaian dan keadilan dengan menempatkan budak sebagai salah satu unsur dalam proses hukum Islam. Namun demikian, penempatan budak sebagai unsur dalam proses hukum Islam bertujuan untuk menghapus tradisi yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan ini. Di sinilah para ulama tradisionalis di Timur Tengah masih belum mampu menemukan “hikmah hukum” (asrar al-hukm) dalam penempatan budak sebagai salah satu unsur dalam proses hukum Islam.

Saat ini, sekalipun tradisi perbudakan telah lenyap dari muka bumi ini, tetapi sistem baru yang substansinya menyerupai sistem perbudakan telah muncul. Kasus TKW yang secara sistemik tidak didukung oleh undang-undang ketenagakerjaan yang baik dan pandangan bangsa Arab yang masih melegalkan sistem perbudakan merupakan problem baru yang harus dijawab secara hukum oleh para ulama saat ini. Jika para ulama masih memahami definisi riqab sebagai hamba sahaya, syariat pemerdekaan budak untuk saat sekarang ini jelas sudah tidak relevan lagi. Apabila para ulama sudah tidak mampu memahami subtansi ar-raqabah, salah satu dari sembilan golongan penerima zakat ini telah lenyap. Para ulama harus memahami makna ar-raqabah secara kontekstual dengan napas zaman sekarang sehingga syariat memerdekakan budak tetap dipandang relevan.

Sayangnya, para orientalis sering memutar balik kebenaran dengan mengatakan ajaran Islam melegalkan perbudakan. Ironisnya lagi, beberapa ulama dari kalangan Timur Tengah sendiri justru malah membenarkan tradisi perbudakan. Sekalipun mereka tidak secara eksplisit berpendapat bahwa perbudakan merupakan bagian dari ajaran Islam. Tetapi, sikap mereka justru membenarkan fenomena perbudakan di abad modern seperti sekarang ini. Disebabkan oleh defisit pemikiran hukum, mereka berdalih apabila perbudakan telah dihapuskan dari muka bumi ini, kewajiban umat Islam untuk memerdekakan budak menjadi tidak relevan lagi. Inilah kenyataan ironis dari pemahaman beberapa ulama dari Timur Tengah sehingga kasus-kasus tentang TKW yang cacat, hamil, bahkan tewas, masih menghiasi media massa kita.

Oleh : Mu’arif (penulis buku)
Dikutip dari koran Replubika, 25 Nopember 2010

, , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: