Stop Diskriminasi Terhadap Perempuan

Refleksi Hari Guru dan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: 25 November 2010

Oleh: Eny Luckiyah,
Aktivis Perempuan dari Gerakan Perempuan Pendukung Gender, tinggal di Yogyakarta.

Gagasan pemerintah dalam memfatwakan upaya penghapusan tindak diskriminasi terhadap perempuan tampaknya mulai membumi. Meskipun banyak kita jumpai upaya pemerintah dalam menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak, namun jumlah korban yang ditemukan masih banyak. Data korban sebagaimana yang telah dicatat oleh Samitra Abhaya selaku anggota KPPD, dia mencatat bahwasanya sejak tahun 1999 jumlah korban 1 orang. Tetapi hingga tahun 2010 ini, telah bertambah mendekati angka lebih dari 1000 kasus, dan perempuanlah yang menjadi korbannya.

Sementara dari data yang telah dihimpun Samitra Abhaya dari media massa di Jawa Timur, yang menjelaskan bahwasanya pada tahun 2007 saja terekam 664 kasus kekerasan yang terjadi di Jawa Timur dengan jumlah korban 1787 orang. Dari data tersebut, 24% korbannya berusia anak-anak yang cenderung meningkat pada tahun berikutnya. Kendati begitu, angka kekerasan terhadap anak tidak pernah lebih besar dari data kekerasan terhadap istri tiap tahunnya.

Namun, hal ini perlu menjadi perhatian bersama. Mengingat kekerasan yang terjadi terhadap anak perempuan bukan hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga kualitas kekerasannya. Memperhatikan terhadap kasus ini, merupakan salah satu bentuk pencegahan terhadap korban kekerasan terhadap perempuan di masa mendatang. Sebab, pengalaman pendampingan menunjukkan, sebagian besar korban kekerasan pernah mengalami trauma kekerasan di masa kecilnya, demikian pula dengan pelaku kekerasan.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa terjadi di ranah privat. Yakni, dalam konteks relasi personal dalam rumah tangga dan sebagainya. Juga bisa terjadi dalam ranah publik atau masyarakat, maupun kekerasan yang dilakukan oleh Negara. Dalam konteks kekerasan terhadap perempuan, hal ini muncul dalam beragam bentuk. Mulai dari kekerasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, perdagangan anak perempuan, eksploitasi seksual komersil perempuan, eksploitasi pekerja rumah tangga (PRT), kekerasan masa pacaran, dan lain-lain.

Hal ini muncul karena banyak sebab. Diantaranya karena pemahaman yang keliru mengenai hakikat kekerasan. Bagi mereka, kekerasan dianggap hal yang wajar untuk mendisiplinkan dan mengajar kepatuhan anak. Relasi usia yang timpang. Sementara, budaya di masyarakat menempatkan orang dewasa lebih berkuasa dari pada anak-anak. Selain itu, budaya juga mengabaikan dan menganggap wajar perilaku seksual yang cenderung menyukai anak. Selain itu, bekal pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja cenderung kurang.

Berbagai kekerasan terhadap perempuan dan anak cenderung melahirkan bentuk kekerasan baru dan berdampak sangat luar biasa. Misalnya, beberapa anak perempuan korban perkosaan ataupun perdagangan manusia yang mengalami dampak kehamilan tidak diinginkan. Mereka tidak hanya akan mengalami tekanan psikososial yang besar. Namun, juga berdampak lebih serius yang menyebabkan akses pendidikannya terpangkas di tengah jalan.

Sebagaimana telah diliput dalam berita media massa, bahwa meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak juga terjadi di lingkungan sekolah maupun ranah publik lainnya. Secara umum, kekerasan terhadap perempuan dan anak belum dipahami sebagai salah satu bentuk pelanggaran Hak asasi Manusia. Pencegahan dan penanganan korban kekerasan merupakan tanggungjawab pemerintah dan masyarakat. Tetapi sayangnya ini belum melahirkan kesepahaman yang ideal dalam implementasinya.

Problem utama dalam hukum berpusat pada ketiadaan hukum yang memberikan perlindungan bagi perempuan korban kekerasan tersebut. Bahkan istilah “kekerasan terhadap perempuan” tidak dikenal dalam hukum Indonesia. Meski fakta kasus ini marak terungkap di berbagai penjuru Indonesia. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) saat ini, sebagian kasus yang tergolong kekerasan terhadap perempuan memang dapat dijaring dengan pasal-pasal kejahatan.

Namun hal ini terbatas hanya pada tindak pidana umum dengan korbannya bisa laki-laki atau perempuan. Tetapi tidak mutlak mengarah pada perlindungan terhadap perempuan. Tindak pidana ini dirumuskan dalam pengertian sempit, meskipun ada pemberatan pidana. Seperti bila perbuatan tersebut dilakukan dalam status hubungan keluarga. Sebagaimana tindak pidana yang dilakukan terhadap ibu, istri, maupun anak-anak.

Kekerasan terhadap isteri merupakan tindakan pidana. Hal tersebut telah diatur dalam pasal 351 jo 356 (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Salah satu kesimpulan dari pasal-pasal ini adalah sebagai berikut: bila penganiayaan dilakukan terhadap keluarga dekat/orang yang seharusnya dilindungi, maka hukumannya ditambah sepertiga dari jumlah hukuman semestinya.

Dalam rangka mewujudkan bentuk perlindungan terhadap perempuan dan anak, Indonesia telah mengesahkan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Sebab, di tinjau dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak merupakan generasi masa depan penerus bangsa. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh berkembang, serta mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi.

Salah satu kendala dalam mencegah secara optimal terjadinya kekerasan terhadap perempuan adalah sulitnya menjangkau keberadaan keluarga korban. Diharapkan ini sebagai pendukung utama adanya pencegahan bagi korban. Aksesibilitas sekolah lebih mudah dibandingkan keluarga. Untuk itu sekolah mempunyai peran strategis dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Selain itu, Pasal 54 UU Perlindungan anak secara spesifik menegaskan bahwa “anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya”. Gambaran di atas menunjukkan pentingnya kerjasama pihak terkait untuk melakukan pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan sekolah. (Dikutip dari website gp_anshor.org, 28 Nopember 2010).

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: