Dukungan Keluarga Langitan Dipastikan Ke HUDANOOR

Menjelang penetapan cabup-cawabup diprediksi dukungan keluarga Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan, Widang Tuban terhadap pasangan cabup-cawabup pecah.

Semula, hampir dipastikan keluarga Langitan bakal utuh mendukung pasangan Setiadjit-Bambang Suhariyanto (SEHAT). Sebab, Gus Maksum salah seorang putra KH. Abdullah Faqih pimpinan ponpes Langitan merupakan Ketua DPC PKNU yang mencalonkan SEHAT dalam Pemilukada 2011 Tuban.

Dalam deklarasi pasangan cabup-cawabup Fatchul Huda-Noor Nahar Husain (HUDANOOR), Sabtu (11/12) di pusat pendidikan LP Ma’arif Bumi NU Manunggal, Jl Manunggal Tuban, selain dihadiri sejumlah kiai sepuh, empat putra Langitan juga ikut hadir dan menjadi saksi dalam deklarasi pasangan cabup-cawabup yang dicalonkan PKB, Gerindra, PPP dan PBB.

Keempat putra Langitan yang hadir itu diantaranya, Mohammad (Gus Moh) Gus Munif dan Gus Adib. Selain itu, juga tampak hadir ustadz Amirin, mantan Ketua DPC PKNU Tuban.

Ustadz Amirin sendiri, pada 2006 lalu juga menjabat Ketua DPC PKB Tuban bentukan Choirul Anam yang kini menjabat Ketua Umum DPP PKNU.

“Alhamdulillah ustadz Amirin sekarang mendukung HUDANOOR, padahal 2006 lalu sempat menjadi batu sandungan saat pencalonan NonStop (Noor Nahar Husain-Teguh Prabowo),” terang sejumlah pendukung pasangan HUDANOOR.

Informasi yang berkembang, saat Fatchul Huda belum muncul sebagai cabup, keluarga Langitan bisa dikatakan utuh mendukung cabup Setiadjit. Namun, saat Fatchul Huda muncul sebagai salah satu cabup, sebagian keluarga Langitan mendukung Fatchul Huda. “Karena sekarang cabupnya kan Ketua NU Cabang Tuban, wajar kalau keluarga Langitan juga mendukungnya,” terang Mustofa, pendukung HUDANOOR asal Widang.

Namun, diyakini, kehadiran putra Langitan dalam memberikann dukungan deklarasi HUDANOOR itu merupakan dukungan pribadi dan hak politik sebagai warga Tuban. “Saya yakin orang semacam Gus Moh itu tidak akan membawa-bawa Langitan dalam kancah politik Pemilukada ini,” tambah Mustofa.

Sayangnya, putra Ponpes Langitan yang hadir dalam deklarasi HUDANOOR belum bisa dikonfirmasi, sebab keburu meninggalkan lokasi deklarasi yang terus diguyur gerimis.

Bahkan, sejumlah pendukung dan simpatisan HUDANOOR yang hadir di acara deklarasi memprediksi, jika Fatchul Huda muncul sebagai cabup jauh sebelumnya, PKNU dipastikan bakal mendukungnya.

Sebab, dengan bergabungnya PKNU pada barisan HUDANOOR bakal menyolitkan warga Nahdliyin Tuban. “Lihat saja, setelah PPP bergabung, kesolidan kaum Nahdliyin begitu kuat. Apalagi, jika PKNU ikut bergabung, saya yakin akan sangat luar biasa,” terang sejumlah simpatisan HUDANOOR.

Sayangnya, PKNU sudah mencalokan pasangan SEHAT bersama PKS, Demokrat dan PAN sebelum Fatchul Huda mengambil keputusan bersedia dicalonkan sebagai cabup.

“Kalau PKNU belum memutuskan mencalonkan salah satu pasangan, saya yakin PKNU akan mendukung dan mencalonkan Fatkhul Huda sebagai cabup,” tandas M. Sholchan, warga Merakurak.

Bahkan, dirinya sebagai warga NU yang mendukung Partai Golkar setelah Fatkhul Huda mencalonkan bupati, dia dan sejumlah warga NU di Merakurak yang sebelumnya mendukung Golkar dipastikan akan mengalihkan dukungannya kepada Fatkhul Huda.

“Piye-rapiye (bagaimanapun-Red) Pak Huda itu Ketua NU, sebagai warga Nahdliyin, tentu mempunyai ikatan moral untuk mendukungnya. Soal jadi dan tidak itu urusan Tuhan. Yang penting warga Nahdliyin harus utuh bersatu mendukung HUDANOOR,” tandas Sholchan.

Sejumlah kiai yang hadir dalam deklarasi itu diantaranya, Rois Syuriah DPP PKB, KH Aziz Mashuri, Rois PW NU Jatim, KH Miftachul Ahyar, Majelis Pertimbangan Partai DPW PPP Jatim, KH Nasrudin.

Selain itu, deklarasi HUDANOOR juga dihadiri Menteri PDT Helmi Muhammad Zaini mewakili Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, Ketua umum DPP Gerindra Suhardi, Ketua DPW PBB Suparno Hadi dan sejumlah tokoh parpol serta organisasi kemasyarakatan lainnya. (Dikutip dari kotatuban.com, 11 Dec. 2010).

, ,

  1. #1 by danum1983 on Desember 12, 2010 - 10:23 am

    yang penting tidak sampai umat menjadi terpecah belah.Pendapat dan pilihan boleh beda tapi harus tetap bersaudara

  2. #2 by suhardiman widjaja on Desember 12, 2010 - 12:56 pm

    Kalau hanya didukung masyarakat NU aku gak yakin bisa menang, apalagi di kalangan bawah mayoritas warganya tingkat kesejahteraannya banyak dibawah garis kemiskinan mudah sangat terpengaruh kampanye bentuk lain ( termasuk money politic). Tarohlah kalau pasangan Hudanoor jadi Bupati. Tentunya tidak ada jaminan ekonominya terangkat maju atau siapapun yg jadi mereka tetap miskin, apalagi kalau Bupatinya nggak ngerti manajemen pembangunan masyarakat pedesaan, bisa-bisa birokrat desa, kecamatan sampai kabupaten yg kaya-kaya dg mengatasnamakan proyek rakyat ( kecil ). Wong bantuan untuk pesantren aja nggak ada wujudnya,yg ada hanya menjadikan rumah kyainya yg bagus-bagus /mewah.

  3. #3 by Basuki Sujatmiko on Desember 13, 2010 - 10:05 am

    Setuju dengan pernyataan Pak Suhardiman, pada pengalaman selama ini masyarakat kelas bawah yg mayoritas santri tradisional dan abangan dalam kondisi ‘tidak berdaya’ secara ekonomi. Akibat kebodohan dan kemiskinan tidak ‘berdaya ‘ atas penolakan kampanye bentuk lain berupa ‘bantuan yg mengikat’ karena ewuh-pakewuh dan takut apablia tidak nyoblos sesuai yg memberi. Incumbent sangat tahu peta kemiskinan yg rakyatnya dapat dipengaruhi hal itu, apalagi mampu mengatur tempat-tempat TPS yg memungkinkan konstituen lain ogah nyoblos karena jauh dari rumah, sehingga yg banyak datang hanya pendukung/konstituennya. Dan masih banyak cara-cara lagi untuk memenangkan incumbent….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: