HUDANOOR Rajin Turba Dekati Petani

Road Show yang dilakukan pasangan cabup-cawabup Fathul Huda-Noor Nahar Husain (HUDANOOR) tidak hanya ‘blusukan’ ke pasar tradisional ataupun bertemu dengan kader, namun, pasangan yang didukung NU Cabang Tuban ini juga mendatangi warga di sawah-sawah saat mereka tengah panen.

Bukan hanya itu, Fathul Huda yang digadang-gadang dapat memenangi pertarungan Pemilukada 2011 Tuban ini juga bercengkerama dengan warga yang tengah ‘ngangsak’ (mencari sisa panen-Red).

Rintihan, keluhan yang serba kekurangan dari sejumlah warga miskin di Kabupaten Tuban itu membuat calon bupati Fathul Huda prihatin melihat nasib sebagian warga Tuban yang kurang beruntung ini.


Penghasilan mereka hasil ‘ngangsak’ tak layak disebut penghasilan hidup, karena jauh dari standart penghasilan layak. Rata-rata setiap harinya hanya mendapatkan 10 kg gabah kering sawah atau setara Rp 20.000. “Namanya saja ngangsak ya sangat kecil pak, kalau lagi musim panen ya ada penghasilan. Tapi, kalau musim tanam kami kerja buruh tanam,” terang Patmi (47) dan sejumlah wanita pengangsak lainnya, saat ‘ngangsak’ di persawahan Desa Wanglu, Kecamatan Senori kepada cabup Fathul Huda.

Untuk mengangkat derajat ekonomi warga Tuban yang masih kekurangan, lanjut Huda (panggilan akrab Fathul Huda), seorang bupati harus benar-benar memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap nasib warganya. Sebab, keberhasilan seorang pemimpin daerah tidak hanya maraknya pembangunan fisik saja. “Tapi, pembangunan mental maupun ekonomi warga juga harus dilakukan,” tuturnya.

Menurutnya, jika nanti terpilih menjadi Bupati Tuban 2011-2016 pihaknya akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya, serta mengurangi beban biaya hidup warga, seperti biaya kesehatan maupun pendidikan. “Untuk membuka lapangan kerja harus menarik investor agar menanamkan modal di Tuban,” tambahnya.

Di bidang pertanian juga perlu mendapat penanganan. Wilayah Tuban selatan, seperti di Senori merupakan lumbung padi. Tapi, kenyataan di lapangan, padi dari Senori dan sekitarnya malah dijual ke wilayah Jawa Tengah. Padahal, wilayah Senori juga banyak selep padi. “Ini harus dikaji, mengapa gabah kita larinya justru ke daerah lain,” ungkap Huda.

Di persawahan itu, Fathul Huda yang merupakan keturunan pengusaha pertanian itu juga langsung mencoba ‘ngedos’ (merontokan butiran padi dengan mesin-Red) padi. Ia juga tidak mengumbar janji kepada konstituennya.

Cabup yang juga pengusaha ini hanya minta doa restu untuk mencalonkan diri sebagai bupati. “Kedatangan saya di antara bapak dan ibu hanya ingin minta doa restu dan mendengar harapan dan keinganan warga. Kalau nanti saya terpilih menjadi bupati, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat derajat perekonomian warga,” tutur Huda dengan bahasa jawa krama inggil yang fasih.

Selain mencoba ‘ngedos’, cabup Fathul Huda juga makan bersama dengan para buruh tani itu. Makan seadanya, nasi jagung dengan lauk sambal teri itu terasa nikmat. “Ternyata makan di sawah juga nikmat,” ungkapnya sambil menambah sayur lodeh. (dikutip dari laman kotatuban.com, 23 jan. 211)

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: