Jangan Terkecoh Nyanyian Gayus !!!

Oleh : Khozanah Hidayati (anggota FPKB DPRD Tuban)

Keputusan hakim dalam sidang tanggal 19 Januari 2011 lalu di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara kepada Gayus HP Tambunan, sungguh sangat jauh dari rasa keadilan di masyarakat. Vonis itu jauh di bawah tuntutan jaksa 20 tahun. Memang dalam setiap perkara, dakwaan jaksa adalah pintu masuk bagi hakim untuk menjatuhkan vonis. Jika dakwaan jaksa lemah, bisa diduga putusan hakim pun akan ringan. Itulah rupanya yang terjadi dalam perkara Gayus HP Tambunan kemarin itu.

Memang Gayus telah dijatuhi hukuman yang paling berat jika dibandingkan dari keenam orang dalam jaringan mafia pajak dan mafia hukumnya. Sebelumnya hakim telah menjatuhkan vonis enam tahun kepada Andi Kosasih, tiga tahun kepada Lambertus Palang Ama, dua tahun kepada Ajun Komisaris Polisi Sri Sumartini, lima tahun bagi Komisaris Polisi Arafat Enanie, dua tahun buat hakim Muhtadi Asnun, dan satu setengah tahun untuk Alif Kuncoro.

Walau demikian, masyarakat patut terkejut dan bertanya-tanya perihal vonis majelis hakim yang ringan ini sebab Gayus sepantasnya dihukum mati. Kita pantas terkejut karena Gayus telah menilep ratusan milyar yang semestinya masuk sebagai kas negara sebagai pemasukan pajak, dan juga karena selama persidangan juga terkuak bahwa Gayus dengan culasnya juga telah melakakan berbagai penyuapan kepada para aparat penegak hukum kita mulai dari polisi, jaksa, hakim, sipir penjara dan petugas imigrasi pembuat paspor serta petugas imigrasi di bandara Soekarno Hatta. Dan bahkan dalam persidangan, majelis hakim yang dipimpin Albertina Ho mengajukan pertanyaan tajam dan kritis kepada terdakwa, saksi, dan ahli sehingga kerap membuat saksi tidak berkutik untuk mengelak.

Dan bahkan selama masa persidangan juga terungkap bahwa Gayus juga telah mengoyak-koyak rasa keadilan di masyarakat dengan tindakan nekadnya keluar masuk rumah tahanan Brimob Depok sampai lebih dari 60 kali untuk melakukan plesiran ke Bali, Kuala Lumpur, Makao ataupun entah kemana lagi walaupun statusnya sendiri sebagai tahanan di Rutan tersebut.

Dalam persidanganpun, Gayus juga terus terang mengakui, bahkan memerinci uang yang diterimanya dari beberapa perusahaan besar. Dan bahkan jumlah perusahaan yang telah dibantu “mengurusi” pajaknya mencapai jumlah lebih dari 150 perusahaan.

Gayus sungguh memang sebuah “super fenomena” tentang betapa mafia hukum dan mafia pajak telah membelit negeri ini dan membuatnya bagaikan negeri para mafioso yang dicengkeram kuat oleh genggaman kekuasaan para mafioso. Bahkan setelah sidang pembacaan vonispun Gayus bernyanyi dengan merdunya bahwa Satgas Pemberantasan Mafia Hukum bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah merekayasa semua kasusnya ini. Antara lain, Satgaslah yang memintanya agar fokus kepada tiga perusahaan kelompok Bakrie yang telah menyuapnya dan Satgaslah yang menyuruhnya pergi ke Singapura saat awal dia mau ditangkap oleh Mabes Polri di awal-awal kasusnya menyeruak. Dan juga Satgaslah yang menjanjikan dia akan dihukum ringan dan bahkan dijadikan sebagai seorang whistle blower.

Bisa dipercayakah semua nyanyian merdu Gayus selepas sidang vonisnya tersebut? Tentu saja berdasarkan logika sehat keterangan Gayus di persidangan lebih bisa dipercaya dari pada seperti yang dilontarkan Gayus selepas sidang vonis kemarin.

Keterangan Gayus di luar sidang itu adalah bisa jadi merupakan kemufakaatan para pihak untuk mengecohkan agar mafia pajak tetap tak terjamah. Bahkan, dengan semua pernyataannya itu, bisa jadi diharapkan perhatian para penegak hukum dan masyarakat hanya tertuju kepada perseteruan antara Gayus vs Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Sementara kasus – kasus lain yang mengusik rasa keadilan masyarakat seperti kasus Centurygate, kasus rekening gendul polisi dan lain-lain tidak akan dikawal dan dikritisi lagi oleh masyaarakat.

Padahal dibalik kasus ini ada juga kasus yang “maha besar” yang mestinya ditangani dengan serius, yakni kasus mafia perpajakan di Direktorak Jenderal Pajak dan juga kasus-kasus mafia hukum yang terkuak akibat dari kasus Gayus ini.

Misalnya, siapa saja yang berada di belakang Gayus? Karena tidak mungkin seorang pegawai golongan IIIA di Direktorat Jeneral Pajak bisa mengeruk uang ratusan milyar dari para wajib pajak tanpa diketahui oleh para atasannya. Bagaimana kelanjutan nasib kasus hukum sepuluh orang atasan Gayus yang sudah dicopot dari jabatannya di Dirjen Pajak? Apakah mereka hanya “dihadiahi” mutasi jabatan tanpa tersentuh hukum? Bagaimana nasib “Gayus-gayus” lain di Dirjen Pajak? Dan bagaimana nasib kasus Jaksa Cirus Sinaga yang terlibat pemalsuan surat terkait rentut Gayus di Pengadilan Tinggi Negeri Tangerang tahun lalu?.

Dan bahkan yang lebih penting adalah menguak perusahaan-perusahaan yang telah melakukan “penggarongan” pajak dengan Gayus sebagai “konsultannya” dan tentunya juga mengungkapkan adanya “Gayus-Gayus” lain di Direktorat Jenderal Pajak. Sehingga dengan proses hukum yang benar terhadap para wajib pajak pasien Gayus dan pasien “Gayus-Gayus” lain, maka diharapkan akan didapatkan tambahan penghasilan pajak yang tentunya jumlahnya bisa mencapai puluhan trilyun rupiah atau bahkan ratusan trilyun rupiah. Suatu jumlah yang tidak sedikit bukan!

Untuk itu keseriusan para penegak hukum untuk terus menelusuri dan memproses kasus mafia perpajakan secara adil dan trasnparan harus terus dikawal dan dikritisi oleh semua pihak. Jangan sampai kita terkecoh oleh nyanyian merdu seorang Gayus Tambunan semata yang bisa-bisa hanya bertujuan mengecoh perhatian dan mata kita semua agar melupakan kasus yang lebih besar, yakni kasus mafia perpajakan yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar dan para pejabat perpajakan yang merangkap menjadi mafia perpajakan. Karena dengan terungkapnya kasus ini (mafia perpajakan) tentunya akan ada penambahan pemasukan pajak untuk negara yang jumlahnya bisa ratusan trilyun.

Dan juga kinerja Panja Mafia Pajak DPR RI harus juga dikawal dan dikritisi terus agar kinerja mereka benar-benar bisa menguak tabir yang selama ini menutupi para mafia perpajakan. Dan bisa memberikan jalan keluar untuk penuntasan tentang mafia perpajakan ini dan juga bisa memberikan jalan keluar akan keterbukaan Direktorat Jenderal Pajak yang selama ini tertutup. Sehingga nantinya diharapkan akan ada penambahan pemasukan negara dari sektor perpajakan yang sangat signifikan. ( 21 Januari 2011).

, , , , , , , , , , , , ,

  1. #1 by Luqman Ar-Raahman Al-Shaleh on Januari 21, 2011 - 4:24 pm

    Assalamu’alaikum…
    Alhamdulillah… Artikel ini sangat bermanfaat…
    http://abdurrahmanshaleh.wordpress.com/ kunjungi blog saya kasih komentar dan saran ya….
    Wassalamu’alaikum….

  2. #2 by zhanaz45 on Januari 21, 2011 - 4:24 pm

    Lagunya baguz koch..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: