Detik – detik Menegangkan Siapnya KH. Fathul Huda Jadi Cabup Tuban 2011

Dituturkan oleh : Ir.H.Noor Nahar Husin, M,Si (CAWABUP TUBAN)
 
Sejak lima tahun lalu, Pak Huda selalu menolak untuk dicalonkan menjadi bupati Tuban. Saya ditugasi PKB untuk mendesak agar Pak Huda mau dicalonkan, namun rayuan  saya selalu ditolaknya. Menjelang diadakannya Pemilukada Tuban tahun 2011, niat untuk mencalonkan Pak Huda timbul kembali. Karena waktu sudah mendesak, maka diadakan pertemuan seluruh kiai dari unsur PKB dan NU, di rumah saya. Kita harus punya calon dari unsur NU untuk maju dalam Pemilukada 2011, dan harapan para kiai untuk mencalonkan Pak Huda belum bisa terlaksana.

Karena Pak Huda belum bersedia, akhirnya saya diputuskan menjadi calon dari NU dan PKB untuk maju. Dengan sangat berat, saya menerima amanat itu. Tapi sebelum saya menerima, saya nyatakan kalau sewaktu-waktu Pak Huda mau, bahkan pada detik-detik terakhir nanti Pak Huda kerso maju atau bersedia dicalonkan, maka saya akan geser atau mundur menjadi calon.

Ketika semua orang sudah pesimis karena Pak Huda tidak mau dicalonkan, maka kita semua minta agar salah satu keluarga Pak Huda harus maju jadi Calon Wakil Bupati. Akhirnya disepakati Nasruddin Ali adik Pak Huda menjadi calon wakil saya. Bahkan duet saya dengan Pak Nasruddin sebagai Cabup dan Cawabup sudah disosialisasikan ke masyarakat Tuban hampir satu bulan, bahkan sosialisasi ini disaksikan Pak Huda sendiri, sebelum Pak Huda berangkat haji ke Tanah Suci. Rencana Pak Huda pulang ke Tanah Air setelah haji adalah tanggal 3 Desember 2010, sementara batas terakhir pendaftaran untuk mencalonkan Bupati Tuban tanggal 30 November 2010.

Pak Huda pernah bilang kepada saya, kalau ada perintah dari Rasulullah, saya mau maju. Maka pada tanggal 19 november 2010 malam saya telepon ke Makkah, bagaimana Pak Huda apakah haji sudah selesai? Waktu itu Pak Huda menjawab haji sudah selesai mengambil nafar awal, tapi pencalonan bupati tidak disinggung-singgung, berarti belum ada berita soal pencalonan. Pada tanggal 23 November saya berada di Jakarta, sore hari saya terus berkomunikasi dengan Pak Huda, tapi sinyal pemilukada belum muncul. Ternyata malam itu Pak Huda telepon ke Pak Nasruddin adiknya, bahwa Pak Huda siap maju.

Saya memang tidak tahu kalau Pak Huda sudah mau maju. Pagi pagi saya ditanya orang-orang partai, saya jawab tidak tahu. Meski belum tahu secara langsung, saya sudah sangat bahagia dan gembira, wah itu sangat bagus kalau Pak Huda mau maju. Saya kemudian klarifikasi ke Pak Nasruddin, memang Pak Huda menghubungi dia. Sehari kemudian, Pak Huda sms saya, katanya tidak jadi maju, kan saya jadi bingung. Saya tidak putus asa, saya tunggu terus sampai hari terakhir saya telepon, Pak Huda bilang, pokoknya pak noor daftar tanggal 30, saya sudah ada di Tuban.

Saya kemudian minta Pak Huda datang pada tanggal 28 November malam, itupun Pak Huda belum bisa datang dan mengatakan saya akan datang langsung ke Pak Noor untuk menjelaskan sikap saya. Karena malam itu belum bisa datang, tanggal 29 November pagi Pak Huda telepon saya. Saya kemudian Tanya ke Pak Huda, bagaimana ini jadi maju atau tidak? Jawabannya masih belum jelas. Kemudian Pak Huda mengatakan, saya harus tabayyun dulu ke Gus Salahuddin. Karena ini urusan besar, saya minta didampingi untuk sowan ke Kiai Salahuddin di Tulungagung. Posisi saya waktu itu di hotel Tanjung Kodok, sedangkan Pak Huda di Surabaya sepulang haji. Ya Pak Huda, apakah saya langsung ke Surabaya atau bagaimana? Pak Huda bilang, Pak Noor langsung saja ke rumah Kiai Jamaluddin di Jombang. Pukul 08.30 dari Tanjung Kodok saya langsung ke Jombang, sampai di rumah Kiai Jamaluddin pukul 10.30. ternyata Pak Huda belum datang, pada pukul 13.00 Pak Huda baru datang.

Ketika berada di rumah Kiai Jamaluddin, Pak Huda sudah diberi pengarahan oleh kiai, tapi masih belum bisa menerima pencalonan. Bahkan saya ditelepon Imam Nachrowi, bagaimana pencalonan Pak Huda sudah apa belum. Saya kemudian mendesak Pak Huda, tapi Pak Huda belum menjawab, harus sampai di Tulungagung dulu. Ketika sudah sampai di Tulungagung pukul 16.00. Pak Huda bertemu dengan Kiai Salahuddin, dan disinilah beberapa pengarahan kiai disampaikan, itupun Pak Huda masih terus minta penjelasan. Waktu itu saya menjadi saksi yang pertama, akhirnya Pak Huda mau dicalonkan karena perintah guru mursyidnya itu, tepat pukul 17.00 hari Senin tanggal 29 November 2010, 100 persen Pak Huda siap dicalonkan. Saat saat bahagia itu, saya langsung menghubungi DPP PKB untuk mengubah rekomendasi, begitu juga dari partai PBB, proses begitu cepat dan luar bisaa. Pak Huda kemudian ke Surabaya dulu menjemput istri, saya langsung ke Tuban mengabarkan semua proses itu ke teman-teman sampai Pak Huda siap dicalonkan. (*)

Iklan

, , , , , , ,

  1. #1 by muthoharoh on Maret 2, 2011 - 1:32 am

    JANGAN LUPA KESEJAHTERAAN GURU GURU Raudhatul Athfal YA PAK

  2. #2 by broto on Maret 19, 2011 - 5:28 pm

    Terima kasih, bapak-bapak telah sudi menjadi pemimpin rakyat Tuban . . . saya gembira sekali mendengarnya, semoga Alaah membalas jerih payah, tenaga dan pikiran Anda
    Poso, 19 M2et 2011
    broto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: