Inilah Tiga Kunci Kemenangan HUDANOOR

Tuban – Hasil Pemilukada Tuban sudah diumumkan KPUK Tuban 7 Maret lalu dan hasilnya cukup mengejutkan karena kemenangan telak pasangan calon HUDANOOR membuyarkan perhitungan pasangan calon lainnya maupun para lembaga survai dan konsultan komunikasi.

“Kondisi di Tuban ini menarik untuk studi ilmiah maupun studi partai karena membuat perencanaan lima pasangan calon lainnya jadi berantakan,” kata Tjuk Suwarsono, direktur Media Promotion & Communication Consultant (MEdPro) Surabaya yang mengamati Pemilukada Tuban.

Kemenangan telak sampai 55% lebih dari kubu HUDANOOR memang di luar dugaan semua pihak bahkan beberapa lembaga survai maupun konsultan komunikasi seperti terpana dengan hasil tadi. “Kami sendiri sejak awal memang memprediksi HUDANOOR menang tetapi tidak setelak ini,” lanjut Tjuk yang menjadi konsultan komunikasi dalam Pilgub Pakde Karwo setahun yang lalu.

Antara HUDANOOR dan TANI (Kristiawan – Haeny Relawati) angka surveynya tidak terlalu signifikan, sedang calon yang lainnya seperti Setiadjit maupun Anwar angkanya di atas 10 % bahkan pernah 20% ke atas. Sehingga banyak yang memprediksikan akan ada dua putaran Pemilukada Tuban ini.

“Tetapi dalam pencoblosan 1 Maret lalu, incumbent kalah jauh. Apalagi calon dari partai lainnya hanya 6 %, bahkan independen hanya 1%. Ini rasanya tidak pernah terjadi dalam Pemilukada di daerah lainnya,” ujarnya.

Ditanya apa analisa MedPro dalam kondisi seperti ini, Tjuk menunjuk 3 parameter yang harus diperhitungkan. Pertama, calonnya cukup populer, kedua humanis dan ketiga merakyat.

Ternyata pasangan Huda, Noor Nahar adalah kandidat yang sudah pernah ikut Pilkada tiga kali sehingga tokoh ini cukup populer. Sementara Huda jadi melonjak namanya karena humanis, amalnya luas (banyak memberikan bantuan kepada rakyat), dan ketiga HUDANOOR ini punya program yang sungguh merakyat. Ekonomi kerakyatannya menyentuh masyarakat luas dan logis, bukan sekedar gimmick-gimmick (lips service).

“Dan saya melihat kampanye HUDANOOR cukup efektif dengan pertemuan-pertemuan massal yang dilakukan seperti jalan bareng, acara-acara pengajian dan rapat-rapat umum, di seluruh Tuban,” katanya sambil menyebut dari data statistik penduduk Tuban 67,9 % lulusan SD, tidak lulus SD dan tidak sekolah sama sekali sehingga bentuk kampanye tadi sangat cocok.

Ini artinya kampanye yang sifatnya massal dan populis ternyata lebih efektif dan calon lain tidak melakukannya termasuk incumbent. Dan ternyata dalam waktu efektif 3 bulan HUDANOOR mampu meningkatkan popularitasnya sekaligus elektabiltasnya.

Pasangan TANI lebih memilih pertemuan-pertemuan resmi yang sifatnya satu arah, kendati Bupati Tuban sempat mendekat ke masyarakat namun sebagian besar formal sebagai bupati. Sedang Setiadjit dan Anwar kendati rajin merapat langsung ke masyarakat, namun tidak bersifat massal dan meluas.

“Sebagai konsultan yang pernah menangani pemenangan Pilkada saya merasakan Tim Sukses HUDANOOR cukup jeli dan ini pasti dilakukan oleh orang yang berpengalaman,” ujar Tjuk sambil menyebut dari pengalamannya, sebaiknya konsultan komunikasi dipegang sendiri oleh tim yang tahu peta wilayah maupun budaya masyarakatnya.(Dikutip dari laman kotatuban.com, 8 Maret 2011)

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: