PKB Targetkan 100 Kursi di DPR Pada Pemilu 2014

Jelang Mukernas PKB
Jakarta – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menargetkan perolehan 100 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pusat pada pemilihan legislatif 2014 mendatang. Untuk mencapai target itu, menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat PKB, Hilmi Faisal, partainya butuh dukungan dari para kiai. Sebab itu, penggerak partai ini sekarang gencar melakukan rekruitmen kiai di kampung-kampung.

“Kami akan membentuk majelis kiai kampung untuk memperluas jaringan partai,” kata dia dalam jumpa pers persiapan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dan Forum Kerjasama Program (Foksam), di Jakarta, Ahad (13/3).

Mukernas akan digelar pada 15 hingga 16 Maret 2011 nanti. Target perolehan kursi di parlemen merupakan salah satu topik yang akan dibahas. Dalam musyawarah, sebanyak 1.202 peserta diperkirakan hadir, terdiri dari seluruh pengurus, anggota dewan, dan para kepala daerah dari PKB, mulai tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga pengurus pusat. Selain itu, sejumlah kiai pendukung akan hadir. Dijadwalkan, Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang akan membuka mukernas.

“Mukernas dan Fokmas ini sekaligus rapat konsolidasi persiapan partai menyongsong pemilihan umum 2014,” kata politisi PKB, yang kini menjabat sebagai Menteri Perumahan dan Daerah Tertinggal itu.

Ketua Organizing Comite Mukernas, Hanif Dakhiri, membenarkan target yang dipatok partainya. Dia mengakui bahwa target perolehan 100 kursi DPR pusat itu berat. Namun, sesuai hitung-hitungan politik, target itu bisa tercapai jika semua mesin partai berjalan maksimal. Sebagai pembanding, pada pemilihan legislatif 2009 lalu, PKB hanya mendapat 28 kursi.

Menurut Hanif, tak gampang meningkatkan perolehan 28 kursi menjadi 100 kursi.”Sulit memang. Tapi, target kan boleh-boleh saja,” ujar dia. (Dikutip dari laman tempointeraktif.com, 13 Maret 2011)

, ,

  1. #1 by Ibu Saifuddin on April 2, 2011 - 10:56 pm

    PKB bagus. Gerindra boleh juga. Hanura bagus juga. PKS bagus pula. PD buruk karena kepemimpinannya tidak jelas, rakyat semakin sengsara. TV-TV berita yang ada oportunis. Tak sepenuhnya perang juga, anda bolehs etuju dan boleh tidak, tapi hanya untuk bersaing memenangkan lebih banyak iklan mengeruk untung sebsar-besarnya, melalui permainan perasaan rakyat, agar kupa lapar, serta semakin bodoh dan tolol. Pemanang itu adalah bangsa “kulit putih”. Semua telah dikuasasi mereka sejak lama. Maka pejabat-pejabat hanya mainan mereka, KKN mereka, inilah yang berujung pada mafia kekuasaan. Belanda dulu pun memanfaatkan “kulit putih” negeri ini. Tapi di zaman Wiranto dan Prabowo masih aktif, “etnis putih” dijarah dan dibakar dimana-maa, dan di bawah SBY etnis ulet tapi mayoritas mereka curang dan licik dalam permainan hidup ini, kini aman karena SBY. TV-TV itu pun milik mereka. TV-TV itu seolah-olah membela rakyat dan hendak mengajak menjatuhkan rezim saat ini, pemerintah SBY, tapi ternyata tidak juga. Jadi tv-tv itu tidak jelas membela kejuangan rakyat tetapi cari untung belaka. Maklum di balik itu adalah orang “kulit putih”, dengan kuli-kuli kaum intelektual kita yang susah hidup dan akhirnya terbeli dengan beberapa juta rupiah, dan tidak punya nyali dalam mengungkap kebenaran, malas, dan tidak jelas. Kalau kebakaran tangki Pertamina Cilacap jelas bukan pengalihan isu, tapi kecerobohan. Tapi kalau berbagai berita mulai sidang pengadilan fitnah teroris terhadap tersangka teroris ustaz Abu Bakar Ba’asyir, bom-bom buku, perebutan ketua PSSI yang dibesar-besarkan, hingga tersangka penipu Selli dan tersangka karyawati korup Citibank, Melinda, juga bukan hanya pengalihan isu, tetapi dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya mengalihkan banyak isu. Utamanya soal skandal bank century, yang sebagian uangnya digunakan jelas untuk pemenangan SBY pada pemilu 2009. Tujuannya agar perhatian masyarakat tidak terpaku pada masalah-masalah yang tidak dilaksanakan pemerintah dalam membangun bangsa, dan agar dua media besar negeri ini, MetroTv adn TVOne, utamanya, sibuk memberitakan tetek-bengek itu. Sebab Indonesia diperkirakan akan mengalami seperti Tunisia, Mesir dan Libia, karena tidak mampu menciptakan harga-harga murah dan lapangan kerja buat rakyat. Juga isu santer bahwa SBY mungkin tidak bisa bertahan hingga 2014. Pola-pola seperti ini biasa dilakukan di masa lalu. Satu contoh bahkan di masa Sukarno saja, kelompok musik mengklaim dibayar Sukarno agar mau masuk penjara dengan isu musik ngak-ngik-ngoknya, akibat tekanan publik. Di masa Pak Harto lebih banyak dan lagi kejam. Tak perlu dirinci di sini. SBY juga melakukan hal sama meskipun terlihat seolah-olah tidak kejam terhadap rakyat. Tapi menyengsarakan rakyat banyak apa tidak kejam? Tapi pesaing-pesaing atau komponen-komponen SBY yang kini di luar kekuasaan juga sepertinya pengecut, dan beraninya hanya bicara atau sedikit memprovokasi dan tidak berani bertindak terang dan sistematis melengserkan SBY, meski situasi negeri ini sudah parah begini. Padahal oposisi-oposisi di Tunisia, Mesir dan Libia sangat canggih dalam menggerakkan dan memicu unjuk rasa besar efektif melengserkan. Ini bukan soal 2 tahun, 30 tahun, 40 tahun orang berkuasa, tetapi soal rakyat yang semakin dibuat lapar dan ketidak adilan serta korupsi semakin bebas lepas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: