Quo VAdis PKL Tuban?

Oleh : Khozanah Hidayati

Maraknya PKL yang menggelar dagangannya di alon-alon kota Tuban belakangan ini banyak menuai kontroversi di tengah masyarakat Tuban. Di satu sisi para PKL melakukan itu semua demi mendapatkan dagangannya laku, karena lokasi alon-alon merupakan tempat yang sangat strategis dan tempat pusat keramaian kota Tuban utamanya Malam Minggu. Namun di sisi lain (menurut sebagian masyarakat juga sebagian fraksi-fraksi di DPRD Tuban) hal ini akan mengganggu ketertiban dan kebersihan kota tercinta, serta tidak mengindahkan adanya Peraturan Daerah No. 14 tahun 2002.

Keberanian PKL sendiri menggelar dagangannya di alon-alon didasaran pada kontrak politik mereka dengan pasangan HUDANOOR yang memenangkan pemilukada 2011 lalu. Pada kontrak politik tersebut  para PKL akan diberikan ijin untuk berdagang di seputaran alon-alon. Sehingga semenjak pasangan HUDANOOR memenangkan pemilukada Maret 2011 lalu hingga hari ini  para PKL selalu memadati alon-alon utamanya saat malam Minggu. Dan rupanya alon-alon Tuban selalu membawa keberkahan tersendiri dengan laris manisnya dagangan mereka.

Keadaan tersebut tentunya akan menguntungkan bagi para PKL namun tentunya kebersihan dan ketertiban kota akan terganggu jika sekiranya keberadaan PKL di tengah alon-alon tersebut tidak terkontrol dengan bijaksana. Untuk itu agar semua pihak tidak merasa dirugikan dan para PKL tetap dapat berdagang di tengah-tengah keramaian dan mendapatkan pembeli yang maksimal maka perlu dilakukan pembenahan dan pemberdayaan PKL.

Definisi Pedagang Kaki Lima (PKL) sendiri secara umum adalah masyarakat kecil yang dengan modal relatif sedikit mencoba mengadu keberuntungannya di dunia perdagangan. Namun tragisnya para PKL ini keberadaannya di hampir seluruh kota selalu diberantas seperti mengusir pengganggu yang tidak bermartabat dan itu terjadi disaat pemerintah mencoba menurunkan angka kemiskinan dan banyaknya pengangguran di tanah air.

Hampir semua daerah di Indonesia sudah memiliki peraturan-peraturan khusus untuk mengelola PKL baik dalam bentuk Perda maupun Peraturan Bupati / Walikota, dan untuk Kabupaten Tuban sendiri tertuang dalam Perda nomor 14 tahun 2002 tentang Pengaturan Pedagang Kaki Lima. Namun kata-kata ‘mengatur’ dalam produk hukum tersebut sering diterjemahkan aparat pemerintah sebagai upaya ‘pemberantasan’ para PKL yang dianggap liar dan mengganggu, bukannya pembinaan atau pemberdayaan para PKL. Perda dan rangkaian peraturan tersebut kurang efektif karena pendekatannya yang belum pas dengan kondisi di lapangan.

Diakui keberadaan PKL menjadi masalah yang sangat membingungkan pemerintah. Di satu sisi pemerintah ingin mereka tertib, namun di sisi lain penertiban tersebut akan mengganggu mata pencaharian mereka. Selain menyangkut masalah ekonomi, kehadiran PKL yang tidak tertib juga merusak pemandangan kota.

Menurut hemat penulis, PKL seharusnya diberdayakan dan dikelola dengan baik, karena berdasarkan pengalaman dan fakta selama berlangsungnya krisis ekonomi tahun 1998 lalu, bahwa usaha yang tidak tersentuh imbas krisis adalah usaha mikro dan kecil, seperti PKL ini. Dan bahkan jumlah PKL semakin menjamur. Modal yang sedikit, pengeluaran yang sedikit dan untung yang tidak begitu besar serta pangsa pasar yang sangat besar itulah yang menyebabkan PKL bertahan dari terpaan krisis ekonomi.

Namun pengelolaan PKL selalu terlihat asal-asalan dan tidak memiliki metode pendekatan yang benar. Wajar bila hari ini PKL digusur, tidak begitu lama kemudian hadir lagi. Makanya timbul pertanyaan qua vadis PKL Tuban?

Menurut hemat penulis sudah waktunya Pemkab Tuban memberikan jalan keluar yang bagus bagi semua pihak. Bukan hanya menetapkan tempat/lokasi bagi para PKL menggelar dagangannya yang strategis dan mudah dikunjungi oleh para pembeli, namun sekaligus juga memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan transaksi jual beli dengan para PKL. Karena perlu juga ditekankan bahwa keberadaan PKL itu sendiri juga sangat dibutuhkan oleh sebagian masyarakat umumnya masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Karena selama ini lokasi penampungan PKL yang telah ditentukan oleh Pemkab Tuban yakni di Taman Kota Jalan Pahlawan dan di Kawasan Boom Tuban sangatlah tidak strategis dan kalau para PKL menggelar dagangannya di dua kawasan tersebut niscaya mereka akan gulung tikar karena dagangan mereka tidak laku.

Pengelolaan PKL pun seharusnya lebih diarahkan pada upaya pemberdayaan atau pembinaan bukan pada pola pembongkaran atau pola penggusuran. Solusi yang diberikan harus bisa memperdayakan para PKL, menunjang ketertiban dan kebersihan serta keindahan kota, memberikan sumbangsih yang positif bagi perkembangan dunia perdagangan dan pariwisata.

Agar upaya pemberdayaan PKL di Bumi Ronggolawe ini bisa dilakukan dengan hasil optimal kiranya perlunya dilakukan langkah-langkah sebagai berikut. Kesatu, memberikan tempat – tempat yang strategis bagi tempat mangkal dan berdagangannya para PKL. Misalnya di daerah seputar alon-alon, di seputar Jl. RE Martadinata (dekat Klenteng Kwan Sing Bio), dan di seputar Gedung Olah Raga Ranggajaya Anoraga Jl. Sunan Kalijogo. Penentuan tempat yang dianggap strategis harus dikomunikasikan lebih dahulu dengan para PKL agar tidak ada nuansa pemaksaan terhadap PKL untuk direlokasi ketempat strategis baru.

Namun jumlah PKL yang bisa ditampung di tempat-tempat strategis tersebut harus tetap dibatasi. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi over load terhadap lokasi yang diperuntukkan bagi PKL. Juga yang perlu digaris bawahi bahwa tempat-tempat strategis untuk para PKL tersebut hanya dipergunakan untuk masyarakat Tuban (penduduk Kabupaten Tuban).

Kedua, para PKL harus mampu melengkapi sarana berdagangnya dengan “rombong-rombong” yang cukup cantik dan mudah dibongkar pasang. Sehingga diharapkan dengan adanya “rombong-rombong” yang cantik tersebut akan menambah semaraknya pusat Kota Tuban. Dan hal ini akan menarik lebih banyak lagi masyarakat untuk berbelanjan sambil “berekreasi”.

Ketiga, para PKL diwajibkan untuk menjaga kebersihan dan ketertiban tempat mangkalnya. Hal ini disamping untuk menjaga kebersihan dan ketertiban kota juga untuk mendidik masyarakat agar bisa hidup bersih dan sehat.

Keempat, memberikan akses terhadap sarana permodalan kepada para PKL dengan jalan Pemkab Tuban membuat Program Kredit Mikro dengan bunga yang sangat rendah. Diharapkan dengan demikian para PKL nantinya akan tambah berdaya dan mereka nantinya bisa menjelma menjadi pedagang-pedagang tangguh yang akan mewarnai perekonomian Tuban ke depannya.

Kelima, pihak eksekutif dan legislatif (DPRD) harus segera merevisi Perda No. 14 Tahun 2002 untuk disesuaikan dengan rencana yang akan diputuskan untuk pemberdayaan PKL ini.

Di samping usulan-usulan tersebut di atas, tentunya perlu juga dipikirkan solusi untuk jangka menengah dan panjang perihal pembinaan dan pemberdayaan PKL di Bumi para Wali ini. Perencanaan secara terintegrasi antara dunia parawisata (yang meliputi pengelolaan wisata-wisata alam dan religi di kota Tuban) dan tata kota Tuban hendaklah memasukkan pemberdayaan dan pembinaan PKL di dalamnya.

Misalnya perlu dipikirkan perihal pemberdayaan yang terintegrasi antara Pasar Sore, Pasar Atom, wisata pantai Boom dan wisata religi Sunan Bonang dengan aspek-aspek parkir kendaraan peziarah / wisatawan, keberadaan becak, keberadaan PKL dan eksistensi para pedagang di Pasar Sore dan Pasar Atom. Dan hal tersebut juga harus dimasukkan dalam penyusunan Tatakota Tuban setelah adanya Jalan lingkar Luar nantinya. Sehingga keberadaan tempat-tempat strategis tersebut bisa berumur panjang.

Dengan langkah-langkah seperti yang dipaparkan di atas kemudian disambung dengan perencanaan yang terintegrasi tentang pemberdayaan PKL maka diharapkan keberadaan PKL di Bumi Ronggolawe ini akan menambah pemercepat pemerataan penghasilan kepada warga dan tentunya menambah nilai pertumbuhan ekonomi Tuban secara keseluruhan. Bukan malah sebaliknya, yakni keberadaan PKL memberatkan Pemkab Tuban untuk mengelola dan memperdayakannya (July 2011).

Note: Opini ini juga diterbitkan di Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group) pada tanggal 10 Juli 2011

Iklan

, , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: