Belajarlah dari Jokowi

Oleh : Khozanah Hidayati

Jokowi adalah nama panggilan untuk Joko Widodo, Wali Kota Surakarta yang saat ini menjabat untuk periode kedua. Namanya mendunia, diperbincangkan dan menginspirasi banyak orang karena prestasi-prestasi yang diraih Kota Surakarta semenjak kepemimpinanya.

 Beliau berhasil membina pedagang kaki lima (PKL) dan pedagang pasar tradisional. Dan juga berhasil menjadikan kota Solo sebagai anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia atau World Heritage Cities Conference (WHCC). Serta mampu menjadikan Kota Solo sebagai kota paling bersih dari korupsi nomor 3 di Indonesia, dibawah Kota Denpasar dan Tegal versi Transparency International Indonesia.

Disamping itu, sistem pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan publik lainnya mampu diperbaikinya sehingga Kota Surakarta mampu melayani warganya dengan tingkat kepuasaan yang patut diacungi jempol.

Sederet prestasi tersebut tentunya patut dijadikan referensi dan pembanding untuk perbaikan dalam membangun Kabupaten Tuban ke depan. Mengingat kondisi Kabupaten Tuban sekarang ini dari hampir semua aspek masih jauh dari memuaskan dan bahkan beberapa item masih di bawah rerata Jawa Timur maupun nasional.

Misalnya dari pembinaan PKL dan pedagang pasar tradisonal masih jauh dari harapan. Pedagang PKL masih menjadi “dianggap” ancaman akan kebersihan dan ketertiban kota. Sedangkan pedagang pasar tradisional semakin termarginalkan karena terus tergerus oleh kehadiran minimarket maupun pasar swalayan modern.

Di bidang pelayanan kesehatan, masih jauh dari harapan memuaskan baik dari sisi pelayanan maupun sisi biaya. Demikian juga di bidang pelayanan publik lainya juga setali tiga uang. Misalnya pelayanan pengurusan surat ijin usaha, masih belum adanya transaparansi perihal biaya dan kepastian maupun ketepatan waktu.

Untuk membenahi itu semua, maka diperlukan kerja keras semua pihak, dan dengan momentum bupati dan wakil bupati baru, sekarang ini saatnya untuk melakukan perubahan menuju yang lebih baik. Dan langkah-langkah Jokowi sebagai Wali Kota Surakarta dengan segudang prestasi tersebut kiranya harus dijadikan referensi, pembanding maupun benchmarking untuk perbaikan Kabupaten Tuban kedepannya.

Keberhasilan Jarkowi yang paling fenomenal dan menarik untuk dilihat dan dijadikan referensi adalah keberhasilanya memindahkan 1000 lebih pedagang kaki lima (PKL) di beberapa lokasi dan membina beberapa lokasi PKL lainnya di Kota Solo.

Keberhasilan Jokowi memberdayakan PKL ini bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Namun penuh perjuangan dan liku-liku serta menggunaan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan daerah lain di Indonesia.

 Pertama-tama Jokowi merubah paradigma Satpol PP (barangkali karena Satpol PP merupakan musuh nomor satu PKL). Jokowi memerintahkan agar semua pentungan Satpol PP disimpan ke gudang dan beliau mengganti Kasatpol PP untuk dijabat oleh seorang  wanita.

Jokowi melakukan pendekatan dengan mengundang para PKL makan gartis ke pendopo atau rumah dinasnya hingga 54 kali pertemuan. Dimulai dengan hanya makan bersama, tanpa menyampaikan sedikitpun maksud pertemuan. Hanya berbincang-bincang, hingga setelah berpuluh-pupuh kali pertemuan barulah dilakukan “diskusi serius”. Bisa dibayangkan berapa besar kesabaran dan waktu serta biaya yang diperlukan.

Kunci keberhasilan Jokowi sebenarnya adalah hanya dua hal. Yakni, keberpihakkan dan dialog. Keberpihakkan yang diterapkan adalah bahwa para PKL adalah “investor”, pelaku ekonomi penting, dan sumber mata pencaharian masyarakat.

Kunci keberhasilan kedua adalah dialog. Dialog yang dilandasi keberpihakkan dan ketulusan. Jokowi tidak memiliki beban apapun saat berdialog dengan para PKL,  karena beliau sudah tahu bagaimana perasaan dan harapan para PKL tersebut.

Disamping keberhasilan memberdayakan para PKL, Jokowi juga berprestasi gemilang dalam pemberdayaan pedagang pasar tradicional. Dalam tiga tahun awal kepemimpinan Jokowi, 15 pasar tradisonal berhasil dibangun, setetelah sekitar 40 tahun tidak ada pembangunan pasar di Solo sama sekali.

Tentunya Jokowi tidak asal membangun, tapi juga menyiapkan strategi agar pasar tradisional mampu bersaing dengan minimarket-minimarket dan pasar modern. Bahkan dia pun berguru ke luar negeri. Dan hasilnya diterapkan dalam penataan pasar tradisional  di Solo.

Perhatian yang besar terhadap PKL dan pedagang pasar tradisional ini tidak lepas dari prinsipnya yang menganggap mereka sebagai “investor“. Kalau kepala daerah lain bangga setengah mati bisa mendatangkan investor triliunan rupiah. Namun baginya,  PKL, industri rumah tangga, UKM dan pedagang pasar tradisional, mereka semua itu beliau anggap sebagi investor. Kalau mereka tidak mampu membeli kios baru, maka Jokowi memberikan keleluasaan mereka untuk mencicil modal tersebut dengan jalan membayar retribusi secara tertib dan tepat waktu.

Beberapa tahun setelah mengurus PKL dan pasar tradisional, giliran masalah kesehatan masyarakat dan pendidikan anak yang dibidik oleh Jokowi. Maka lahirlah program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS) dan Bantuan Pendidikan Masyarakat Surakarta (BPMKS). Dari program ini Jokowi bisa membantu hampir 40% penduduk kota Solo untuk bisa menikmati pelayanan kesehatan gratis di puskesmas-puskesmas dan juga menikmati pelayanan pendidikan dasar gratis.

Keberhasilan Jokowi dibidang pelayanan kesehatan dan pendidikan ini diakui sejumlah pihak sebagai contoh keberhasilan dari otonomi daerah yang pantas untuk ditiru daerah lain. Bahkan Wakil Ketua DPD Laode Ida menganjurkan kepada pemerintah pusat untuk menjadikan sistem pelayanan kesehatan dan pendidikan di Kota Surakarta ini sebagai percontohan nasional.

Sejak awal Jokowi secara konsiten mempunyai tekad untuk melakukan perbaikan dalam bidang pelayanan publik. Sehingga sejak pemerintahanya periode pertama dimulai beliau sudah mulai memperbaiki, mengubah, dan membenahi sistim pelayanan publik  seperti pengurusan kartu tanda penduduk (KTP) dan perizinan lainnya.

Berkat kegigihannya ini, pengurusan KTP yang dulunya selesai berminggu-minggu, kini hanya satu jam sudah siap. Bahkan tahun depan, ditargetkan hanya butuh waktu tiga menit untuk mengurus KTP.

Demikian pula dengan proses perizinan usaha yang sebelumnya selesai dalam delapan bulan hingga satu tahun, kini selesai dalam 3-6 hari. Semua kebijakan pelayanan tersebut yang sering disebut  “One Stop Service”,  sukses dan mampu memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

Di bidang pemberantasan dan pencegahan korupsi, keberhasilan Jokowi juga ditandai  dengan diraihnya penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award (BHAA) 2010. Keberhasilan beliau menerima pengharaan BHAA karena dianggap memiliki prestasi yang sangat baik dalam pelaksanaan reformasi birokrasi disamping karena faktor integritas dan tindakan nyata dalam membangun sistim layanan publik yang terbuka.

Yang luar biasa dalam bidang reformasi birokrasi ini adalah adanya transparansi anggaran yang diterapkan oleh Jokowi. Seluruh proyek-proyek pemerintah di Kota Solo juga diumumkan secara terbuka sehingga masyarakat dapat berpartisipasi penuh untuk mengawasi hingga di tingkat kelurahan.

Di tataran partisipasi publik ini, juga tidak dikenal lagi istilah sistim copy-paste dari anggaran sebelumnya. Semua penyusunan RAPBD harus sepenuhnya berbasis kepada kepentingan rakyat. Artinya saat SKPD – SKPD membuat Daftar Usulan Proyek harus  selalu diselaraskan dengan kepentingan dan  kemauan masyarakat.

Komitmen Jokowi dalam aspek transparansi anggaran dan partisipasi masyarakat dinilai cukup menyakinkan. Selama menjabat sebagai Walikota ia membuka seluas-luasnya akses bagi masyarakat untuk mengetahui dokumen APBD dengan cara menyebarkan poster-poster berisi perincian APBD. Bahkan buku berisi APBD juga terdapat sampai di tingkat kelurahan.

Yang cukup menarik, menurut Jokowi adalah bahwa  kemudahan dan keterbukaan yang diciptakannya ini, lama-lama akan membudaya yang dengan sendirinya korupsi akan hilang di tengah masyarakat.

Selain keberhasilan – keberhasilan Jokowi yang sudah dikupas di atas. Yang tidak kalah pentingnya untuk disimak dan dijadikan refensi adalah kepribadian diri Jokowi sendiri. Sebagai Kepala Daerah, Jokowi telah memperlihatkan diri sebagai pribadi yang bersih, bekerja sepenuh hati dan memiliki kemampuan manajerial, visioner dan  pro-kepentingan rakyat. Baginya  konsep seorang pemimpin yang baik, adalah pemimpin yang bisa dan mau mengikuti keinginan orang banyak bukan keinginan pribadinya atau kelompoknya atau kepentingan partai yang mengusungnya dalam Pilkada.

Untuk mewujudkan semua keinginannya dan keinginan masyarakat ia selalu mengedepankan dialog dan keterbukaan. Sementara banyak Kepala Daerah yang lebih mementingkan kepentingan dirinya dan kelompoknya yang ujung-ujungnya masuk penjara karena melakukan korupsi berjamaah menjarah APBD secara bersama-sama

Bahkan untuk memberikan contoh yang baik dan menunjukan keseriusannya dalam pengabidannya kepada masyarakat, Jokowi rela tidak mau menerima gajinya sebagai Walikota selama dia menjabat. Dan bahkan mobil dinas yang digunakannya adalah mobil bekas yang digunakan Walikota sebelumnya.

Sehingga tidak mengherankan, saat pemilukada dalam kepemimpinanya yang kedua ini Jokowi mendapat dukungan suara mutak dari rakyat Solo, yakni 90%. Sangat luar biasa bukan?

Perihal contoh yang diberikan oleh Jokowi tersebut rupanya secara kebetulan juga diterapkan oleh Bupati Tuban H. Fathul Huda. Beliau menyatakan tidak akan menerima gaji dan penghasilan yang sebenarnya secara syah adalah hak seorang bupati. Beliau juga tidak risih menggunakan mobil dinas bekas yang disediakan Pemkab Tuban untuk dirinya.

Semoga dengan konsep kepemimpinan yang dijalankan oleh H. Fathul Huda yakni, tasamukh (toleransi), tawassuth (moderat), tawazun (koordinatif) dan i’tidal (adil) bisa membawa rasa kebersamaan di masyarakat yang majemuk ini. Juga setiap keputusan yang diambil selalu menimbang dan mendengar suara-suara stake holder Kabupaten Tuban. Dan tentunya cara-cara komunikasi dialogis seperti dicontohkan oleh Jokowi selalu dijalankan dan akhirnya akan membawa selalu keadilan.

Kalau modal konsep kepemimpinan yang dijalankan oleh Bupati baru ini dan ditambah pelajaran yang sangat berharga dari Kota Bengawan tersebut bisa dijadikan referensi, pembanding ataupun benchmark untuk membangun Kabupaten Tuban. Insyaallah sebentar lagi Kabupaten Tuban akan menuai prestasi demi prestasi dan kesejahteraan masyarakat bisa segera digapai pula.

Akhirnya, walau pelajaran-pelajaran yang dipaparkan di atas tidak bisa menggambarkan keberhasilan Jokowi secara utuh dan keseluruhan, namun semoga bisa dijadikan inspirasi untuk melakukan studi banding lebih dalam ke Kota Surakarta dan nantinya bisa memberikan referensi, pembanding dan benchmark dalam membangun Kabupaten Tuban ke depannya. Walau semua itu tentunya harus tetap disesuaikan dengan kondisi dan situasi daerah Kabupaten Tuban. (Juni 2011).

*) Artikel ini juga diterbitkan di Harian Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group) tanggal 17 Agustus 2011

, , , , , , ,

  1. #1 by Drs. Suwarno, MPd on Agustus 23, 2011 - 12:54 am

    Salut buat Mbak Ana Khozanah yang selalu memperhatikan bagaimana “wong cilik” bisa terberdayakan. Salah satu kiatnya adalah penyediaan lahan usaha yang tertata dengan tertib dan memperhatikan sisi artistik kota. Sekali lagi, salut buat Mbak Ana.

  2. #2 by Cinta Neysa Taranee on September 13, 2011 - 12:02 pm

    Tulisan tentang pak Jokowi tersebut 99% benar, cuma 1% yang tidak benar, nama pak jokowi bukan Joko Wiyono tapi Joko Widodo.

  3. #3 by Nur Salim on September 15, 2011 - 1:53 am

    saya mendukung mak khozanah untuk menduduki posisi bupati Tuban pada preode 2017 – 2021…. sukses untu masyarakat Tuban …..

  4. #4 by Salim Attubani on September 15, 2011 - 1:58 am

    sipplah… bagus itu ….!!!

  5. #5 by firman on Desember 16, 2011 - 12:43 am

    Jokowi adalah nama panggilan untuk ” Joko Wiyono ” segera di ralat jokowiyono dengan joko widodo. terima kasih .

  6. #6 by juwoto on Desember 17, 2011 - 9:17 pm

    mantap..

  7. #7 by rojin sabas pitaha on Maret 17, 2012 - 2:18 pm

    ini br profil pemimpin ms depan…dan,sy selalu berharap semoga gaya kepemimpinan beliau,paling tidak akan menjadi inspirasi bg pr pemimpin lainnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: