Blok Cepu dan Lokomotif Ekonomi daerah

Oleh : Khozanah Hidayati dan Ahmad Mustofa

Tiga tahun kedepan Bumi Bojonegoro dengan Blok Cepunya akan menghasilkan minyak sampai 165 ribu barel perhari (bph). Ini sama artinya setiap hari dari Bumi Bojonegoro akan menghasilkan minyak senilai Rp 132 milyar perhari dengan asumsi harga minyak US $100/barel dan nilai tukar rupiah terhadap US dolar adalah Rp 8000.

Rp 132 milyar rupiah perhari atau Rp 47,5 trilyun pertahun sungguh suatu jumlah omset yang luar biasa besarnya untuk suatu daerah kabupaten seperti Bojonegoro. Belum lagi hasil minyak dari Lapangan Sukowati yang dikelola oleh JOB PPEJ (JOB Pertamina Petrochina East Java) yang sekarang produksinya mencapai sekitar 40 ribu bph.

Namun apakah limpahan dana minyak tersebut akan bisa dinikmati masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya secara maksimal. Apakah keberadaan dana trilyunan rupiah tersebut akan bisa mempunyai efek ekonomi yang yang signifikan bagi Bojonegoro dan derah sekitarnya? Apakah mereka tidak hanya akan jadi penonton saja? Mengingat dari skema Dana Bagi Hasil (DBH) Migas berdasarkan PP no. 55 Tahun 2004 bahwa Kabupaten Bojonegoro hanya akan menerima sebesar 6,2% dari bagi hasil migas yang diterima pemerintah. Bagi hasil yang diterima pemerintah sendiri adalah sebesar 85% dari hasil produksi setelah dikurangi dengan semua biaya yang dikeluarkan oleh pihak operator baik itu biaya pengembangan (capital expenditure) maupun biaya operasi (operational expenditure) serta semua biaya pajak yang timbul.

Dan bahkan bagi daerah sekitar seperti Tuban dan Lamongan hanya akan menerima bagian sepertigapuluh delapan (sesuai jumlah Kota / kabupaten di jawa Timur) dari hasil yang diperoleh Bojonegoro. Dan bahkan Kabupaten Blora hanya akan menikmati DBH tersebut jika lapangan yang berada di daerah Blora dari Blok Cepu sudah diproduksi.

Adapaun sampai dengan semester pertama 2011 diperkirakan DBH Blok Cepu yang diterima oleh Bojonegoro sekitar Rp 140 miliar, dengan asumsi produksi 20 ribu bph. Dengan jumlah DBH tersebut, APBD Bojonegoro tahun 2011 mencapai angka Rp 1,2 triliun . Angka DBH ini akan terus naik seiring dengan pengembangan lapangan ini yang sedang terus dikembangkan menuju produksi puncak.

Pada puncak produksi yang diperkirakan dua – tiga tahun lagi, produksi minyaknya bisa mencapai 165 ribu bph. Atau hampir senilai Rp 50 trilyun setahun. Namun hasil yang melimpah tersebut hanya akan diterima Kabupaten Bojonegoro lewat skema DBH Migas sekitar angka Rp 1 triliun. Ini artinya DBH Migas yang diterima tidak sesignifikan jika dibandingkan dengan hasil produksi Blok Cepu secara keseluruhan. Akibatnya keberadaan Blok Cepu tidak akan merubah secara signifikan terhadap perekonomian Bojonegoro apalagi daerah sekitarnya.

Hal ini karena hampir semua kendali operasi yang dilakukan oleh operator Blok Cepu di lakukan di kantor mereka di Jakarta. Sehingga perputaran dana mereka yang dipergunakan untuk pengembangan Blok Cepu maupun untuk operasi pengangkatan (lifting) lainya minyak Blok Cepu sebagian besar hanya akan berputar di Jakarta, bukan di Bojonegoro maupun daerah sekitarnya. Sehingga masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya kemungkinan hanya akan menjadi penonton dari perputaran dana yang sangat besar dari Blok Cepu ini.

Biaya operasi untuk pengangakatan minyak (lifting cost) di Blok Cepu sendiri yang sebesar 165 ribu bph diperkirakan akan mencapai hampir Rp 3 trilyun sampai Rp 7 trilyun per tahun. Dengan asumsi biaya operasi pengangkatan minyak (lifting cost) adalah US$ 6/per barel (lifting cost internasional) sampai US$14,8/per barel (rerata lifting cost minyak nasional).

Dana sebesar Rp 3 trilyun sampai RP 7 trilyun pertahun tersebut tentunya secara fisik berputar untuk usaha operasi pengangkatan minyak di Blok Cepu. Namun karena kantor operasinya berada di Jakarta maka sabagian besar dana tersebut akan berputar di Jakarta, yakni akan berputar dari operator Blok Cepu yakni MCL (Mobil Cepu Limited) ke mitra kerjanya yakni para kontraktor, vendor dan suplier.

Namun seandainya dana sebesar itu berputar di Bojonegoro dan daerah sekitarnya, tentunya akan sangat menambah percepatan putaran roda – roda perekonomian daerah dan bahkan akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk itu agar hal bisa ini terlaksana maka kantor pusat operasi Blok Cepu seyogyanya berada di Kota Bojonegoro. Sehingga nantinya diharapkan perputaran dana yang besar tersebut akan dilakukan di Bojonegoro. Yakni dari operator Blok Cepu, MCL kepada mitra-mitra kerjanya yang juga berkantor di daerah Bojonegoro dan sekitarnya.

Dengan relokasi kantor pusat operasi Blok Cepu tersebut, tentunya akan diikuti secara alamiah oleh puluhan dan bahkan ratusan perusahaan skala menengah hingga besar baik itu perusahaan nasional maupun multinasional. Mereka yang terdiri dari perusahaan kontraktor, vendor dan suplier akan berbondong-bondong membuka kantor perwakilan, kantor cabang atau kantor operasi di Kota Bojonegoro. Mereka itu semua merupakan mitra kerja dari MCL (Mobil Cepu Limited) mulai dari kontraktor jasa katering hingga jasa pengeboran. Sehingga perputaran dana meraka yang dipergunakan untuk berpartisipasi dalam pengangkatan minyak dari ladang-ladang Blok Cepu akan berputar atau minimal singgah di bank – bank nasional di Kota Bojonegoro. Sehingga efek ekonominya akan bisa dinikmati masyarakat Bojonegoro baik secara langsung maupun tidak langsung.

Bisa dibayangkan efek ekonomi yang ditimbulkan oleh terealisasinya gagasan ini, tentunya Blok Cepu akan benar-benar menjadi lokomotif ekonomi daerah. Karena di samping puluhan atau ratusan perusahaan mitra MCL yang akan membuka kantor di Bojonegoro, tentunya ratusan dan bahkan ribuan karyawan yang akan dipekerjakan di Blok Cepu tersebut tentunya akan menjadikan Bojonegoro sebagai base (kota tempat tinggal), karena Kota Bojonegoro juga layak untuk dijadikan sebagai kota tempat tinggal oleh para karyawan tersebut.

Contoh daerah penghasil Migas yang operatornya berkantor dan menjalankan kendali opersinya di daerah adalah Balikpapan Kalimantan Timur. Kaltim yang terkenal sebagai propinsi penghasil gas terbesar dan pengasil minyak terbesar kedua di Indonesia, dua operator utamanya yakni Chevron dan Total E & P Indonesie menjalankan kendali operasinya untuk blok-blok di Kaltim di kota Balikpapan. Sehingga semua proses tender dan pengadaan barang dan jasa dilakukan di Balikpapan bukan di Jakarta. Sehingga puluhan dan bahkan ratusan perusahaan atau kontraktor pun berkantor di Balikpapan. Dan hal ini telah menjadikan Balikpapan mempunyai pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas rerata nasional, dan bahkan Balikpapan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di daerah Kalimantan. Contoh lain adalah kota Pekanbaru Riau dengan PT. Chevron Pasifik Indonesianya yang telah menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

Agar gagasan tersebut bisa dilakukan tentunya ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, yakni pertama mempersiapkan Kota Bojonegoro sebagai kota jasa yang bisa menunjang keberadaan ratusan perusahaan yang akan berkantor di kota tersebut. Pengadaan atau peningkatan sarana dan prasarana utama serta sarana penunjang lainya tentunya perlu benar-benar dipersiapkan secara matang agar kota Bojonegoro benar-benar bisa mewadahi kehadiran ratusan perusahaan tersebut.

Kedua, mendorong kepada operator Blok Cepu agar mereka menyetujui untuk merelokasi kantor operasi mereka di Jakarta berpindah ke Kota Bojonegoro. Mengingat belum tersedianya perangkat hukum yang bisa memaksa mereka agar melakukan relokasi kantor ke Bojonegoro.

Ketiga, semua stake holder Blok Cepu yang berkepentingan dengan terealisasinya gagasan ini harus saling berkomunikasi dan berkoordinasi untuk terus berupaya agar gagasan ini bisa diwujudkan. Misalnya meminta kepada Pemerintah Propinsi Jatim dan Pemerintah Pusat untuk bersedia mendorong opeator Blok Cepu agar sudi untuk mewujudkan gagasan ini. Bahkan kalau perlu sebagai stimulus bagi pihak MCL bahwa biaya relokasi kantor operasi Blok Cepu tersebut bisa dijadikan sebagai Cost Recovery.

Di samping memanfaatkan secara optimal keberadaan dana yang begitu besar yang dipergunakan untuk biaya pengangkatan minyak Blok Cepu sebagai lokomotif penggerak ekonomi Bojonegoro dan daerah sekitarnya. Tentunya masih ada beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan penggerak ekonomi daerah Bojonegoro dan sekitarnya dari keberadaan Blok Cepu yang gaungnya menginternasional tersebut. Hal-hal tersebut tentunya memerlukan kerjasama antar pihak agar bisa direalisasikan. Diantaranya adalah pertama, pemanfaatan gas alam dari Blok Cepu sebagai City Gas, yakni gas dari ladang Blok Cepu dijadikan sebagai gas yang didistribusikan ke masyarakat luas di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Blora dan Lamongan sebagai pengganti Elpiji. Sehingga tentu harganya bisa lebih murah dari elpiji dan hal ini akan benar-benar bisa dirasakan manfaat ekonomisnya oleh semua lapisan masyarakat. Proyek City Gas tersebut sekarang ini sedang digulirkan sebagai proyek percontohan di daerah Sidoarjo Jatim.

Kedua, pemanfaatan gas alam dari Blok Cepu untuk dipasokkan ke calon-calon sentra komplek industri di daerah Bojonegoro, Tuban dan Lamongan. Sehingga komplek-komplek industri tersebut akan mempunyai added value jika dibandingkan daerah lain di Jatim yang masih minim pasokan gas.

Ketiga, sinergi atau kerjasama Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban untuk menjaring investor yang bisa memanfaatkan gas alam maupun minyak mentah dari Blok Cepu sebagai sumber bahan baku. Kerjasama tersebut bisa berupa pabrik-pabrik petrokimia, pabrik kilang minyak dan pabrik pembuatan pupuk yang didirikan di wilayah Kabupaten Tuban yang mempunyai panjang garis pantai sampai 65 km dengan kedalaman laut yang ideal sebagai calon pelabuhan. Namun hal ini tentunya harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin keberadaanya oleh kedua kabupaten bertetangga ini.

Keempat, kerjasama Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban untuk menyediakan air (potable water) dari proses desalinasi air laut yang sangat diperlukan oleh Blok Cepu untuk proses pengangkatan minyak mereka. Kerjasama ini tentunya sangat diperlukan karena garis pantai yang terdekat dengan Blok Cepu adalah Kabupaten Tuban. Sehingga mau tidak mau ini adalah solusi paling murah.

Jika gagasan utama dan juga gagasan-gagasan pemanfaatan keberadaan Blok Cepu tersebut bisa direalisasikan, tentunya Blok Cepu akan benar-benar menjadi lokomotif ekonomi daerah. Yang keberadaanya akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara maksimal dan efek negatif yang ditimbulkan oleh Blok Cepu bisa ditekan seminimal mungkin.

*) Tulisan ini juga diterbitkan di koran Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group), 25 September 2011

, , , , , , , , , , , ,

  1. #1 by M. Supriyadi (imajiner IMARO) on Oktober 16, 2011 - 9:46 pm

    kita jangan tergiur dengan hasil dan keuntungan saja, akan tetapi kita harus memikirkan apakah dengan keuntungan yang baegitu besar dapat meminimalisir angka kemiskinan dan pengangguran di sekitarnya

  2. #2 by Salim alaydruss on Oktober 20, 2011 - 7:04 pm

    Tunggu saja tanggal mainya, kalo bojonegoro hanya jadi sapi perahan maka akan terjadi freeport jilid 2…..walau saya seorang petani tetapi sedikit banyak tidak mau di bodohi. Duit triliunan semua lari ke pusat mulai cukai tembakau, kayu jati dan migas. Bukan kemaruk atau serakah tetapi paling tidak masyarakat bojonegoro bisa menikmati walau sedikit sekalipun.

  3. #3 by angga on Desember 15, 2011 - 12:18 am

    sekarang yang pentg kita sbg pemuda hrus mulai mempersiapkan diri(mengikuti pelatihan2 atau sertifikasi yg brhbngan dg oil&gas)supaya para pemuda lokal tdk menjadi spectator d daerahnya sendiri.minta kerja tp gk bsa apa2.y bangkrut company ne……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: